Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Dewan Eropa Charles Michel, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sedang melakukan konferensi video untuk menyetujui pakta investasi antara Tiongkok dan Uni Eropa (UE), pada 30 Desember 2020 di Brussels, Belgia. ( Foto: Johanna Geron / POOL / AFP )

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Dewan Eropa Charles Michel, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sedang melakukan konferensi video untuk menyetujui pakta investasi antara Tiongkok dan Uni Eropa (UE), pada 30 Desember 2020 di Brussels, Belgia. ( Foto: Johanna Geron / POOL / AFP )

UE dan Tiongkok Setujui Pakta Investasi

Kamis, 31 Desember 2020 | 01:16 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BRUSSELS, investor.id – Uni Eropa (UE) dan Tiongkok pada prinsipnya telah menyetujui pakta investasi besar-besaran yang diprediksi UE bakal membuka peluang yang menguntungkan. Meskipun ada kekhawatiran tentang catatan hak asasi di Negeri Tirai Bambu itu.

Kepala UE Ursula von der Leyen, dan Kepala Dewan Eropa Charles Michel menyatakan telah setuju dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk menyelesaikan proses negosiasi melelahkan selama tujuh tahun terakhir, dalam konferensi video yang turut menyertakan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Menurut blok UE, kesepakatan yang diperkirakan masih akan memakan waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan dan diratifikasi sepenuhnya sebagai undang-undang (UU) merupakan sebuah signifikansi ekonomi utama. Mereka juga telah melihat Tiongkok berkomitmen pada tingkat akses pasar luar biasa bagi para investor UE.

Menurut laporan kantor berita Tiongkok, Xinhua yang mengutio pernyataan Xi, “Perjanjian itu menunjukkan tekad dan kepercayaan Tiongkok untuk mempromosikan keterbukaan tingkat tinggi.”

Bahkan, Xi menjuluki Eropa dan Tiongkok sebagai kekuatan ganda utama dunia, baik untuk pasar dan peradaban.

Sementara itu, von der Leyen mencuit: “Perjanjian ini akan menjunjung tinggi kepentingan-kepentingan kami, dan mempromosikan nilai-nilai inti kami. Ini memberi kami kekuatan untuk memberantas kerja paksa.”

Tetapi langkah terburu-buru menjelang akhir tahun demi menyimpulkan bagian politik dari perjanjian tersebut dapat mengecewakan Presiden terpilih AS Joe Biden. Pasalnya, dia tengah bersiap untuk memasuki Gedung Putih dan berharap dapat berkoordinasi dengan sekutu baratnya.

Di sisi lain, Eropa telah lama berupaya meningkatkan akses bagi perusahaannya ke pasar Tiongkok yang luas. Tetapi kurangnya rasa hormat Tiongkok terhadap standar-standar ketenagakerjaan internasional masih menjadi rintangan terakhir dalam mencapai kesepakatan.

UE menegaskan bahwa Perjanjian Komprehensif tentang Investasi atau Comprehensive Agreement on Investment (CAI) adalah yang “paling ambisius”, yang diyakini ditandatangani Tiongkok untuk menurunkan hambatan-hambatan bagi bisnis UE, memperkuat persaingan dan memperkuat perlindungan lingkungan.

Blok tersebut mengatakan, pihaknya telah berhasil membuat Tiongkok menyetujui upaya-upaya yang berkelanjutan untuk meratifikasi konvensi Organisasi Buruh Internasional (ILO) tentang kerja paksa.

“Kami harus tetap realistis: kesepakatan ini tidak akan menyelesaikan semua tantangan terkait Tiongkok yang kami hadapi, yang ada banyak. Namun, itu mengikat Tiongkok ke dalam komitmen yang signifikan ke arah yang benar, lebih dari yang pernah disepakati sebelumnya,” kata Wakil Presiden Eksekutif UE Valdis Dombrovskis.

Anggota parlemen Eropa memperingatkan bahwa tidak ada cara untuk memaksa Tiongkok memanfaatkan hak-hak pekerja. Bahkan, beberapa orang di UE menuduh Tiongkok menjalankan sistem kerja paksa yang dipimpin pemerintah dengan menargetkan warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya di provinsi Xinjiang.

“Para pemimpin Uni Eropa tahu bahwa bahasa CAI di ILO, dan kerja paksa tidak sebanding dengan kesepakatan itu. Mereka tidak bodoh,” demikian cuitan Reinhard Butikofer, kepala delegasi parlemen Eropa di Tiongkok, yang diunggah di Twitter.

Anggota Parlemen juga mengeluhkan soal kesepakatan garis besar – yang muncul bersamaan ketika blok UE menandatangani pakta perdagangan pasca-Brexit dengan Inggris. Kesepakatan ini dipandang dilakukan terburu-buru di bawah pengawasan kekuatan ekspor terkemuka Jerman tepat sebelum kepresidenan bergilir UE berakhir.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN