Menu
Sign in
@ Contact
Search
Logo The Fed pada  Gedung Dewan Federal Reserve di Washington, DC., Amerika Serikat (AS). ( Foto: AFP )

Logo The Fed pada Gedung Dewan Federal Reserve di Washington, DC., Amerika Serikat (AS). ( Foto: AFP )

The Fed akan Agresif Lagi

Senin, 19 September 2022 | 11:03 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – The Federal Reserve (The Fed) hampir dipastikan bertindak agresif lagi dalam menaikkan suku bunga acuan pekan ini. Karena data inflasi yang dirilis pekan lalu meski menunjukkan perlambatan, tapi di bawah ekspektasi kalangan ekonom. Selain itu, inflasi inti terus naik sehingga bank sentral Amerika Serikat (AS) diperkirakan meresponsnya dengan penaikkan suku bunga yang tinggi, mungkin 75 basis poin (bps) lagi atau bisa jadi sampai 100 bps.

Lonjakan kenaikan harga-harga telah membuat laju inflasi tahunan di AS naik ke level tertinggi dalam 40 tahun. Kondisi yang serupa juga dihadapi oleh banyak negara di seluruh dunia. Lonjakan kenaikan harga-harga membuat konsumen dan juga pebisnis di AS menderita. Kendati sedikit ada kelegaan karena dalam beberapa pekan terakhir, harga bahan bakar minyak (BBM) turun.

Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) AS pada Selasa pekan lalu mengumumkan, inflasi tahunan pada Agustus 2022 melambat sedikit jadi 8,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Melambat itu dari level tertinggi 9,1% pada Juni 2022. Tapi perlambatan pada Agustus 2022 itu di bawah ekspektasi kalangan ekonom yang sebesar 8,1%.

Baca Juga: Inflasi AS Tak Sesuai Ekspektasi, Menkeu Perkirakan The Fed Makin Hawkish

Selain itu, harga-harga di AS sebenarnya naik lagi di bulan tersebut. Hal ini mencerminkan bahwa semua harga-harga naik. Harga rumah, makanan, dan biaya berobat terus naik. Jika harga energi dan pangan disisihkan, inflasi inti justru naik lebih tinggi.

Bank sentral AS masih menggenggam kabar baik karena pasar tenaga kerja AS tetap kuat. Tingkat pengangguran rendah. Dan konsumen AS juga tetap tangguh sehingga penjualan ritel tetap naik. Tapi, banyak ekonom yang sekarang memperkirakan ekonomi resesi.

Kenaikan harga-harga itu pada awalnya dipicu lonjakan permintaan, seiring bergulirnya lagi roda perekonomian karena pembatasan-pembatasan terkait Covid-19 sudah dicabut. Harga-harga makin naik karena terpengaruh kebijakan-kebijakan karantina Covid-19 di Tiongkok. Juga karena dampak perang di Ukraina.

Baca Juga:  The Fed Bisa Hentikan Agresivitas Suku Bunga dalam 3 Tahap

Lebih dari itu, bukan inflasi tinggi saat ini yang mengkhawatirkan para pengambil kebijakan di bank sentral. Tapi kecemasan bahwa konsumen maupun pebisnis akan mulai berpikiran bahwa kenaikan harga-harga ini akan menjadi hal normal ke depannya.

Kondisi ini akan memicu spiral yang membahayakan dan menimbulkan fenomena yang disebut stagflasi. Yang mana inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi melambat, dan tingkat pengangguran tetap tinggi.

Kekhawatiran itu yang mendorong The Fed untuk memacu langkah penaikan suku bunganya. Alih-alih menaikkannya secara bertahap dan dalam periode yang lebih panjang. The Fed bertindak agresif menaikkan suku bunga dengan harapan permintaan menurun, sehingga harga-harga diharapkan mengikuti.

Menuju 100 Basis Poin

The Fed sudah empat kali menaikkan fed funds rate tahun ini. Termasuk dua kali penaikan, yakni pada Juni dan Juli, sebesar 75 bps. FFR sekarang berada di kisaran 2,25% dan 2,50%.

Pada akhir pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC, 21 September 2022 waktu setempat, The Fed diperkirakan menaikkan lagi FFR sebesar 75 bps. Tapi sebagian ekonom sudah menaikkan peluang The Fed untuk melangkah lebih agresif, alias menaikkan FFR sebesar 100 bps.

Data Depnaker AS pekan lalu itu menunjukkan inflasi inti tahunan naik 6,3% pada Agustus. Ini merupakan akselerasi pertama sejak Maret 2022. Angka ini mengubur harapan para investor bahwa The Fed akan mengurangi agresivitasnya. Sebaliknya menebalkan ekspektasi penaikan 75 bps untuk ketiga kalinya.

“Inflasi inti yang sangat kuat mengisyaratkan bahwa pengetatan moneter yang agresif akan berlanjut. Dalam jangka pendek ini akan menurunkan permintaan, tapi membuat sebagian besar harga aset juga turun,” ujar Peter Chatwell, kepala strategi makro global Mizuho Internaional Plc, seperti dikutip CNBC.

Baca Juga: Inflasi Amerika Serikat Tinggi, Bagaimana Harga Emas?

Tapi kemudian berkembang kekhawatiran bahwa langkah agresif bank sentral itu akan menjatuhkan ekonomi AS ke dalam resesi. Yang bisa merembet ke seluruh dunia.

“Angka inflasi inti yang sangat tinggi untuk Agustus itu semakin menekan The Fed untuk menaikkan suku bunga satu poin persentase penuh, bukan lagi 0,75%, pada pertemuan mendatang. Itu akan menjadi salah satu keputusan kebijakan paling berat dan juga paling politis serta akan menandai langkah pertama The Fed menuju resesi,” tutur Diane Swonk, kepala ekonom KPMG AS, seperti dikutip AFP.

Gubernur The Fed Jerome Powell sudah mengatakan, ia bersedia mengambil risiko terjadinya resesi. Bahkan risiko itu harus diambil oleh bank sentral untuk mencegah terulangnya inflasi tak terkendali seperti pada 1970-an dan awal 1980-an.

Gubernur The Fed waktu itu, Paul Volcker, harus mengambil langkah-langkah luar biasa setelah kenaikan harga-harga tidak terkendali. Terus-terusan naik dan melampaui level-level puncaknya pada pertengahan 1970-an, menyusul kegagalan upaya-upaya untuk meredamnya.

Baca Juga: Janet Yellen: Risiko Resesi AS Jelas Ada

Akibatnya adalah ekonomi AS jatuh ke resesi yang dalam dan tingkat pengangguran naik di atas 10%. The Fed, kata Powell, tidak mau mengulang itu karena biaya sosialnya bakalan sangat mahal. Ia mengatakan The Fed harus mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa bank sentral sanggup mengendalikan inflasi.

Mantan menteri keuangan AS Lawrence Summers termasuk yang mengingatkan bahwa pengangguran harus naik dulu sebelum inflasi dapat dikendalikan. Ia juga mendukung The Fed untuk bertindak lebih agresif.

“Jika saya harus memilih antara 100 basis poin dan 50 basis poin pada September, Saya akan memilih 100 basis poin untuk meningkatkan kredibilitas,” kata Summers.
 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com