Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi tampilan layar layanan mesin pencari asal Tiongkok, Baidu. ( Foto: wpic.co )

Ilustrasi tampilan layar layanan mesin pencari asal Tiongkok, Baidu. ( Foto: wpic.co )

Tidak Laporkan Kesepakatan, Perusahaan Teknologi Tiongkok Didenda

Senin, 22 November 2021 | 06:13 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id – Regulator pasar Tiongkok mengatakan telah mendenda sejumlah perusahaan, termasuk Alibaba, Baidu, dan JD.com. Perusahaan-perusahaan ini dinilai gagal mendeklarasikan 43 kesepakatan pada 2012 kepada pihak berwenang, yang merupakan pelanggaran dalam undang-undang (UU) anti-monopoli.

Perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam kasus tersebut bakal didenda masing-masing 500.000 yuan (US$ 78.000), yang merupakan denda maksimum di bawah Undang-Undang Anti-Monopoli Tiongkok pada 2008.

Perusahaan lain yang didenda termasuk e-tailers JD.com Inc., dan Suning Ltd., serta mesin pencari Baidu Inc. Hingga berita ini diturunkan, baik Alibaba, Baidu, JD.com, dan Geely belum memberi komentarnya. Demikian dilansir CNBC.

Sebagai informasi, Pemerintah Tiongkok telah memperketat cengkeramannya terhadap platform-platform internet dan membalikkan pendekatan laissez-faire atau pembiaran, serta menunjukkan risiko penyalahgunaan kekuatan pasar untuk melumpuhkan persaingan, penyalahgunaan data konsumen, dan pelanggaran hak konsumen.

Ada pun kesepakatan paling awal yang tercatat berupa aksi akuisisi 2012 yang melibatkan Baidu dan salah satu mitranya. Sementara itu, kasus paling terbaru adalah perjanjian pada2021 antara Baidu dan produsen mobil Tiongkok, Zhejiang Geely Holdings untuk membuat perusahaan kendaraan berbahan bakar energi baru.

Kesepakatan-kesepakatan lain yang dicatat oleh Administrasi Negara Pengawasan Pasar (State Administration of Market Supervision), termasuk akuisisi Alibaba pada 2014 terhadap perusahaan pemetaan dan navigasi digital Tiongkok, AutoNavi. Regulator juga mencatat pembelian 44% saham Ele.me pada 2018 untuk menjadi pemegang saham terbesar dalam layanan pengiriman makanan.

Namun menurut regulator, kesepakatan-kesepakatan tersebut tidak memiliki efek menghilangkan atau membatasi persaingan.

Sejak akhir 2020, Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa telah menindak aksi monopoli teknologi dan masalah-masalah, seperti keamanan data lewat tindakan tegas terhadap sektor teknologi yang menguntungkan negara itu.

Negara satu partai tersebut khawatir dengan perusahaan-perusahaan yang mendapatkan terlalu banyak kekuatan. Alhasil, pemerintah mendesak perusahaan untuk tidak menggunakan dominasi mereka dengan tujuan menipu konsumen atau memeras perusahaan baru.

Pada Desember 2020, pemerintah telah mendenda Alibaba, China Literature yang didukung Tencent, dan Shenzhen Hive Box masing-masing sebesar 500.000 yuan. Alasannya karena tidak melaporkan dengan benar kesepakatan yang sudah lama terjadi untuk dilakukan tinjauan antimonopoli. Ini adalah pertama kalinya pemerintah menerapkan denda bagi perusahaan-perusahan tersebut, di bawah undang-undang.

Awal tahun ini, Alibaba – situs e-commerce terbesar di dunia berdasarkan volume penjualan – dikenai denda US$ 2,8 miliar atas praktik-praktik yang menurut regulator, telah menekan persaingan. Bulan lalu, platform pengiriman makanan Meituan juga didenda US$ 534 juta.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN