Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Perdana Menteri Liu He. Foto: voaindonesia.com

Wakil Perdana Menteri Liu He. Foto: voaindonesia.com

Tiongkok Tekan AS untuk Batalkan Kebijakan Tarif

Senin, 11 Oktober 2021 | 06:08 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Pemerintah Tiongkok pada Sabtu (9/10) menekan Amerika Serikat (AS) untuk membatalkan kebijakan tarif. Hal ini disampaikan dalam pembicaraan antara para pejabat tinggi perdagangan, yang dilihat AS sebagai ujian keterlibatan bilateral antara dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Pembicaraan virtual antara Perwakilan Dagang AS (USTR), Katherine Tai dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Liu He tersebut dilakukan setelah Tai menyampaikan pada Senin (4/10) bakal mengupayakan pembicaraan secara terbuka, dan menahan Tiongkok untuk berkomitmen pada kesepakatan perdagangan Fase 1 yang dinegosiasikan oleh mantan presiden Donald Trump.

“Pihak Tiongkok merundingkan pembatalan tarif dan sanksi, serta mengklarifikasi posisinya pada model pembangunan ekonomi dan kebijakan industri Tiongkok,” lapor kantor berita Tiongkok, Xinhua setelah pembicaraan yang diadakan pada Jumat (8/10) waktu Washington, yang dilansir Reuters.

Seorang pejabat dari Perwakilan Dagang AS mengungkap, bahwa Tai bermaksud memanfaatkan seruan yang kedua kalinya di antara dua negara, guna menguji apakah keterlibatan bilateral dapat mengatasi keluhan AS tentang praktik perdagangan dan subsidi Tiongkok.

“Tai dan Wakil Perdana Menteri Liu meninjau implementasi Perjanjian Ekonomi dan Perdagangan AS-Tiongkok, dan sepakat bahwa kedua belah pihak akan berkonsultasi mengenai isu-isu tertentu yang luar biasa,” demikian pernyataan dari Perwakilan Dagang AS.

Laporan Xinhua menyebutkan, kedua belah pihak telah menyatakan kekhawatiran inti mereka, dan sepakat untuk menyelesaikan masalah satu sama lain secara masuk akal melalui konsultasi.

“Kedua belah pihak sepakat untuk terus berkomunikasi dengan pendekatan yang setara dan saling menghormati, serta menciptakan kondisi bagi perkembangan hubungan ekonomi dan perdagangan yang sehat antara kedua negara, dan pemulihan ekonomi dunia,” katanya.

Pendekatan Otoriter

Menurut pejabat senior Perwakilan Dagang AS, Tai akan memberi Liu soal penilaian kinerja Tiongkok dalam mengimplementasikan kesepakatan Fase 1. Ini termasuk janji pembelian barang-barang AS yang tidak mencapai target.

Saat ditanya soal kekurangan pembelian barang-barang, Duta Besar Tiongkok untuk AS, Qin Gang mengungkapkan dalam wawancara kepada kantor berita Phoenix TV Tiongkok pada Jumat (8/10), bahwa Tiongkok selalu menepati janjinya dalam hubungan antar negara. Demikian ringkasan yang dirilis kedutaan besar pada Sabtu.

Qin menambahkan, Tiongkok telah dengan tulus dan mantap menerapkan perjanjian itu meskipun ada tantangan serius dari pandemi virus corona Covid-19, termasuk langkah-langkah nyata atas perlindungan hak kekayaan intelektual dan pembukaan sektor keuangan.

Sebaliknya, ia menuding AS karena pada saat yang sama memberlakukan hambatan dan pembatasan terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok di Negeri Paman Sam.

Sedangkan pejabat AS itu menuturkan bahwa Tai akan meningkatkan kekhawatiran mengenai praktik ekonomi non-pasar Tiongkok.

“Kami menyadari Tiongkok semakin eksplisit. Mereka melipatgandakan pendekatan otoriter negara-sentrisnya dan menolak mengatasi masalah struktural kami,” ujar pejabat itu.

Pejabat tersebut menambahkan, akibat dari pendekatan otoriter maka AS akan fokus pada peningkatan daya saing AS, diversifikasi pasar dan membatasi dampak dari praktik berbahaya Tiingkok.

Sebagai informasi, kesepakatan Fase 1 yang dicapai pada Januari 2021 bertujuan meredakan perang tarif yang berlangsung lama antara dua negara adidaya. Kesepakatan ini sebagian besar berfokus pada janji-janji Tiongkok untuk meningkatkan pembelian pertanian dan barang-barang manufaktur, energi serta jasa AS senilai US$ 200 miliar selama dua tahun, juga peningkatan perlindungan untuk hak cipta, merek dagang, dan bentuk kekayaan intelektual lainnya.

Saat itu, pemerintahan Trump membayangkan bakal disusul dengan negosiasi Fase 2 guna mengatasi masalah-masalah yang lebih sulit, seperti subsidi untuk perusahaan negara dan strategi kebijakan industri Tiongkok.

Menurut pejabat terkait, keterlibatan Tai di masa depan dengan Tiongkok akan mengandalkan bagaimana Tiongkok merespons permintaan pada malam ini. Ia menolak membahas kemungkinan langkah selanjutnya, tetapi menambahkan bahwa Tai tidak akan mengupayakan negosiasi Fase 2.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN