Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC.,  Amerika Serikat (AS) pada 17 Juni 2020. ( Foto: OLIVIER DOULIERY / AFP )

Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC., Amerika Serikat (AS) pada 17 Juni 2020. ( Foto: OLIVIER DOULIERY / AFP )

The Fed Tetap Mencermati Kenaikan Harga-harga

Kamis, 17 Juni 2021 | 05:36 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - The Fed diperkirakan tidak mengumumkan perubahan apa pun ketika mengakhiri pertemuan kebijakan dua hari pada Rabu (16/6) waktu setempat. Tetapi dapat menawarkan jaminan bahwa bank sentral akan terus mengawasi kenaikan harga-harga.

Para bankir sentral Amerika Serikat (AS) telah menjelaskan sebelumnya bahwa tidak akan mengubah kebijakan moneter sampai melihat tanda-tanda bahwa lapangan kerja dan inflasi telah pulih dari dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 terhadap perekonomian AS.

Tetapi pertanda itu mungkin muncul lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Di tengah pesatnya pembukaan kembali ekonomi. Yang didorong oleh vaksinasi meluas dan bantuan pemerintah dalam jumlah besar.

Pasar saham sebagian besar terkoreksi di Asia pada perdagangan Rabu (16/6). Data terbaru inflasi menimbulkan kekhawatiran investor, tepat ketika The Fed memulai pertemuan kebijakan.

Investor tetap bersikap hati-hati menjelang pertemuan pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS). Sementara The Fed tengah mendiskusikan rencana untuk kebijakan longgar dalam menghadapi pemulihan ekonomi dari keruntuhan akibat virus corona tahun lalu.

Sumbangan The Fed dan pengeluaran pemerintah yang besar telah menjadi kunci untuk memacu rebound dan lebih dari satu tahun reli ekuitas. Ditambah dengan peluncuran vaksin dan pelonggaran tindakan pembatasan.

Tetapi ada kekhawatiran bahwa dukungan tersebut, termasuk pembelian obligasi Fed yang besar dan rekor suku bunga rendah, akan terbukti menjadi pedang bermata dua. Pasalnya, ada kemungkinan harga melonjak dan ekonomi terlalu panas, yang menyebabkan kenaikan tajam dalam biaya pinjaman.

Para pejabat bank sentral AS secara konsisten berusaha untuk meyakinkan pasar bahwa lonjakan inflasi, yang telah diperkirakan, akan berlangsung sementara. Selain itu, kebijakan moneter akan tetap akomodatif selama perekonomian membutuhkannya.

Namun investor tetap skeptis, terutama setelah kumpulan data AS terbaru, yang menunjukkan indeks harga produsen (IHP) mencapai 6,6% pada Mei, di atas perkiraan dan di level tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2010.

Hal ini memicu kekhawatiran kenaikan terjadi menyeluruh. Penjualan ritel turun lebih dari perkiraan, menunjuk pemulihan yang akan terhambat. Data IHP pada Selasa (15/6) itu muncul hanya beberapa hari setelah indeks harga konsumen (IHK) mencapai level tertinggi 13 tahun.

The Fed memangkas suku bunga pinjaman acuan menjadi nol pada Maret 2020 dan telah membeli US$ 120 miliar per bulan dalam bentuk obligasi untuk menyediakan likuiditas guna mendukung perekonomian.

Tetapi kenaikan harga telah memicu kekhawatiran bahwa pembuat kebijakan harus menarik kembali stimulus itu lebih awal atau lebih cepat dari yang diperkirakan. Ini kemudian dapat mengerem rebound ekonomi, yang akan merusak agenda kebijakan Presiden AS Joe Biden.

Angka pengangguran AS telah turun, tetapi tetap di angka 5,8% pada Mei. Sementara harga konsumen dan produsen melonjak, masing-masing menjadi 5,0% dan 6,6%.

Gubernur The Fed Jerome Powell telah menyampaikan pesan bahwa lonjakan harga sebagian besar bersifat sementara. Namun demikian, beberapa ekonom dan analis telah membunyikan alarm waspada.

"Jika kebijakan moneter The Fed benar-benar bergantung pada data, seperti yang dikatakan The Fed, ia akan mengakui bahwa risiko kenaikan inflasi yang terus-menerus telah meningkat. Dan jalur kebijakan yang bijaksana adalah bergerak untuk mengumumkan bahwa pihaknya akan mulai mengurangi atau taper pembelian aset," kata Mickey Levy dari Berenberg Capital Markets, Rabu, yang dikutip AFP.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN