Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang wanita mencicipi anggur merah dari Australia pada pameran Pangan dan Produk Pertanian di China International Import Expo (CIIE) Ke-3 di Shanghai, Tiongkok, pada 5 November 2020. ( Foto: STR / AFP )

Seorang wanita mencicipi anggur merah dari Australia pada pameran Pangan dan Produk Pertanian di China International Import Expo (CIIE) Ke-3 di Shanghai, Tiongkok, pada 5 November 2020. ( Foto: STR / AFP )

Tiongkok Tangguhkan Kesepakatan Ekonomi dengan Australia

Jumat, 7 Mei 2021 | 06:24 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id – Pemerintah Tiongkok pada Kamis (6/5) menyatakan telah menangguhkan perjanjian ekonomi dengan Australia. Keputusan ini menjadi respons atas pembatalan proyek infrastruktur dalam Belt and Road Initiative oleh Australia.

Pemerintah Australia juga pekan ini menyatakan akan mengkaji ulang dan atau membatalkan kesepakatan penyewaan Pelabuhan Darwin selama 99 tahun kepada sebuah perusahaan Tiongkok.

Pengumuman itu memicu kemarahan dari Pemerintah Tiongkok, yang mengingatkan akan sangat membahayakan hubungan yang sudah retak.

Pemerintah Tiongkok segera memutuskan saluran untuk pembicaraan diplomatik dan perdagangan dengan Australia. Kedua negara sudah bersitegang atas berbagai masalah, termasuk hak asasi manusia (HAM), spionase, dan asal muasal Covid-19.

Ketegangan itu telah meningkat sejak pemerintah Australia tahun lalu menyerukan penyelidikan independen ke wilayah tersebut terkait asal pandemi virus corona. Pihaknya juga melarang raksasa telekomunikasi Huawei membangun jaringan 5G di Australia.

Tiongkok, mitra dagang terbesar Australia, telah memberlakukan tarif atau mengganggu belasan industri utama, termasuk anggur, barley dan batu bara, yang menghancurkan ekspor.

Rentetan terakhir adalah penarikan kesepakatan Dialog Ekonomi Strategis Tiongkok-Australia berdasarkan sikap saat ini dari pemerintah Australia. Hal ini disampaikan Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) Tiongkok dalam sebuah pernyataan, Kamis. Pihaknya menyalahkan beberapa pejabat atas pola pikir Perang Dingin dan diskriminasi ideologis.

"Pemerintah Tiongkok akan tanpa batas waktu menangguhkan semua kegiatan di bawah kerangka perjanjian," bunyi pernyataan yang disampaikan pada Kamis (6/5).

Pemerintah Australia menyebut keputusan itu mengecewakan. Menteri Perdagangan Australia Dan Tehan mengatakan, dialog telah menyediakan forum penting bagi kedua negara, meskipun ia menambahkan tidak ada pembicaraan seperti itu yang dilakukan sejak 2017.

Tidak segera jelas apakah perselisihan itu akan berdampak pada perjanjian perdagangan bebas antara keduanya yang mulai berlaku pada 2015.

Pemerintah Australia sebelumnya telah menggambarkan kesepakatan itu sebagai salah satu pertemuan ekonomi bilateral utama dengan Tiongkok. Rencana tersebut dirancang untuk meningkatkan perdagangan antara kedua belah pihak dan memperkenalkan investor besar Tiongkok.

Keduanya menyebut pertemuan pertama 2014 sebagai kesempatan untuk hubungan ekonomi yang lebih erat, tetapi sejak itu hubungan dua negara tenggelam ke dalam pembekuan.

Bulan lalu, pemerintah Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison membatalkan kesepakatan Belt and Road antara Tiongkok dengan negara bagian Victoria. Kesepakatan ini sebelumnya merupakan bagian dari prakarsa infrastruktur besar-besaran Tiongkok di seluruh Asia dan dunia.

Lebih lanjut, pemerintah Australia pekan ini mengatakan kontrak sewa 99 tahun oleh perusahaan Tiongkok terhadap Pelabuhan Darwin juga dalam peninjauan dan dapat dibatalkan.

Darwin adalah pelabuhan terpenting di pantai utara Australia, terdekat dengan Asia dan pangkalan bagi Marinir Amerika Serikat (AS) yang bergantian masuk dan keluar negara.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN