Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC.,  Amerika Serikat (AS) pada 1 Juli 2020. ( Foto: Daniel SLIM / AFP )

Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC., Amerika Serikat (AS) pada 1 Juli 2020. ( Foto: Daniel SLIM / AFP )

The Fed akan Buat Komitmen Naikkan Inflasi

Kamis, 6 Agustus 2020 | 07:41 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

NEW JERSEY, investor.id – The Federal Reserve (The Fed) dalam beberapa bulan ke depan akan menetapkan komitmen terhadap suku bunga rendah hingga beberapa tahun ke depan. Hal ini demi mengejar agenda tingkat inflasi yang lebih tinggi, juga memulihkan pasar ketenagakerjaan, yang merosot selama pandemi virus corona Covid-19.

Menurut laporan, inisiatif kebijakan itu diperkirakan diumumkan secepatnya pada September 2020. Pernyataan para pejabat The Fed baru-baru ini dan analisis dari veteran pasar serta ekonom mengarah ke tingkat rata-rata inflasi di atas target 2% akan ditoleransi dan bahkan diinginkan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, para pejabat berjanji tidak menaikkan suku bunga sampai inflasi dan target ketenagakerjaan tercapai. Pasalnya dengan inflasi saat ini yang mendekati 1% dan tingkat pengangguran yang lebih tinggi dibandingkan saat Depresi Besar, kemungkinannya adalah bahwa The Fed membutuhkan bertahun-tahun untuk mencapai targetnya.

Saat menanggapi isu yang mengemuka pada pekan lalu, Gubernur The Fed Jerome Powell hanya mengatakan bahwa pemeriksaan komunikasi, dan implementasi kebijakan selama setahun akan diselesaikan dalam waktu dekat.

Ada pun puncak dari proses itu, yang meliputi pertemuan publik dan diskusi ekstensif di antara para pejabat bank sentral, diprediksi diumumkan pada atau sekitar pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC).

Pasar pun mengantisipasi langkah The Fed yang akan mengadopsi pendekatan yang bahkan lebih akomodatif daripada yang dilakukannya selama Resesi Besar.

“Kami tetap berpegang teguh pada pandangan bahwa ini adalah perubahan yang sangat konsekuensial. Bahkan jika hal itu adalah salah satu yang telah meresap ke dalam pengambilan keputusan The Fed untuk beberapa waktu, yang akan membentuk fungsi reaksi The Fed yang berbeda dalam siklus ini daripada yang terakhir. Memang, Powell mengatakan, pernyataan kebijakan itu akan benar-benar menyusun cara kami siap bertindak dengan kebijakan kami. Untuk sebagian besar, kami sudah melakukan hal-hal yang ada di sana,” ujar Krishna Guha, kepala kebijakan global dan strategi bank sentral di Evercore ISI, seperti dilansir dari CNBC, Selasa (4/8) waktu setempat. 

Namun, tambah Guha, pendekatan itu akan secara tajam lebih dovish bahkan dibandingkan strategi yang diikuti oleh Janet Yellen (mantan gubernur The Fed), di mana saat itu bank sentral AS mempertahankan tingkat suku bunga mendekati nol selama enam tahun bahkan setelah berakhirnya Resesi Hebat.

Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: Eric BARADAT / AFP )
Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: Eric BARADAT / AFP )

Semua Tentang Inflasi

Salah satu implikasinya adalah, The Fed akan lebih lambat untuk mengetatkan kebijakan ketika melihat kenaikan inflasi.

Powell dan rekan-rekannya sempat mendapat kecaman pada 2018, ketika memberlakukan serangkaian kenaikan tarif yang akhirnya harus dibatalkan. Acuan tingkat suku bunga pinjaman (overnight lending rate) The Fed saat ini ditargetkan mendekati nol, di mana levelnya bergerak pada hari-hari awal pandemi.

Di sisi lain, The Fed dan bank-bank sentral global lainnya telah mencoba menaikkan inflasi selama bertahun-tahun dengan alasan, bahwa tingkat apresiasi harga yang rendah adalah sinyal sehat bagi ekonomi yang sedang tumbuh.

Namun, mereka juga khawatir bahwa laju inflasi yang rendah adalah masalah yang dirasakan sendiri, karena menjaga suku bunga rendah dan memberikan sedikit ruang gerak bagi pembuat kebijakan untuk melonggarkan kebijakan selama penurunan.

Dalam upaya terbaru untuk membuat inflasi bergerak, The Fed akan berkomitmen untuk meningkatkan panduan ke depan, atau komitmen untuk tidak menaikkan suku bunga sampai acuannya tercapai dan – dalam kasus inflasi – mungkin terlampaui.

Sementara itu, dalam beberapa hari terakhir, Presiden The Fed wilayah Dallas, Robert Kaplan dan Charles Evans dari Chicago telah memberikan beragam dukungan untuk panduan yang ditingkatkan. Evans, khususnya, mengatakan ingin mempertahankan tingkat suku bunga sampai inflasi naik sekitar 2,5%, yang mana itu adalah hal luar biasa selama sebagian besar dekade terakhir.

“Kami percaya bahwa The Fed akan secara terbuka menyambut inflasi di kisaran 2% hingga 4% yang telah lama tertunda, untuk inflasi yang berlaku di bawah 2% begitu lama di masa lalu,” tutur Ed Yardeni, kepala Yardeni Research. 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN