Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Taliban Afghanistan

Taliban Afghanistan

Taliban Berjanji Terus Bertempur

Grace Eldora, Rabu, 11 September 2019 | 09:58 WIB

KABUL, investor.id - Taliban pada Selasa (10/9) berjanji untuk terus berperang melawan pasukan Amerika Serikat (AS) di Afghanistan, bahkan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan para pemberontak itu telah mati. Taliban menyatakan, pemerintah AS akan menyesal karena meninggalkan negosiasi.

Perang kata-kata antara kedua pihak meningkatkan momok kekerasan di Afghanistan, ketika Trump dan Taliban berjanji untuk melakukan perlawanan satu sama lain menyusul gagalnya pembicaraan.

"Kami memiliki dua cara untuk mengakhiri pendudukan di Afghanistan, satu adalah jihad dan pertempuran, yang lain adalah pembicaraan dan negosiasi. Jika Trump ingin menghentikan pembicaraan, kami akan mengambil jalan pertama dan mereka akan segera menyesalinya," ujar juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid kepada AFP, Selasa (10/9).

Pernyataan Taliban muncul beberapa jam setelah Trump mengatakan kepada wartawan, pemerintah AS akan meninggalkan negosiasi setelahn hampir setahun perundingan yang bertujuan membuka jalan bagi penarikan Amerika dari Afghanistan setelah 18 tahun perang. "Itu sudah mati. Sejauh yang saya ketahui, itu sudah mati," kata Trump di Gedung Putih.

Pengumuman itu menyusul pembatalan dramatis Trump atas rencana rahasia untuk menerbangkan para pemimpin Taliban secara langsung, berbicara di fasilitas kepresidenan Camp David di luar Washington.

Namun Trump memutus negosiasi, dengan mengatakan serangan militer terhadap gerilyawan berada pada tingkat paling sengit dalam satu dekade terakhir.

"Selama empat hari terakhir, kami telah memukul musuh kami, lebih keras daripada setiap saat dalam sepuluh tahun terakhir!" tulisnya lewat media sosial Twitter.

Pada Minggu (8/9), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan pihaknya telah membunuh lebih dari seribu anggota Taliban hanya dalam 10 hari terakhir. Trump dengan marah membantah efek pukulan dari perubahan mendadak pada Afghanistan telah menyebabkan kekacauan.

Hingga pekan ini, peningkatan harapan kesepakatan dapat membuat AS menarik pasukan di Afghanistan. Sebagai imbalannya, Taliban akan menawarkan jaminan keamanan untuk mengusir kelompok-kelompok ekstremis.

Namun pada Sabtu (7/9), Trump mengungkapkan dirinya telah membatalkan pertemuan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Taliban di Camp David. Dia mengatakan ini sebagai pembalasan atas pembunuhan seorang tentara AS oleh Taliban dalam ledakan bom besar di Kabul pekan lalu.

Pembatalan yang diumumkan di Twitter adalah pertama kalinya sebagian besar orang Amerika mengetahui pertemuan yang dramatis bahkan sudah direncanakan. Banyak orang terkejut dan sebagian menyampaikan nada marah atas Taliban yang akan mengunjungi presiden, menjelang peringatan 10 tahun serangan teroris.

Bantah Perselisihan

Ada juga kekhawatiran yang meluas pada gaya negosiasi yang khas dan tidak dapat diprediksi. Namun Trump membantah perselisihan di antara anggota pemerintah, termasuk dengan Wakil Presiden AS Mike Pence.

Lewat sebuah tweet, ia menuduh wartawan berusaha menciptakan kesan adanya kekacauan di Gedung Putih, yang sebenarnya tidak ada. Trump menambahkan, dirinya tidak memiliki pemikiran kedua tentang tindakannya. "Dalam hal penasihat, saya mengikuti saran saya sendiri," katanya kepada wartawan.

Adapun bagian besar dari kemenangan pilpres Trump pada 2016 dan masa jabatan pertama berikutnya adalah tekadnya agar AS keluar dari apa yang dia lihat sebagai perang yang tidak perlu di Suriah, dan sebagian besar negara-negara Muslim lainnya.

Meskipun ada kebijakan luar negeri yang sangat pro-Israel dan kehadiran pihak seperti penasihat keamanan nasional John Bolton di kabinetnya, sejauh ini Trump menolak meningkatkan kebuntuan militer dengan musuh lama AS, Iran.

Keluar dari Afghanistan adalah prioritas utama, di mana pasukan AS dinilai telah sia-sia berjuang melawan Taliban selama dua dekade terakhir. Secara luas dinilai, dorongan Trump untuk penarikan pasukan AS tepat waktu untuk upaya pemilihan ulang 2020. Trump mengulangi pada Senin (9/9), dirinya ingin pasukan AS keluar secepat mungkin dari wilayah tersebut. (afp)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN