Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Uni Eropa

Uni Eropa

UE Khawatir Melihat Pertumbuhan Rendah, Utang Tinggi

Grace Eldora, Jumat, 8 November 2019 | 14:12 WIB

BRUSSEL, investor.id - Uni Eropa (UE) memangkas perkiraan pertumbuhan yang sudah rendah untuk zona euro pada Kamis (7/11). Komisi tersebut mengintensifkan tekanan pada Jerman dan negara-negara kaya lainnya agar menghabiskan lebih banyak uang, untuk merangsang pertumbuhan ekonomi di Eropa.

Komisi Eropa mengatakan, blok mata uang tunggal 19 negara tersebut akan berkembang hanya 1,1% tahun ini atau turun dari perkiraan 1,2% pada Juli 2019. Komisi itu memantau dengan cermat pengeluaran publik oleh 28 negara anggota Uni Eropa, mengatakan ekonomi zona euro setelahnya akan menunjukkan rebound lemah menjadi 1,2% pada 2020 dan 2021.

"Ekonomi Eropa telah bertahan dengan baik meskipun lingkungan eksternal kurang menguntungkan. Namun, kita mungkin menghadapi kesulitan di masa depan. Periode ketidakpastian besar terkait dengan konflik perdagangan, meningkatnya ketegangan geopolitik, pelemahan berlanjut di sektor manufaktur, dan Brexit," jelas Wakil Presiden Komisi Eropa Valdis Dombrovskis, Kamis (7/11).

Uni Eropa memperingatkan, tingkat pertumbuhan yang lambat akan secara langsung berdampak pada anggaran yang ketat. Dengan negara-negara yang dibebani oleh tingkat biaya publik yang besar, seperti Italia, Yunani, dan Perancis cenderung menunjukkan peningkatan lebih lanjut.

Bank Sentral Eropa (ECB), yang didukung oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dan ekonom terkemuka, telah memimpin kampanye untuk membujuk pemerintah Jerman, Belanda, dan yang lainnya untuk meningkatkan pengeluaran. Tetapi sejauh ini negara-negara tersebut telah menolak panggilan itu.

Juara ekspor Jerman berada di bawah tekanan paling besar untuk melonggarkan dompetnya karena perekonomiannya mengalami resesi. Sektor manufaktur yang krusial terutama dirobohkan oleh perang perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan pemerintah Tiongkok.

Uni Eropa mengatakan, pemerintah Jerman akan tumbuh hanya 0,4% pada 2019 dan mencapai 1,0% pada 2020 dan 2021. Ini termasuk pertumbuhan terendah yang akan menyeret bagian lain Eropa.

Meskipun kinerjanya buruk, Jerman dijadwalkan untuk terus menjalankan surplus anggaran publik selama tiga tahun ke depan, membangun tumpukan uang tunai yang menurut komisi lebih baik dihabiskan untuk meningkatkan perekonomian.

Produsen di seluruh wilayah telah menurunkan pandangan mereka dalam beberapa minggu terakhir. Rheinmetall memangkas perkiraan setahun penuh dengan alasan penurunan dalam produksi otomotif global.

Sedangkan Siemens mengatakan. kelemahan dalam industri mobil dan peralatan pabrik akan menyebabkan penurunan dalam beberapa volume bisnis tahun depan. Sementara Kepala Keuangan Volkswagen memperingatkan, dua tahun mendatang akan sulit untuk sektor industri.

"Menggunakan ruang fiskal yang tersedia secara aktif akan memungkinkan negara-negara anggota. Tidak hanya untuk memberikan stimulus fiskal di tengah perlambatan tajam dalam manufaktur yang mengancam akan meluas ke pasar tenaga kerja, tetapi juga untuk menyegarkan dan memodernisasi stok modal publik, sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan," kata laporan itu.

Pemerintah Italia akan memiliki pertumbuhan paling lambat di Eropa tahun ini, nyaris tidak menghindari resesi dengan ekspansi 0,1%. Komisi Eropa mengatakan, hal ini akan memperbesar utang publik Italia menjadi 137,4% dari hasil tahunan pada 2021. Negara tersebut memiliki tingkat utang terbesar di Eropa selain Yunani setelah tiga bailout.

Pertumbuhan Spanyol tahun ini diperkirakan dapat mencapai 1,9%, yakni laju tercepat bagi ekonomi besar Uni Eropa. Tetapi secara signifikan lebih rendah dari perkiraan tingkat 2,3% hanya empat bulan lalu.

“Menambah kejutan ekonomi domestik dan ketidakpastian kebijakan, perlambatan permintaan global, dan perdagangan yang lemah telah memukul ekonomi Eropa dengan keras,” tulis Kepala Ekonom Uni Eropa Marco Buti dalam sebuah laporan.

Sementara kekuatan pasar tenaga kerja dan ketahanan sektor jasa sejauh ini mencegah kemunduran momentum yang lebih luas. Buti memperingatkan, ketahanan tersebut tidak dapat bertahan selamanya. "Aktivitas ekonomi sekarang tampaknya akan melambat di sejumlah negara anggota, yang pada awalnya tampak kebal," tambahnya. (afp/eld)

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA