Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Orang-orang menghadiri prosesi nyala lilin untuk menghormati semua orang yang terkena dampak virus corona Covid-19, di luar Katedral St. John the Divine, New York City, Amerika Serikat (AS) pada 19 Oktober 2020. ( Foto: KENA BETANCUR / AFP )

Orang-orang menghadiri prosesi nyala lilin untuk menghormati semua orang yang terkena dampak virus corona Covid-19, di luar Katedral St. John the Divine, New York City, Amerika Serikat (AS) pada 19 Oktober 2020. ( Foto: KENA BETANCUR / AFP )

Tsunami Utang Melanda Dunia

Sabtu, 21 November 2020 | 13:12 WIB
Fajar Widhiyanto

Utang global disebut-sebut telah terkerek naik ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak merebaknya pandemi Covid-19. Institute for International Finance (IIF) yang beranggotakan lebih dari 400 bank dan lembaga keuangan, menyebut kondisi saat ini sebagai "serangan tsunami utang".

Dalam laporan Global Debt Monitor yang diterbitkan pada Rabu 18 November 2020 lalu, IIF menyebut utang global akan mencetak rekor baru dan mencapai US$ 277 triliun pada akhir tahun, setara dengan 365 % dari PDB dunia.

"Didorong oleh peningkatan tajam dalam pinjaman pemerintah dan perusahaan karena pandemi COVID-19 terus berlanjut, beban utang global meningkat sebesar US$ 15 triliun dalam tiga kuartal pertama tahun 2020 dan sekarang mencapai US$ 272 triliun," kata laporan IIF seperti dilansir wsws.org, Sabtu (21/11).

Tingkat percepatan utang terungkap dalam data untuk masing-masing negara dan wilayah. Utang di negara-negara ekonomi besar disebutkan melonjak menjadi 432% dari PDB pada kuartal ketiga, naik dari sekitar 380% pada akhir 2019. Sementara utang pasar negara berkembang mencapai hampir 250%, dengan Tiongkok yang berkontribusi paling besar dari total utang tersebut.

Di AS, total utang berada di “jalur yang tepat” dengan angka US$ 80 triliun tahun ini, naik dari US$ 71 triliun pada akhir tahun lalu. Sedangkan utang di kawasan Euro naik US$ 1,5 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun ini.

Laporan IIF mengatakan beban utang sangat memberatkan bagi ekonomi pasar berkembang, setelah meningkat 26%  dalam proporsi dari PDB tahun ini. Akibatnya, negara-negara berkembang yang akan melakukan pembayaran ke lembaga keuangan internasional meningkat tajam.

Pekan ini Zambia menjadi negara berkembang keenam yang gagal bayar atas pinjaman dan diperkirakan akan lebih banyak lagi yang mengalami gagal bayar. Sekedar catatan saja, pada akhir tahun depan, sekitar US$ 7 triliun obligasi dan pinjaman sindikasi negara berkembang akan jatuh tempo, yang sebesar 15% merupakan utang berdenominasi dolar AS.

Krisis utang negara-negara tersebut diperparah dengan perlambatan ekonomi dunia yang menurut Dana Moneter Internasional diperkirakan akan menyusut 4,4% tahun ini. IMF telah memperkirakan rebound akan terjadi di 2021, tetapi perkiraan itu dikeluarkan sebelum lonjakan terbaru infeksi Covid-19 di Amerika Serikat dan Eropa.

Lonjakan utang sejatinya tidak hanya disebabkan oleh pandemi. Bahkan sebelum Covid merebak, ekonomi global telah mengalami penurunan setelah periode pemulihan singkat pada tahun 2018 dari dampak krisis keuangan 2008.

“Laju akumulasi utang global belum pernah terjadi sebelumnya sejak 2016, meningkat lebih dari US$ 52 triliun,” demikian pernyataan dari IIF.

Ketika lonjakan utang sebesar US$ 15 triliun ini dicatat pada tahun 2020, peningkatan utang dari tahun 2016 tercatat jauh melebihi kenaikan US$ 6 triliun yang terjadi periode tahun 2012 - 2016. Dengan kata lain, bahkan sebelum pandemi melanda, ketergantungan sistem keuangan dan ekonomi global pada akumulasi utang semakin meningkat.

Direktur Penelitian Keberlanjutan di IIF, Emre Tiftik mengatakan, tingkat utang telah meningkat jauh lebih cepat daripada yang diantisipasi pada awal krisis. Hanya sedikit keuntungan yang bisa dinikmati terkait pertumbuhan ekonomi.

Tiftik mengatakan peningkatan utang tanpa perubahan tingkat pertumbuhan ekonomi menunjukkan telah terjadinya penurunan signifikan dalam kemampuan utang untuk menggerakkan PDB. “Langkah-langkah dukungan agresif (untuk menggerakkan perekonomian, red) harus terus dilakukan untuk beberapa lama, dan pasti akan meningkatkan utang secara signifikan,” kata Tiftik seperti dikutip wsws.org.

Alasan terjadinya gap antara tingkat utang dan pertumbuhan PDB menurut Tiftik dapat ditemukan dari banyaknya peningkatan utang untuk ekonomi pasar berkembang yang tidak digunakan untuk peningkatan ekonomi mereka dan meningkatkan kesehatan. “Tetapi digunakan untuk membayar bunga dan pokok utang yang ada,” ujarnya.

Sementara di negara-negara ekonomi besar, seperti AS dan Eropa, utang tidak dikeluarkan untuk pengadaan infrastruktur atau perawatan kesehatan. Utang digunakan untuk membiayai dana talangan besar-besaran bagi perusahaan, atau diambil oleh perusahaan untuk membiayai operasi spekulatif mereka di pasar keuangan.

Tak satu pun dari kegiatan ini menghasilkan inti kekayaan bagi negara, tetapi digunakan untuk meningkatkan keuntungan yang diperoleh dari operasi keuangan.

Namun, jika aliran uang berkurang, hal itu juga akan mengancam dan memicu krisis keuangan, yang berdampak langsung bagi perekonomian riil seperti yang terjadi pada krisis keuangan 2008.

IIF menekankan adanya bahaya dari situasi peningkatan utang yang terjadi saat ini. Yaitu terjadinya ketidakpastian yang signifikan tentang bagaimana ekonomi global dapat mengurangi pengaruh utang di masa depan, tanpa implikasi kerugian signifikan bagi aktivitas ekonomi.

Bahkan situasi di pasar keuangan belakangan ini juga menggarisbawahi meningkatnya ketidakstabilan seluruh sistem ekonomi dalam menghadapi "tsunami utang".

Menurut indeks Bloomberg Barclays Global Negative Yielding Debt, obligasi senilai US$ 17,05 triliun kini memiliki imbal hasil negatif, artinya harga obligasi sangat tinggi sehingga investor akan merugi jika memegang obligasi hingga jatuh tempo.

Tentu saja, tidak ada investor yang ingin merugi. Namun mereka masih berspekulasi bahwa harga obligasi akan naik lebih tinggi dan menurunkan tingkat yield, sehingga mereka akan mendapatkan keuntungan saat menjual obligasi.

Pasar obligasi saat ini sejatinya ditopang oleh intervensi Bank Sentral dunia, sebut saja The Fed sendiri telah menghabiskan US$ 80 miliar sebulan, atau hampir US$ 1 triliun setahun, untuk menampung obligasi pemerintah AS.

Seperti dikatakan Mark Dowding, Kepala Investasi di BlueBay Asset Management kepada Financial Times, “Bank sentral telah membeli lebih banyak obligasi daripada yang dapat diberikan pemerintah kepada mereka. Hal itu memang mendorong penurunan yield, meskipun ada ekspansi fiskal yang besar. "

Tetapi imbal hasil yang rendah telah mengganggu strategi investasi dana pensiun dan perusahaan asuransi jiwa, yang secara tradisional mengandalkan return dari obligasi pemerintah.

Hasilnya, seperti yang dicatat Dowding, situasi ini mendorong investor ke pembiayaan utang yang semakin berisiko bagi pemerintah dan perusahaan, ketika di saat yang sama para investor tersebut juga mencari tingkat return yang lebih tinggi. Proses yang sama juga telah mendorong pasar saham mendekati rekor tertinggi sebagai hasil dari suntikan triliunan dolar oleh otoritas keuangan.

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN