Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi. ( Foto: POOL / AFP )

Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi. ( Foto: POOL / AFP )

Suu Kyi Dikenai Total 6 Dakwaan Pidana

Selasa, 13 April 2021 | 07:18 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

YANGON, investor.id – Pemimpin sipil Myanmar Aung San Suu Kyi kembali dikenai dakwaan pidana baru pada Senin (12/4) sehingga secara keseluruhan menjadi enam kasus, yakni lima dakwaan dijatuhkan di Naypyidaw dan satu di Yangon.

Kesemua dakwaan itu menjadi tuduhan paling serius yang dihadapi Suu Kyi berdasarkan undang-undang rahasia resmi Myanmar. Bahkan, rangkaian tuntutan pidana yang diterima perempuan berusia 75 tahun ini bisa membuatnya dilarang memiliki jabatan politik seumur hidup.

“Amay Suu telah didakwa lagi berdasarkan pasal 25 undang-undang pengelolaan bencana alam,” ujar pengacara Min Min Soe kepada AFP setelah sidang pengadilan di ibu kota Naypyidaw, yang menayangkan kehadiran Suu Kyi lewat tautan video.

Sementara itu, tindakan tegas junta terhadap perbedaan pendapat terus berlanjut. Menurut laporan, peraih Hadiah Nobel itu tidak terlihat di depan umum sejak ditahan pada 1 Februari dini hari, di saat militer menggulingkan pemerintahannya dan merebut kekuasaan. Selain itu, para jenderal menggunakan metode-metode yang semakin brutal untuk mencoba memadamkan gerakan protes yang berkembang melawan pemerintahan mereka.

Min Min Soe mengatakan Suu Kyi – yang menjadi tahanan rumah di Naypyidaw – tampak dalam keadaan sehat. Tetapi tidak diketahui dengan jelas apakah dia tahu soal kekacauan yang terjadi di Myanmar selama dua bulan terakhir.

Apalagi aksi-aksi protes hampir terjadi setiap hari. Tuntutan pembebasan Suu Kyi dan pemulihan demokrasi telah dibalas dengan tembakan speluru karet, peluru tajam dan bahkan granat oleh pasukan keamanan.

Menurut kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik atau Assistance Association for Political Prisoners, lebih dari 700 warga sipil meninggal dunia dalam waktu hanya 70 hari sejak kudeta. Dan ada lebih dari 3.000 telah ditangkap.

“Di Tamu, dekat perbatasan Myanmar dengan India, seorang bicah perempuan berusia enam tahun ditembak mati saat berjalan ke toko untuk membeli makanan ringan pada Senin (12/4) pagi,” tutur seorang warga kota kepada AFP.

Salah satu hari kerusuhan paling berdarah sejauh ini adalah pada Jumat (9/4), di mana lebih dari 80 pengunjuk rasa dibunuh oleh pasukan keamanan di selatan kota Bago. Para saksi mata menggambarkan melihat tumpukan mayat, yang kemudian dimuat ke truk tentara dan dibawa pergi. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan banyak dari yang terluka telah ditolak untuk mendapat perawatan medis.

Sedangkan pihak militer berkeras telah menangani secara proporsional dengan apa yang dikatakannya sebagai agitator kekerasan. Bahkan Kepala junta Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan kepada para pejabat di Yangon, bahwa mereka memastikan penguatan demokrasi. Demikian laporan media pemerintah.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN