Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Fed Jerome Powell

Gubernur The Fed Jerome Powell

The Fed Dapat Pangkas Suku Bunga 75 Basis Poin

Iwan Subarkah Nurdiawan, Sabtu, 7 Maret 2020 | 10:03 WIB

NEW YORK, investor.id -  Para pialang kontrak berjangka pada Jumat (6/3) bertaruh The Federal Reserve (The Fed) dapat memangkas suku bunga acuan lebih agresif, pada pertemuan kebijakan 17-18 Maret 2020. Para pialang melihat kemungkinan 59% fed funds rate (FFR) dipangkas 75 basis poin pada pertemuan tersebut.

The Fed pekan ini menjalankan pemangkasan darurat suku bunga 50 basis poin. Untuk melindungi ekonomi AS dari dampak penyebaran virus korona baru ke seluruh dunia.

Suku bunga acuan The Fed sekarang berkisar 1%-1,25%. Tahun lalu, The Fed memangkas FFR tiga kali sebesar total 75 basis poin.

Presiden AS Donald Trump terus meminta The Fed lebih agresif memangkas suku bunga.

Saat menandatangani dana penanggulangan virus korona sebesar US$ 8,3 miliar, Jumat, Trump optimistis Wall Street akan bangkit.

Tapi, ujar dia, The Fed harus memangkas lagi suku bunga acuan. Komentar Trump keluar setelah Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) AS melaporkan lapangan kerja baru bulan lalu bertambah 273.000 atau sama dengan Januari 2020.

“Angka-angka lapangan kerja luar biasa. Tapi The Fed harus memangkas (suku bunga) dan The Fed harus merangsang (perekonomian),” kata Trump.

Indeks Dow Jones anjlok 3,6% pada Kamis (5/3) dan dibuka merosot 2,6% pada Jumat. Para investor khawatir bahwa penyebaran virus korona baru pada akhirnya akan menjatuhkan perekonomian AS yang dua pertiganya mengandalkan konsumsi.

Sementara kekhawatiran akan permintaan global membuat harga minyak mentah Brent untuk pertama kalinya sejak 2017 jatuh menjadi di bawah US$ 50 per barel.

Sejak muncul di Tiongkok akhir tahun lalu, virus korona COVID-19 telah menewaskan lebih dari 3.300 orang dan menginfeksi lebih dari 100.000 orang di sekitar 85 negara dan teritori.

Kalangan analis berpendapat instrumen kebijakan moneter seperti suku bunga tidak akan banyak membantu ekonomi global mengatasi dampak penyebaran COVID-19.

“Jadi pasar finansial beranggapan bilamana ekonomi global jatuh, bank sentral bergerak cepat menyelamatkan dengan agresif memangkas suku bunga. Pasar berharap sama terkait COVID-19 walau dampak terhadap penurunan ekonominya berbeda,” ujar para analis Nomura, Kamis (5/3).

Chris Rupkey, kepala ekonom finansial MUFG Union Bank mengatakan, suku bunga sudah sangat rendah sehingga bila dipangkas lagi tidak akan efektif untuk merangsang belanja serta investasi. (sumber lain/afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN