Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(kiri-kanan) Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte, Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Presiden AS Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dalam pertemuan puncak kelompok G-7 hari kedua di pusat kota Bellevue, Biarritz, Prancis barat daya pada 25 Agustus 2019.  AFP / POOL / Andrew Harnik

(kiri-kanan) Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte, Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Presiden AS Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dalam pertemuan puncak kelompok G-7 hari kedua di pusat kota Bellevue, Biarritz, Prancis barat daya pada 25 Agustus 2019. AFP / POOL / Andrew Harnik

Pertemuan G-7

Upayakan Kerja Sama Distribusi Vaksin dan Pemulihan Pasca Pandemi

Senin, 15 Februari 2021 | 06:56 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Pemerintah Inggris mengatakan akan memanfaatkan pertemuan dengan para pemimpin negara kelompok G-7 pada 19 Februari 2021, guna mengupayakan kerja sama global lebih banyak mengenai distribusi vaksin virus corona Covid-19 dan rencana pemulihan pasca pandemi.

Sebagai presiden bergilir G-7, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson akan menjamu para kepala negara G-7 pada Jumat. Ini merupakan pertemuan pertama sejak April 2020, sekaligus keterlibatan multilateral besar pertama Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden sejak menjabat pada bulan lalu.

Johnson sendiri diklaim sangat ingin meningkatkan profil Inggris pasca-Brexit dan kedudukan internasionalnya sendiri, menyusul kritikan terhadap taktiknya selama Inggris berpisah dari Uni Eropa (UE) dan dukungannya untuk mantan presiden AS Donald Trump.

Dia telah berjanji untuk memfokuskan kepresidenan G-7 pada koordinasi yang lebih baik dalam respons interasional untuk pandemi, serta perubahan iklim. Hal ini disampaikan menjelang Inggris menjadi tuan rumah konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang perubahan iklim atau disebut Conference of the Parties ke-26 (COP26), pada November 2021.

“Solusi untuk tantangan yang kami hadapi terletak pada diskusi yang kami lakukan dengan teman-teman dan para mitra kami di seluruh dunia,” ujar Johnson dalam pernyataan yang dirilis Sabtu (13/2) malam, yang dikutip AFP.

Dia menambahkan, lompatan kuantum dalam sains telah membantu memproduksi vaksin Covid-19 yang diperlukan untuk mengakhiri pandemi, dan pemerintah dunia sekarang memiliki tanggung jawab untuk bekerja sama mendistribusikannya.

“Saya berharap 2021 akan dikenang sebagai tahun umat manusia bekerja sama dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya demi mengalahkan musuh bersama,” kata Johnson.

Sebagai informasi, pertemuan virtual yang digelar pada Jumat (19/2) menjadikan Johnson sebagai tuan rumah bagi para pemimpin AS, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, serta presiden Dewan Eropa dan Komisi Uni Eropa. Kemudian masih pada Februari, Johnson juga akan memimpin pertemuan virtual dengan Dewan Keamanan PBB tentang hubungan antara perubahan iklim dan konflik – di mana ini kali pertama seorang pemimpin Inggris memimpin sesi semacam itu, sejak 1992.

“Diskusi pada pertemuan tersebut akan menginformasikan tindakan-tindakan penting menjelang pertemuan puncak COP26 yang diselenggarakan di Inggris, pada 1-12 November di kota Glasgow, Skotlandia,” demikian pernyataan dari kantor perdana menteri Inggris.

Pemulihan Covid, Iklim dan Pajak Digital

Sebelumnya pada Jumat (12/2), Pemerintah Inggris mendesak kelompok G-7 mengambil tindakan untuk mengatasi dampak global dari pandemi virus corona, serta perubahan iklim dan perpajakan digital. Prioritas ini diuraikan kepada kelompok G-7.

Menteri Keuangan (Menkeu) Inggris Rishi Sunak dan Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey menjamu rekan-rekan mereka dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan Amerika Serikat pada konferensi daring (online), menjelang pertemuan puncak di Inggris pada akhir tahun ini.

Menurut Kementerian Keuangan Inggris, dalam sesi pembicaraan itu melibatkan pertukaran pandangan tentang cara terbaik untuk bangkit kembali dari dampak Covid-19.

“Kelompok G7 harus memastikan bahwa lembaga keuangan internasional memiliki alat yang tepat untuk melengkapi dan memungkinkan negara-negara rentan untuk menanggapi pandemi,” katanya.

Jamuan itu merupakan pertemuan pertama G-7 sejak Joe Biden menjadi presiden AS, termasuk Menteri Keuangan Janet Yellen.

“Menkeu Yellen menekankan komitmen pemerintahan Biden terhadap multilateralisme untuk memecahkan masalah global. Washington menempatkan prioritas tinggi untuk memperdalam keterlibatan internasional kami dan memperkuat aliansi kami,” demikian pernyataan Departemen Keuangan (Depkeu) AS, pasca empat tahun agenda kebijakan “America First” yang diusung Trump.

Pada Kamis (11/2), sumber di pemerintahan Prancis menunjukkan bahwa negara-negara besar dunia bakal mempertimbangkan penggunaan Dana Moneter Internasional untuk memobilisasi stimulus senilai US$ 500 miliar untuk membantu negara-negara termiskin mengatasi virus corona.

Inggris yang mencatatkan angka kematian lebih dari 116.000 jiwa sendiri sangat mengandalkan keberhasilan vaksin untuk kembali menjalani kehidupan normal. Vaksin Covid-19 dibantu oleh pengembangan Oxford University dan didistribusikan oleh AstraZeneca.

Biaya vaksin yang murah, lebih mudah diangkut dan disimpan – dibandingkan vaksin buatan Pfizer-BioNTech yang membutuhkan suhu sangat rendah – telah ditawarkan ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, bukan untuk mencari keuntungan.

Menurut Sunak ada perkara moral, kesehatan dan ekonomi untuk distribusi vaksin yang cepat dan adil di seluruh dunia. “Mengingat kekhawatiran akan tumbuhnya nasionalisme vaksin, dan perselisihan pasokan. G7 harus memimpin dalam membentuk dukungan untuk negara-negara yang rentan pada 2021,” demikian disampaikan Kemenkeu Inggris.

Stimulus

Para pemimpin G-7, termasuk Biden akan bertemu di tempat peristirahatan di tepi pantai di Cornwall, Inggris barat daya pada 11-13 Juni, setelah pertemuan tahun lalu di Amerika Serikat ditunda karena pandemi. Inggris juga menjadi tuan rumah konferensi PBB tentang perubahan iklim, COP26, di kota Glasgow Skotlandia pada November, dengan harapan meraih komitmen baru terhadap target emisi karbon nol bersih.

Dalam pertemuan virtual, Sunak mendesak rekan-rekannya untuk menjadikan pertimbangan iklim dan alam sebagai bagian sentral dari semua pengambilan keputusan ekonomi, dan keuangan pada 2021,” demikian menurut Kemenkeu Inggris.

Menkeu Inggris itu juga menekankan pentingnya kerja sama untuk mendukung transisi ekonomi yang mulus dan efektif ke emisi karbon nol bersih.

Sebagai informasi, Inggris giliran menduduk kursi kepresidenan G7- pada bulan lalu dengan harapan menjalin kerja sama AS yang lebih besar, karena Biden telah mengembalikan Negeri Paman Sam ke dalam Pakta Iklim Paris dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pemerintahnya juga telah menyatakan dukungan terhadap pajak global yang diusulkan ke raksasa digital seperti Amazon, Facebook dan Google – yang telah meraup keuntungan luar biasa selama pandemi.

“Kemajuan dalam mencapai solusi internasional untuk tantangan pajak ekonomi digital dicatat sebagai prioritas utama,” pungkas Sunak.

Pada Kamis, tabloid Inggris The Sun melaporkan bahwa Sunak sedang mencari cara mencapai kesepakatan global tentang bagaimana keuntungan dikenakan pajak bagi perusahaan online untuk meningkatkan kesetaraan.

Yellen sendiri telah mengulangi kebutuhan akan dukungan fiskal lebih lanjut untuk mempromosikan pemulihan (ekonomi) yang kuat dan langgeng, mengingat dengan Washington masih terjebak dalam perselisihan partisan atas paket stimulus baru.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN