Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. ( Foto: JIM WATSON / AFP )

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. ( Foto: JIM WATSON / AFP )

Trump Usulkan Penundaan Pilpres

Sabtu, 1 Agustus 2020 | 06:41 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengusulkan penundaan pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) 2020 – terlepas hasil-hasil jajak pendapat menunjukkan ia tertinggal dari pesaingnya Joe Biden. Namun, usulan yang disampaikannya pada Kamis (30/7) waktu setempat itu menuai kritik lintas partai dan nyaris tidak ada peluang untuk dikabulkan.

Selain itu, Trump yang dari Partai Republik dan akan berhadapan dengan Biden dari Demokrat pada 3 November 2020, tidak memiliki kewenangan konstitusional untuk mengubah tanggal, yang telah ditetapkan oleh undang-undang.

Gagasan yang kembali diusulkan Trump pun dipatahkan oleh aturan kepresidenan, sehingga menambah ketegangan di negara yang tengah dirusak oleh pandemi virus corona Covid-19, dan dipicu oleh politik partisan yang sengit.

Ada pun alasan Trump untuk menunda pelaksanaan pilpres, disebabkan oleh penggunaan besar-besaran dari pemungutan suara melalui surat sebagai cara untuk melindungi pemilih selama pandemi akan menyebabkan penipuan massal. Tetapi klaimnya itu tidak didukung oleh bukti-bukti yang kuat.

“Pemungutan suara melalui surat akan menjadikannya Pemilu yang paling tidak akurat dan curang dalam sejarah. Ini akan sangat memalukan bagi AS. Tunda Pemilu sampai orang dapat memilih dengan benar, aman dan aman ???”demikian cuit Trump di akun Twitter, seperti dilansir dari AFP.

Saat menggelar konferensi pers, Trump kembali berusaha meragukan seluruh proses pemilu.

“Apakah saya ingin melihat perubahan tanggal? Tidak. Tetapi saya tidak ingin melihat pemilu yang tidak jujur. Pemilu ini akan menjadi pemilu paling curang dalam sejarah, jika itu terjadi,” ujarnya.

Trump meluncurkan cuitan tersebut di akun Twitter selang beberapa detik setelah data Kuartal II-2020 menunjukkan keruntuhan ekonomi tahunan 32,9% dibandingkan dengan Kuartal I, dan turun 9,5% dibandingkan periode April-Juni yang sama pada tahun lalu.

Kerugian ekonomi dan pengangguran massal, serta seruan kritikus terhadap pengelolaan tidak kompeten atas krisis virus corona, adalah alasan besar mengapa Trump menemukan dirinya berada dalam kekalahan kurang dari 100 hari.

“Ancaman Trump tidak lebih dari upaya putus asa untuk mengalihkan perhatian. Trump dapat men-cuitkan semua yang dia inginkan, tetapi kenyataannya dia tidak dapat menunda pemilihan, dan pada November, para pemilih akan meminta pertanggungjawabannya,” kata Komite Nasional Demokrat dalam sebuah pernyataan.

Kubu Republik Menolak

Berdasarkan jadwal yang ditetapkan undang-undang, pemilihan presiden akan berlangsung 3 November 2020, di mana ini adalah tahun ketiganya.

Sebagai informasi, Amerika Serikat tidak pernah mengizinkan penundaan, bahkan tetap menggelar pemilu selama Perang Sipil, dan hanya Kongres yang dapat mengubah waktunya.

Baik Demokrat yang menguasai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Republik yang menguasai Senat langsung menyuarakan penentangan.

“Tidak pernah dalam sejarah negara ini, melalui perang, depresi dan Perang Sipil. Pernahkah kita tidak memiliki pemilu federal yang dijadwalkan tepat waktu,” tutur Ketua Senat Partai Republik Mitch McConnell, kepada televisi WNKY.

Bahkan sekutu Trump, Senator Republik Marco Rubio, menanggapi pernyataan Trump dengan berkata: “Saya harap dia tidak mengatakan itu.”

Menurut laporan, pandemi Covid-19 di Amerika Serikat masih belum dapat dikendalikan, dan virus corona paling akhir menghantam negara-negara bagian yang dikuasai Partai Republik, seperti Florida dan Texas.

Mengingat ancaman virus, terdapat keraguan luas tentang berapa banyak orang akan keluar untuk memilih, dan apakah tersedia cukup sukarelawan untuk menjadi petugas di tempat-tempat pemungutan suara (TPS).

Selama pilpres awal tahun ini, beberapa negara menunda pemilihan atau membuka lebih sedikit tempat pemungutan suara.

Selain itu, acara-acara olahraga besar telah dibatalkan atau dibatasi. Ada pula keraguan serius di sebagian besar negara bagian soal sekolah dan universitas yang akan dibuka kembali untuk kelas pribadi pada September.

Tetapi ketika tanggal pemilu semakin dekat, Trump dengan marah menolak seruan yang dipimpin Demokrat terkait peningkatan pemungutan suara melalui surat sebagai cara untuk melindungi warga Amerika dari kemungkinan terpapar virus Covid-19 di lokasi-lokasi TPS.

Di sisi lain, belum ada bukti penipuan yang berarti dalam pemilu AS, termasuk penggunaan surat suara, yang sudah umum di beberapa negara.

Hal ini menimbulkan lonjakan tuduhan bahwa Trump – sebagai presiden pertama yang mencalonkan diri kembali usai dimakzulkan – tidak akan menerima kekalahan. Pasalnya, dalam wawancara baru-baru ini, da menolak memberikan jaminan akan menghormati hasil pemilihan yang lain.

Menangkap suasana hati lawan-lawan Trump menjelang pemilihan, mantan presiden Barack Obama mengatakan bahwa beberapa pemilu “sama-sama mendesaknya di berbagai tingkatan.”

“Hanya saja semua orang harus keluar dan memilih,” katanya dalam pidato berapi-api di acara pemakaman pahlawan hak-hak sipil John Lewis, pada Kamis.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN