Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anak dari Suriah. ( Foto: Unicef / Syria /2020 / Ali Haj Suleiman )

Anak dari Suriah. ( Foto: Unicef / Syria /2020 / Ali Haj Suleiman )

39 Juta Anak Terdampak Covid-19

Unicef Ajukan Dana Bantuan Baru US$ 2,5 M

Selasa, 8 Desember 2020 | 07:11 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

AMMAN, investor.id – United Nations Children's Fund (Unicef) mengajukan permohonan dana bantuan baru sebanyak US$ 2,5 miliar untuk 39 juta anak yang berada di Timur Tengah dan Arika Utara, yang terdampak oleh perang, kemiskinan, dan pandemi virus corona Covid-19.

“Kawasan tersebut merupakan rumah bagi anak-anak yang jumlahnya paling membutuhkan di dunia. Sebagian besar krisis disebabkan oleh manusia, termasuk konflik bersenjata, kemiskinan, stagnasi ekonomi,” ujar Ted Chaiban, direktur regional Unicef untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti dikutip AFP pada Senin (7/1).

Seruan terbaru Chaiban itu bertujuan menjangkau anak-anak dengan bantuan kemanusiaan genting, dan terus menanggapi kebutuhan besar yang muncul sebagai akibat dari pandemi Covid-19.

Ted Chaiban, direktur regional Unicef  untuk Timur Tengah dan Afrika Utara. ( Foto: UN Photo/Jean-Marc Ferre )
Ted Chaiban, direktur regional Unicef untuk Timur Tengah dan Afrika Utara. ( Foto: UN Photo/Jean-Marc Ferre )

Menurut pernyataan yang dikeluarkan Organisasi Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu, jumlah tertinggi anak-anak yang paling membutuhkan bantuan berada di Yaman, yang dilanda perang, kemudian di dalam dan di luar Suriah yang dilanda konflik, dan di Sudan.

Di Yaman, sebanyak 12 juta anak, atau hampir setiap anak, membutuhkan bantuan setelah lima tahun konflik melanda negaranya. Sementara itu di Suriah, terdapat 4,8 juta anak membutuhkan bantuan pasca perang saudara yang merenggut lebih dari 380.000 jiwa, serta membuat jutaan orang mengungsi, dan merusak perekonomian.

Sedangkan 2,5 juta lainnya hidup sebagai pengungsi di negara-negara tetangga setelah orang tua mereka melarikan diri dari konflik yang hampir berlangsung selama sepuluh tahun.

Di Sudan, sebanyak 5,3 juta anak membutuhkan bantuan karena bencana banjir luar biasa, krisis ekonomi dan transisi politik dari pemerintahan otokratis menuju demokrasi.

Kemudian di Lebanon, saat ini ada sebanyak 1,9 juta anak yang bergantung pada bantuan karena anjloknya perekonomian negara dan disusul oleh ledakan besar di Beirut yang menewaskan lebih dari 200 orang, sekaligus memporak-porandakan sebagian besar ibu kota pada Agustus.

“Sebagian besar dana yang diserukan oleh Unicef akan digunakan untuk mendukung pendidikan anak-anak, sementara sisanya untuk memastikan ketersediaan akses ke air, sanitasi, perawatan kesehatan dan nutrisi, serta dukungan kesehatan mental,” demikian menurut pernyataan Unicef.

Chaiban mengungkapkan, bahwa pihaknya baru-baru ini mendengar adanya kelelahan untuk menyediakan dana krisis jangka panjang seperti di Yaman dan Suriah. Namun dia menekankan, bahwa dunia tidak bisa menutup mata terhadap kebutuhan anak-anak yang terkena dampak dari dua konflik paling mengerikan dalam sejarah baru-baru ini. 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN