Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo World Economic Forum (WEF) terpampang di pusat Kongres menjelang pertemuan tahunan WEF di Davos, Swiss, pada 19 Januari 2020. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Logo World Economic Forum (WEF) terpampang di pusat Kongres menjelang pertemuan tahunan WEF di Davos, Swiss, pada 19 Januari 2020. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

World Economic Forum (WEF) 2020

Tantangan Dunia Semakin Besar dan Tidak Hanya Ekonomi

Iwan Subarkah Nurdiawan, Senin, 20 Januari 2020 | 07:22 WIB

DAVOS, investor.id – Para pemimpin bisnis dan pemerintahan yang tahun ini kembali berkumpul di resor ski Davos, Swiss tidak hanya dihadapkan pada tantangan-tantangan dunia yang semakin besar. Tidak hanya tantangan ekonomi, tapi juga krisis iklim dan ketegangan geopolitik yang tetap bermunculan di beberapa belahan dunia.

World Economic Forum (WEF) tahun ini adalah gelaran yang ke-50. Dijadwalkan berlangsung 21-24 Januari 2020. Para pengamat WEF khawatir forum ini lagi-lagi hanya akan mencuatkan perbedaan antara Timur dan Barat, antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE), serta para pebisnis dan aktivis tentang bagaimana mengatasi ancaman-ancaman terbesar di awal dekade ketiga dari abad ke-21.

Para pemimpin yang hadir di Davos tahun ini akan dihadapkan pada kenyataan bahwa dunia sedang berada di titik balik lagi. Rivalitas antarkekuatan dunia semakin besar, yang dipicu pertarungan sistemik antara kubu kapitalisme negara dan kapitalisme demokratis.

Dunia juga tetap dihadapkan pada berbagai ketidakpastian tentang bagaimana teknologi-teknologi baru dan ancaman-ancaman lingkungan yang kian banyak akan mengubah wajah serta masa depan dunia. Peraturan-peraturan dan lembaga-lembaga internasional yang dimunculkan oleh AS serta para mitranya pasca-Perang Dunia II sedang melemah dan kurang berdaya untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut.

WEF 2020 berupaya membahas dan mengatasi isu-isu itu bersama para pemimpin pemerintahan dan bisnis yang dijadwalkan hadir.

Presiden AS Donald Trump dijadwalkan berbicara pada Selasa (21/1), bersamaan dengan dimulainya sidang pemakzulan atas dirinya di Senat AS. Yang ditunggu-tunggu adalah bagaimana pembahasan lebih lanjut maupun detail dari kesepakatan perdagangan fase pertama dengan Tiongkok, yang ditandatangani pekan lalu.

“Walau perang dagangnya sudah reda, tapi dua negara yang dapat menjadi penentu masa depan dunia ini akan terus tumbuh di jalur yang berbeda. Baik secara politik, ekonomi, maupun teknologi,” ujar Frederick Kempe, penulis buku dan presiden serta CEO Atlantic Council, salah satu lembaga kajian urusan global paling berpengaruh di AS, seperti dilansir AFP, Sabtu (18/1).

Delegasi Atlantic Council yang baru-baru ini berkunjung ke Tiongkok, kata dia, mendapati bahwa banyak pakar maupun pejabat Tiongkok yang menyambut baik perang dagang dan pembatasan alih teknologi dengan AS. Karena itu akan mendorong Tiongkok untuk lebih mandiri.

Papan bertuliskan World Economic Forum (WEF) ke-50 terlihat di pusat Kongres menjelang pertemuan tahunan WEF di Davos, Swiss, pada 19 Januari 2020. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )
Papan bertuliskan World Economic Forum (WEF) ke-50 terlihat di pusat Kongres menjelang pertemuan tahunan WEF di Davos, Swiss, pada 19 Januari 2020. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

“Beijing sedang meningkatkan upayanya untuk otonom secara teknologi. Untuk meningkatkan kontrol atas rantai pasokan sendiri karena dihadapkan pada risiko-risiko politik, seperti embargo lebih lanjut dari AS,” ujar Yuan Wang, dalam analisisnya di Financial Times, pekan lalu.

Delegasi Tiongkok akan dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Han Zheng. Tak pelak masalah sengketa dagang antara AS dan Tiongkok tetap menjadi pusat perhatian di Davos.

Berseberangan

Isu perubahan iklim dan konflik-konflik global juga dipastikan termasuk pokok pembahasan dan menunjukkan tingginya masalah yang dihadapi oleh dunia.

“Dalam hal perubahan iklim dan banyak konflik global, seperti konflik AS dengan Iran, para pemimpin AS dan Eropa tidak sepakat tidak hanya soal solusinya, tapi juga akar masalahnya. Saat para pemimpin UE melihat perubahan iklim sebagai tantangan eksistensi, Trump menganggapnya sebagai hoaks Tiongkok,” ujar Jeremy Shapiro, direktur riset European Council on Foreign Relations (ECFR), kepada AFP.

Dalam laporan terbaru tentang risiko global, jelang gelaran tahun ini, WEF menyinggung kegelisahan masyarakat umum atas tidak adanya stabilitas ekonomi, perubahan iklim, ketimpangan akses internet dan layanan kesehatan. Semuanya disebutkan sebagai tantangan kunci bagi kemanusiaan.

Perubahan iklim juga semakin menunjukkan diri sebagai tantangan besar bagi dunia, seperti ditunjukkan oleh kebakaran hutan yang melalap banyak wilayah di Australia di awal tahun ini.

“Dunia tidak bisa menunggu hingga kabut ketidakpastian geo-ekonomi dan geopolitik ini berlaku. Jika kesempatan yang ada ditinggalkan karena harapan dunia akan memulih sendiri, justru bakal menghilangkan kesempatan untuk mengatasi tantangan-tantangan besar itu,” kata WEF. (afp/sumber lain)

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA