Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Taiwan, Tsai Ing Wen berpidato selama perayaan Hari Kemerdekaan di depan Istana Kepresidenan di Taipei, pada 10 Oktober 2021. ( Foto: SAM YEH / AFP

Presiden Taiwan, Tsai Ing Wen berpidato selama perayaan Hari Kemerdekaan di depan Istana Kepresidenan di Taipei, pada 10 Oktober 2021. ( Foto: SAM YEH / AFP

Taiwan Tidak akan Tunduk pada Tiongkok

Senin, 11 Oktober 2021 | 07:00 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

TAIPEI – Presiden Tsai Ing Wen mengatakan bahwa Taiwan tidak akan tunduk pada tekanan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dan bakal mempertahankan cara hidupnya yang demokratis. Hal ini disampaikan Tsai pada Minggu (10/10), menyusul meningkatnya serbuan pesawat-pesawat tempur Tiongkok yang memasuki zona pertahanan udaranya.

Menurut laporan, 23 juta penduduk yang berada di bawah pemerintahan sendiri Taiwan telah hidup dalam ancaman invasi terus-menerus oleh Tiongkok yang otoriter. Pasalnya Negeri Tirai Bambu masih memandang pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya dan berjanji merebutnya suatu hari. Bahkan, dengan kekerasan jika diperlukan.

“Semakin banyak yang kami capai, semakin besar tekanan yang kami hadapi dari Tiongkok. Tidak ada yang bisa memaksa Taiwan mengambil jalan yang telah ditetapkan Tiongkok untuk kami,” ujar Presiden Tsai dalam pidato peringatan Hari Kemerdekaan Taiwan, yang dikutip AFP.

Dia juga menggambarkan Taiwan sebagai wilayah yang berdiri di garis pertahanan pertama demokrasi.

“Kami berharap ada pelonggaran hubungan (dengan Beijing), dan tidak akan bertindak gegabah. Tetapi sama sekali tidak boleh ada ilusi bahwa rakyat Taiwan akan tunduk pada tekanan,” kata Tsai.

Sebagai informasi, kedua belah pihak telah berada di bawah pemerintahan terpisah sejak berakhirnya Perang Sipil Tiongkok pada 1949.

Namun, ketegangan telah meningkat ke level tertinggi dalam beberapa dekade di bawah Presiden Tiongkok Xi Jinping, yang memutuskan komunikasi resmi dengan Taipei setelah Tsai terpilih lima tahun lalu, sekaligus meningkatkan tekanan ekonomi, diplomatik dan militer.

Gejolak terbaru yang sedang merebak adalah meningkatnya jumlah penerbangan pesawat-pesawat jet tempur dan pembom berkemampuan nuklir milik Tiongkok ke zona identifikasi pertahanan udara (air defence identification zone/ADIZ) Taiwan.

Tercatat, terjadi sekitar 150 serbuan mendadak ke zona itu seputar Hari Kemerdekaan Tiongkok pada 1 Oktober.

Reunifikasi Lengkap

Di sisi lain, Presiden Xi telah menjadikan Taiwan sebagai tujuan utama kepemimpinan yang tampaknya akan diperpanjang hingga masa jabatan ketiga pada 2022.

Pada Sabtu (9/10), Xi menyatakan dalam sebuah pidato bahwa “penyatuan kembali negara kita akan dan dapat direalisasikan.”

Dia mengatakan menyukai penyatuan kembali secara damai. Tetapi kata-katanya tersebut baru muncul setelah berbulan-bulan meningkatnya ancaman militer, termasuk gelombang serangan udara baru-baru ini dan latihan militer simulasi invasi ke Taiwan yang dipublikasikan secara besar-besaran.

Pada 2020 saja telah tercatat 380 serbuan mendadak. Sementara tahun ini terjadi lebih dari 600 serbuan.

Untuk ADIZ sendiri memiliki perbedaan dengan wilayah udara teritorial Taiwan. Zona ini mencakup area yang jauh lebih besar, dan tumpang tindih dengan bagian dari zona identifikasi pertahanan udara Tiongkok, bahkan mencakup beberapa wilaya daratan.

Tsai – yang telah memenangi dua pemilihan umum (pemilu) – adalah sosok yang tidak disukai oleh Tiongkok karena menganggap Taiwan sebagai negara yang sudah merdeka, bukan bagian dari satu Tiongkok.

Tetapi Tsai juga tidak dapat bergerak untuk mendeklarasikan kemerdekaan wilayahnya secara formal, mengingat hal ini sudah berulang kali diingatkan Tiongkok sebagai “garis merah” yang akan memicu invasi.

Dalam pidato pada Minggu, Tsai kembali menyampaikan seruan kepada Tiongkok supaya terlibat dalam dialog atas dasar kesetaraan. Dia pun mengatakan mendukung mempertahankan status quo saat ini antara kedua wilayah bertetangga.

Tsai juga memperingatkan, bahwa apa yang terjadi pada Taiwan bakal memiliki dampak regional dan global yang besar.

“Setiap langkah yang kita ambil akan memengaruhi arah masa depan dunia kita, dan arah masa depan dunia kita juga akan memengaruhi masa depan Taiwan itu sendiri,” katanya.

Sementara itu, hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Taiwan tidak memiliki keinginan untuk diperintah oleh Tiongkok. Sebagian besar memilih mendukung mempertahankan status quo meskipun ada sentimen nasionalis Taiwan yang berkembang, terutama di kalangan orang muda.

Tindakan keras Tiongkok di Hong Kong juga tidak dapat berbuat banyak agar penduduk Taiwan senang dengan jaminan, bahwa cara hidup masyarakat akan berlanjut di bawah pemerintahan partai komunis. Menurut Tiongkok, Hong Kong akan dijadikan model bagaimana Negeri Panda itu akan memerintah Taiwan.

“Sebagai penduduk Taiwan, saya pikir kami tidak dapat menerima (penyatuan kembali), lihat saja apa yang terjadi di Hong Kong,” tutur Hung Chen Lun, yang datang bersama dua anaknya untuk menyaksikan perayaan Hari Kemerdekaan pada Minggu, kepada AFP.

Sedangkan Chan Yun Ching, yang juga menyaksikan perayaan, mengatakan banyak penduduk Taiwan merasa tidak berdaya. “Reunifikasi sekarang bukan hal yang tepat. Tapi kami tidak dalam posisi untuk mendeklarasikan kemerdekaan, karena masyarakat internasional tidak akan mengakui kami. Percuma saja,” ungkapnya. 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN