Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

The Fed: Pertumbuhan Ekonomi AS Melambat

Kamis, 21 Oktober 2021 | 20:57 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - Kemacetan pasokan dan kekurangan tenaga kerja telah memperlambat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan berkontribusi pada kenaikan tajam harga-harga, menurut pernyataan Federal Reserve (The Fed).

Kendala dan kekurangan pasokan barang menyebabkan harga yang meningkat secara signifikan di sebagian besar wilayah AS.

Pernyataan ini disampaikan dalam laporan "beige book" tentang kondisi ekonomi, yakni buku berwarna krem yang mencatat meningkatnya ketidakpastian tentang prospek. Laporan tersebut diterbitkan delapan kali setahun oleh bank sentral tersebut.

Sementara aktivitas ekonomi meningkat pada tingkat sedang hingga moderat selama beberapa minggu terakhir, di sebagian besar negara laju pertumbuhan melambat. "Dibatasi oleh gangguan rantai pasokan, kekurangan tenaga kerja, dan ketidakpastian di sekitar (penyebaran) varian Delta Covid-19," kata laporan itu, Kamis (21/10).

Analisis tersebut dibuat berdasarkan diskusi dengan kontak bisnis dan komunitas di 12 wilayah bank sentral, disiapkan sebelum pertemuan kebijakan The Fed berikutnya pada 2-3 November 2021.

Pihaknya kembali melaporkan pemulihan pandemi AS yang mulai kehilangan tenaga. Meski demikian, pejabat The Fed diperkirakan akan mengumumkan rencana untuk mulai menarik kembali langkah-langkah stimulus di tengah kekhawatiran tentang kenaikan inflasi.

Gubernur The Fed Jerome Powell telah mengatakan untuk beberapa waktu, bahwa lonjakan harga diperkirakan bersifat sementara dan akan kembali saat gangguan terkait pandemi teratasi. Tetapi para ekonom semakin memperingatkan bahwa ini bisa menjadi masalah yang berlangsung lama.

Sejumlah pihak memperkirakan bank sentral menaikkan suku bunga pinjaman acuan dari nol hingga paling cepat akhir tahun depan. Sementara itu, para pembuat kebijakan pada akhir November atau Desember tahun ini diperkirakan akan memperlambat pembelian obligasi bulanan besar-besaran, yang mulai dilaksanakan pada awal pandemi tahun lalu untuk mendukung perekonomian.

Upah Naik

The Fed tengah menyeimbangkan kebijakannya untuk memastikan pertumbuhan ekonomi terus mendukung pertambahan pekerjaan baru, sementara juga menjaga inflasi yang diharapkan kembali ke target 2%. Adapun tingkat inflasi saat ini telah mendekati dua kali lipat dari yang diharapkan.

 

Pembatasan pandemi menyebabkan kelangkaan beberapa barang, seperti semikonduktor serta backlog dalam transportasi, tetapi kekurangan pekerja adalah dampak yang paling tak terduga.

 

Itu menambah tantangan pasokan dan memberi tekanan pada perusahaan untuk menaikkan upah agar menarik pekerja, atau merebut mereka dari perusahaan pesaing.

Dalam laporannya, The Fed mengutip tingkat pergantian tinggi. "Masalah perawatan anak dan mandat vaksin banyak dikutip sebagai penyebab masalah, bersama dengan ketidakhadiran terkait Covid-19," tulisnya.

The Fed mengatakan para pengusaha telah menanggapinya dengan menaikkan upah untuk pekerja baru dan yang sudah ada. Selain itu banyak juga perusahaan yang menawarkan bonus penandatanganan dan retensi, jadwal kerja yang fleksibel, atau peningkatan waktu liburan sehingga memberi insentif pekerja untuk tetap pada posisinya.

Tunjangan pengangguran pandemi khusus disalahkan oleh beberapa pihak karena membuat pekerja tetap di rumah, meskipun telah berakhir pada awal September 2021. Namun stimulis ini pun dinilai oleh Fed Cleveland tidak membantu meringankan krisis perekrutan pekerja.

"Berakhirnya tunjangan asuransi pengangguran tambahan dan aktivitas kembali ke sekolah tidak banyak membantu mengurangi kekurangan pekerja, sementara upah terus meningkat," katanya.

Laporan The Fed muncul setelah puluhan ribu perawat, pekerja pabrik, dan buruh lainnya mulai berdemonstrasi atau mengancam pemogokan di seluruh AS bulan ini. Para pekerja mengeluhkan jam kerja yang panjang, upah rendah, dan kondisi kerja tidak aman.

Dalam sebuah wawancara televisi Rabu (20/10) pagi, Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan para pengusaha terutama di sektor jasa mungkin harus menaikkan upah karena ekonomi menyesuaikan dengan kekurangan tenaga kerja. Tetapi itu, menurutnya, akan menjadi hal baik untuk pekerja.

“Ini adalah sesuatu yang ingin kami capai sejak lama,” kata Yellen.

The Fed mengatakan bahwa sentimen tentang prospek ekonomi jangka pendek tetap positif secara keseluruhan. Tetapi beberapa daerah telah melaporkan peningkatan ketidakpastian.

 

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN