Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Rusia, Vladimir Putin bertemu dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan di Sochi, pada 29 September 2021. ( Foto: VLADIMIR SMIRNOV / POOL / AFP )

Presiden Rusia, Vladimir Putin bertemu dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan di Sochi, pada 29 September 2021. ( Foto: VLADIMIR SMIRNOV / POOL / AFP )

Turki dan Rusia Bahas Kerja Sama Industri Pertahanan

Jumat, 1 Oktober 2021 | 07:12 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

ANKARA, investor.id – Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada Kamis (30/9), telah melakukan pembahasan kerja sama industri pertahanan secara mendalam dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin pada pekan ini.

Menurut laporan yang dilansir AFP, pembicaraan tatap muka pertama Erdogan dan Putin dalam 18 bulan dilangsungkan di resor Laut Hitam, Sochi pada Rabu (29/9), yang mana isu konflik Suriah menjadi agenda utama mereka.

“Kami memiliki kesempatan untuk mendiskusikan langkah apa yang bisa kami ambil pada mesin pesawat, pesawat tempur. Bidang lain yang dapat kita ambil adalah beberapa langkah bersama untuk membangun kapal. Insya Allah kita akan mengambil langkah bersama bahkan untuk kapal selam,” ujar Erdogan kepada wartawan, sekembalinya ke Turki, yang dilaporkan kantor berita NTV.

Namun, komentar Erdogan bakal memicu kebingungan di Barat dan terutama, di Amerika Serikat (AS). Pasalnya Negeri Paman Sam itu telah menjatuhkan sanksi kepada Turki pada tahun lalu, menyusul pembelian sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia yang bernilai miliaran dolar

AS juga mengeluarkan Turki dari program F-35, yakni sebuah program di mana sekutu Barat dapat memproduksi suku cadang jet tempur generasi berikutnya dan mengamankan hak pembelian awal.

Menurut laporan, Turki memperkirakan ada 100 jet tempur siluman dan beberapa pemasok Turki yang terlibat dalam pembangunan.

Di samping itu, Erdogan menegaskan komitmennya terhadap sistem pertahanan udara S-400. Dia berjanji bahwa Turki tidak akan mundur dari pembelian itu, sebaliknya meminta AS untuk memberikan pesawat yang dipesan Turki atau mengembalikan pembayarannya senilai US$ 1,4 miliar.

Sebagai informasi, hubungan antara Turki dan AS tengah menegang. Menurut pengakuan Erdogan pada pekan lalu, hubungan pribadinya dengan Presiden AS Joe Biden telah diawali dengan tidak baik.

Membangun PLTN

Selain kerja sama keamanan, Erdogan juga mengusulkan agar Turki dan Rusia dapat bekerja sama dalam membangun dua pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) lagi. Yang mana kerja sama ini juga disetujui oleh pihak Rusia.

Menurut catatan, pembangunan PLTN pertama Turki sedang dikerjakan oleh perusahaan energi nuklir pelat merah Rosatom dari Rusia, di pantai selatan negara itu. PLTN ini diiharapkan mulai beroperasi pada 2023.

Terlepas dari kata-kata hangat Erdogan, hubungan antara Turki dan Rusia sendiri tergolong rumit karena kedua negara berada di pihak yang berlawanan dalam konflik, seperti Libya dan Suriah.

Erdogan bahkan memberikan komentar tidak jelas tentang pembicaraan isu Suriah barat laut, di mana pasukan rezim dan Rusia telah meningkatkan serangan udara dalam beberapa pekan terakhir.

“Kami fokus pada kebutuhan untuk mengambil langkah bersama dalam masalah ini,” tutur Erdogan.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN