Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden AS Donald Trump (kanan) dan calon presiden (capres) dari Partai Demokrat Joe Biden dalam debat presiden pertama di Case Western Reserve University dan Cleveland Clinic di Cleveland, Ohio, pada 29 September 2020. (Foto: OLIVIER DOULIERY / AFP / POOL )

Presiden AS Donald Trump (kanan) dan calon presiden (capres) dari Partai Demokrat Joe Biden dalam debat presiden pertama di Case Western Reserve University dan Cleveland Clinic di Cleveland, Ohio, pada 29 September 2020. (Foto: OLIVIER DOULIERY / AFP / POOL )

 Pilpres AS 2020

Trump-Biden Langsung Panas di Debat Pertama

Kamis, 1 Oktober 2020 | 06:16 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

CLEVELAND, investor.id – Calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden menyeru kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk bisa tidak tutup mulut. Dalam debat perdana menuju pemilihan presiden (pilpres) 3 November 2020 yang langsung panas, Selasa (29/9) malam di kota Cleveland, negara bagian Ohio. Perdebatan kedua capres juga berlangsung sengit dan saling interupsi nyaris tanpa henti, hingga membuat moderator kewalahan.

Perdebatan di Cleveland sudah diperkirakan bakal sengit dan panas. Trump menunjukkan itu kepada penantangnya dan juga moderator dari Fox News Chris Wallace.

Tidak ada jabat tangan saat kedua calon itu naik ke panggung. Walau dilakukan karena protokol kesehatan terkait Covid-19, tapi tidak adanya jabat tangan itu juga melambangkan perpecahan di seluruh negeri menuju 3 November 2020.

Trump bersikap keras pada Biden (77 tahun) seperti yang telah diingatkannya. Ia mengatakan kelompok kiri radikal telah membuat kubu sentris Demokrat terlilit di jari kelingking mereka. Ia juga menyerang pribadi Biden, berusaha membuat marah mantan wakil presiden tersebut dengan menuduh salah satu putranya korupsi dan memberi tahu Biden bahwa dia tidak pintar sama sekali.

Tapi Biden tidak hanya balik meladeni. Ia juga meluncurkan jenis serangan yang jarang diterima langsung oleh Trump. Pembohong, rasis, dan badut adalah beberapa rudal yang diluncurkan Biden. Ia mencap Trump sebagai anak anjing Presiden Rusia Vladimir Putin.

Kadang-kadang, baik Biden maupun Wallace tidak bisa berkomentar karena Trump dengan lantang menyebut rekor ekonominya dan mengritik putra Biden, Hunter.

"Ini akan menjadi salah satu debat terburuk dalam sejarah," spesialis debat presiden di University of Michigan Aaron Kall, kepada AFP, Rabu (30/9).

Teori Konspirasi

Pada satu titik, Biden yang jengkel, yang memimpin dengan kuat dalam pemungutan suara, berpaling ke Trump. "Bisa kah Anda tutup mulut, Bung!" sentaknya.

Momen itu melambangkan kinerja Biden di arena yang selalu disuarakan Trump selama berbulan-bulan akan hancur.

Republikan tersebut telah menyebarkan teori konspirasi menyeramkan sampai menit terakhir, mengatakan Biden membutuhkan obat-obatan serta alat bantu dengar yang membantunya memberikan jawaban untuk melewati debat.

Peristiwa yang dipenuhi amarah itu tidak berhasil meredakan ketakutan di seluruh negeri. Pemilihan presiden yang dilakukan di tengah pandemi virus corona ditakutkan dapat berakhir dengan kekacauan.

Wallace menanyakan apakah kedua kandidat berjanji untuk meminta ketenangan dan menahan diri untuk tidak menyatakan kemenangan jika hasilnya tidak langsung diketahui 3 November. "Ya," jawab Biden.

Namun Trump tidak mau berkomitmen, mengatakan jika dia melihat puluhan ribu surat suara dimanipulasi, ia tidak akan bisa menerima itu.

Ia juga ditanya apakah dia mengecam milisi bersenjata sayap kanan seperti Proud Boys, dengan Trump memberikan jawaban samar. "Proud Boys, mundur dan bersiaplah," tuturnya.

Proud Boys adalah organisasi neo-fasis sayap kanan jauh yang hanya dikhususkan untuk laki-laki dan mempromosikan kekerasan politik.

Kelompok paramiliter kemudian tampaknya mengadopsi ungkapan tersebut, dengan akun media sosial yang ditautkan ke Proud Boys mengunggah logo bertuliskan 'Stand Back, Stand By'.

Calon presiden (capres) dari Partai Demokrat Joe Biden (kiri) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat mengikuti debat capres pertama di Case Western Reserve University dan Cleveland Clinic di Cleveland, Ohio pada 29 September 2020. ( Foto :JIM WATSON, SAUL LOEB / AFP )
Calon presiden (capres) dari Partai Demokrat Joe Biden (kiri) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat mengikuti debat capres pertama di Case Western Reserve University dan Cleveland Clinic di Cleveland, Ohio pada 29 September 2020. ( Foto :JIM WATSON, SAUL LOEB / AFP )

Langsung ke Warga Amerika

Biden berusaha untuk mengaitkan Trump secara langsung dengan pandemi Covid-19 yang telah merenggut lebih dari 200.000 nyawa di Amerika Serikat, lebih banyak daripada di negara lain.

Ia datang dengan rencana yang jelas untuk menghindari badai retoris Trump dengan sering berbalik menghadapi kamera secara langsung dan ditujukan kepada puluhan juta orang yang menonton di seluruh negeri.

"Berapa banyak dari Anda yang bangun pagi ini dan memiliki kursi kosong di meja dapur karena seseorang dengan Covid meninggal?" kata Biden.

Ia menyalurkan kemampuannya yang terkenal untuk menunjukkan empati terhadap penderitaan, gestur yang sulit dilakukan Trump.

Biden mengolok Trump (74 tahun) karena salah satu pernyataannya yang lebih terkenal tentang pengobatan untuk virus corona.

"Mungkin Anda bisa menyuntikkan pemutih di lengan Anda dan itu akan menanganinya," tukas Biden.

Penghindaran Pajak

Bahkan sebelum mereka muncul untuk yang pertama dari tiga debat televisi berdurasi 90 menit yang dijadwalkan, Biden sudah muncul memanfaatkan pengungkapan tulisan The New York Times yang mengatakan Trump sebagai pengusaha berhasil menghindari pembayaran hampir semua pajak pendapatan federal selama bertahun-tahun.

Trump, yang telah lama melanggar transparansi kepresidenan dengan menolak menerbitkan pengembalian pajaknya, dilaporkan menggunakan celah untuk membayar pajak federal hanya US$ 750 selama tahun pertama masa kepresidenannya.

Beberapa jam sebelum pertarungan di Cleveland, Biden menerbitkan pengembalian pajaknya sendiri. Pada debat itu, ia menuntut Trump juga melakukan hal yang sama. Trump bersikeras dirinya telah membayar pajak hingga jutaan dolar.

Namun perkara itu terus memberikan amunisi kepada Biden. Ia mencoba dan menghilangkan dukungan penting Trump dari para pemilih kerah biru atau apa yang oleh Partai Republik sebut sebagai laki-laki dan perempuan yang terlupakan. 

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN