Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Prancis Urusan Eropa Clement Beaune. ( Foto: MARTIN BUREAU / AFP )

Menteri Prancis Urusan Eropa Clement Beaune. ( Foto: MARTIN BUREAU / AFP )

UE Terseret Kemelut Kesepakatan Kapal Selam

Selasa, 21 September 2021 | 07:09 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BRUSSELS – Para menteri luar negeri (menlu) Uni Eropa (UE) melakukan pertemuan di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (20/9) untuk membahas pakta AUKUS, antara Australia-Inggris-Amerika Serikat (AS), yang berbuntut pembatalan kesepakatan pembelian kapal selam antara Prancis dan Australia.

“Ini adalah kesempatan pertama bagi para menlu UE untuk membahas implikasi-implikasi dan konsekuensi-konsekuensi dari seluruh kesepakatan,” ujar juru bicara UE bidang luar negeri Peter Stano, yang dikutip AFP.

Dia menambahkan, pertemuan tersebut merupakan kesempatan untuk membahas tidak hanya masalah antara Prancis dan Australia melainkan juga implikasi dari seluruh aliansi AUKUS. Pertemuan ini sebelumnya telah dijadwalkan, dan merupakan hal yang biasa bagi negara-negara Uni Eropa untuk berkoordinasi maupun berkonsultasi tentang banyak topik sebelum perwakilan mereka naik ke panggung dalam acara tahunan PBB.

Seperti diketahui, pada pekan lalu Australia, AS dan Inggris meluncurkan pakta pertahanan baru yang dinegosiasikan secara diam-diam selama beberapa bulan. Masalah pakta ini merugikan Prancis dan telah menjadi agenda utama.

Bahkan, Prancis telah menarik duta besarnya untuk AS dan Australia untuk menunjukkan ketidaksenangnya. Pasalnya, bukan hanya karena soal kehilangan kontrak yang disepakati senilai lebih dari 30 miliar euro (US$ 37 miliar) melainkan telah “ditikam dari belakang” oleh sekutu-sekutunya.

Menurut Menteri untuk Eropa, Clement Beaune, pakta perdagangan dengan UE yang telah dikerjakan Australia sejak 2018 dapat terpengaruh. Para juru runding perdagangan dari kedua belah pihak terakhir bertemu pada Juni, dan dijadwalkan untuk melanjutkan sesi berikutnya pada Oktober.

Mitra-mitra UE sejauh ini belum secara terbuka menyuarakan dukungan kuat untuk Prancis. Namun, masalah ini kemungkinan akan memicu perdebatan Eropa tentang otonomi strategis – sebuah seruan yang dipimpin Prancis untuk membangun pertahanan mandiri dan kapasitas industri.

Ide tersebut, bagaimanapun, dipandang dengan kegelisahan oleh negara-negara anggota UE bagian timur yang tidak ingin melemahkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

“Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengawasi dengan cermat konsekuensi dari perjanjian ini,” kata Juru bicaranya, Eric Mamer.

Berhati-hati

Mamer menambahkan, tapi para pejabat senior eksekutif Uni Eropa – yang bertanggung jawab untuk menegosiasikan kesepakatan perdagangan blok tersebut – menyatakan ingin duduk dan merenungkan dengan tenang mengenai pengumuman ini, dan dampaknya sebelum benar-benar merespons.

“Mereka melihat apa dampaknya pada jadwal dari pembicaraan perdagangan UE-Australia,” tuturnya.

Sedangkan Duta Besar Prancis untuk Australia, Jean-Pierre Thebault, mengatakan kepada radio publik Australia dalam sebuah wawancara dari Paris bahwa negaranya tidak melobi Eropa untuk menghalangi perjanjian perdagangan bebas dengan Negeri Kangguru itu. Dia mencatat, pihak Komisi Eropa menjalankan negosiasi perdagangan.

Bagaimanapun, Thebault menekankan kesepakatan perdagangan Australia dengan UE akan jauh menaungi (perjanjian) yang kecil dengan Inggris, dan bahwa Australia harus memiliki semua alasan untuk sangat bersedia mencapai kesepakatan dengan UE"

Macron pun melewatkan kegiatan Majelis Umum PBB tahun ini. Tapi keputusan tersebut dibuat sebelum perselisihan AUKUS meledak. Presiden AS Joe Biden sendiri telah meminta berbicara langsung dengan Macron, yang mana akan terjadi dalam beberapa hari mendatang.

Menurut laporan, Josep Borrell – pejabat tinggi kebijakan luar negeri Uni Eropa – akan memimpin pertemuan dua jam para menteri luar negeri Uni Eropa, mulai pukul 18.00 waktu New York (22.00 GMT). Usai pertemuan ini, Borrell diharapkan dapat memberikan beberapa bentuk pernyataan.

Sesaat sebelum pertemuan Uni Eropa, Borrell akan mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne, yang juga menghadiri Sidang Umum PBB.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN