Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST

AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST

Tiongkok Tuntut AS Batalkan Penjualan Senjata ke Taiwan

Rabu, 10 Juli 2019 | 10:14 WIB

BEIJING, investor.id – Pemerintah Tiongkok menuntut pemerintah Amerika Serikat (AS) segera membatalkan potensi penjualan senjata senilai US$ 2,2 miliar kepada pemerintah Taiwan. Termasuk tank tempur dan rudal anti-pesawat.

Penjualan produk militer tersebut yang pertama dengan nilai sebesar itu ke Taiwan. Namun terjadi ketika hubungan antara pemerintah AS dan pemerintah Tiongkok dalam ketegangan akibat perang dagang.

Pemerintah Tiongkok telah mengajukan pengaduan resmi melalui saluran diplomatik. Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Tiongkok Geng Shuang menyatakan ketidakpuasan berat dan penolakan tegas terhadap langkah tersebut.

Kesepakatan itu mencakup penjualan 108 tank M1A2T Abrams, 250 rudal anti-pesawat portabel Stinger, serta peralatan dan dukungan terkait. Perkiraan biaya peralatan tersebut mencapai lebih dari US$ 2,2 miliar, menurut Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan AS (DSCA).

Perwakilan DSCA mengatakan, rencana penjualan tersebut akan berkontribusi pada modernisasi armada tank tempur utama penerima dan meningkatkan sistem pertahanan udaranya. Sekaligus mendukung kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika dengan membantu meningkatkan keamanan dan kemampuan per tahanan dari pemerintah Taiwan.

Badan tersebut menambahkan, hal istu tidak akan mengubah keseimbangan militer dasar di kawasan tersebut. Selain itu, Kongres telah diberitahukan, anggota parlemen AS memiliki 30 hari untuk menolak penjualan tetapi tidak mungkin melakukannya.

Di sisi lain Geng mengatakan, kesepakatan yang diusulkan tersebut secara serius melanggar prinsip Satu Tiongkok dan sangat mengganggu dalam ur usan inter nal negara itu.

“Tiongkok mendesak AS untuk segera membatalkan penjualan senjata yang direncanakan dan menghentikan hubungan militer dengan otoritas Taiwan. Untuk menghindari kerusakan hubungan Tiongkok-AS dan merusak perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan,” katanya.

Taiwan memerintah sendiri dan secara terpisah dari Tiongkok, sejak berakhirnya perang saudara pada 1949. Tetapi pemerintah Tiongkok menganggapnya sebagai bagian dari wilayahnya yang akan diambil kembali, dengan kekerasan jika perlu.

Saat ini, pemerintah Tiongkok secara signifikan telah meningkatkan tekanan diplomatik dan militer terhadap otoritas Taipei sejak pemilihan Presiden Tsai Ing-wen pada 2016. Partai Progresif Demokratik pimpinan Tsai menolak untuk mengakui pulau itu adalah bagian dari Satu Tiongkok. Negeri Tirai Bambu telah melakukan latihan militer di dekat pulau itu dan terus mengurangi jumlah negara yang sudah mengakui Taiwan. (afp/eld) 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA