Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Nancy Pelosi (kiri) dan Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer menandatangani Undang-Undang Rencana Penyelamatan Amerika setelah DPR setuju mevisi undang-undang terakhir dari bantuan Covid-19 senilai US$ 1,9 triliun yang direncanakan, di gedung Capitol, Washington, DC,M Amerika Serikat (AS), pada 10 Maret 2021. ( Foto: OLIVIER DOULIERY / AFP )

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Nancy Pelosi (kiri) dan Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer menandatangani Undang-Undang Rencana Penyelamatan Amerika setelah DPR setuju mevisi undang-undang terakhir dari bantuan Covid-19 senilai US$ 1,9 triliun yang direncanakan, di gedung Capitol, Washington, DC,M Amerika Serikat (AS), pada 10 Maret 2021. ( Foto: OLIVIER DOULIERY / AFP )

Tiongkok Mempertanyakan RUU Riset AS

Kamis, 10 Juni 2021 | 06:42 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id – Pemerintah Tiongkok pada Rabu (9/6) menuduh Amerika Serikat (AS) delusi paranoid setelah Senat AS secara aklamasi mengesahkan rancangan undang-undang (RUU) kebijakan industri. RUU tersebut dianggap bertujuan untuk melawan ancaman ekonomi yang semakin besar dari Tiongkok.

Dua kubu politik di AS, Republik dan Demokrat, menyisihkan perbedaan dan sepakat untuk mendukung kucuran dana dengan nilai lebih dari US$ 170 miliar untuk kepentingan penelitian dan pengembangan atau R&D. Ini menjadi salah satu pencapaian paling signifikan di Kongres sejak pemerintahan Presiden Joe Biden dimulai pada Januari 2021.

Menurut Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer, Undang-Undang Inovasi dan Persaingan Amerika Serikat menjadi investasi terbesar dalam penelitian ilmiah dan inovasi teknologi dalam beberapa generasi terakhir.

“Kami berada dalam kompetisi untuk memenangkan abad ke-21 dan senjata awal telah ditembakkan. Karena negara lain terus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan mereka sendiri, kami tidak dapat mengambil risiko jatuh di belakang,” kata Biden, belum lama ini.

RUU itu dipandang penting bagi upaya pemerintah AS untuk menghindari manuver yang dilakukan oleh Tiongkok. Pada saat kedua negara bersaing dalam perlombaan inovasi teknologi.

Komite urusan luar negeri legislatif tinggi Tiongkok menyebut RUU itu sebagai upaya untuk ikut campur dalam urusan internal negara. RUU di AS itu disebut penuh dengan mentalitas Perang Dingin dan prasangka ideologis.

"(Dan merampasnya dari) hak yang sah untuk pembangunan melalui teknologi dan pemisahan ekonomi," RUU tersebut menunjukkan bahwa delusi paranoid egoisme telah mendistorsi niat awal inovasi dan kompetisi," kata Komite Urusan Luar Negeri Kongres Rakyat Nasional, menurut laporan kantor berita Xinhua, Rabu (9/6), yang dikutip AFP.

Pemimpin Inovasi

Paket UU tersebut akan membantu industri AS meningkatkan kapasitasnya dan meningkatkan teknologi. Ketentuan utama itu juga membahas kekurangan produk semikonduktor yang telah memperlambat produksi mobil AS tahun ini. RUU itu sekarang menuju ke Dewan Perwakilan AS.

"Hari ini, Senat mengambil langkah bipartisan kritis untuk membuat investasi yang kita butuhkan untuk melanjutkan warisan Amerika sebagai pemimpin global dalam inovasi," kata Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo dalam sebuah pernyataan.

Menurut dia, pendanaan ini bukan hanya tentang mengatasi kekurangan chip semikonduktor saat ini. Tetapi juga tentang investasi jangka panjang.

Schumer menyebut besarnya dana itu salah satu hal terpenting yang telah dilakukan kamar dagang itu dalam waktu yang sangat lama. Itu menjadi pernyataan keyakinan pada kemampuan Amerika untuk merebut peluang di abad ke-21.

Usulan tersebut bertujuan untuk mengatasi sejumlah bidang teknologi, di mana Amerika Serikat telah tertinggal dari pesaingnya Tiongkok.

RUU tersebut mengalokasikan US$ 52 miliar dalam pendanaan untuk rencana yang sebelumnya disetujui, sehingga dapat meningkatkan manufaktur semikonduktor domestik.

RUU ini juga memberi wewenang US$ 120 miliar selama lima tahun untuk kegiatan di Yayasan Sains Nasional (NSF) AS untuk mengedepankan prioritas, termasuk penelitian dan pengembangan di bidang utama seperti kecerdasan buatan (AI) dan sains kuantum. Hal itu memfasilitasi ikatan antara perusahaan swasta dan universitas penelitian.

"Ini adalah kesempatan bagi Amerika Serikat untuk menyerang atas nama menjawab persaingan tidak sehat yang kita lihat dari komunis Tiongkok," ujar Senator Republik Roger Wicker sebagai salah satu pendukung utama.

Negara mana pun yang memanfaatkan teknologi terbaik seperti AI, robotika, dan komputasi kuantum akan dapat membentuk inovasi pada citranya, tambah Schumer, sebelum mengkritik Presiden Tiongkok Xi Jinping.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN