Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Orang-orang berjalan melewati patung Merlion, di Singapura, pada 11 Agustus 2021. ( Foto: ROSLAN RAHMAN / AFP )

Orang-orang berjalan melewati patung Merlion, di Singapura, pada 11 Agustus 2021. ( Foto: ROSLAN RAHMAN / AFP )

Walau Kasus Covid Melonjak, Singapura Tidak Khawatir

Selasa, 28 September 2021 | 06:09 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id – Pihak berwenang telah memperketat langkah-langkah terkait pandemi virus corona Covif-19, setelah kasus infeksi di Singapura naik ke level tertinggi terbaru. Namun dua pakar kesehatan mengatakan tidak terlalu khawatir dengan kondisi itu karena sebagian besar warga Singapura sudah menerima vaksinasi lengkap.

Menurut Teo Yik-Ying, dekan Sekolah Kesehatan Publik Saw Swee Hock di National University of Singapore, banyak pasien Covid-19 yang terhindar mengalami gejala parah dan akan mendapatkan perlindungan lebih lanjut terhadap infeksi di masa depan karena antibodinya melawan virus.

Di samping itu, sekitar 82% populasi Singapura telah menerima dua dosis vaksin Covid. Otoritas kesehatan pada Minggu (26/9) juga menuturkan bahwa 98% orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala ringan selama 28 hari terakhir.

“Jumlah kasus mungkin tetap tinggi selama beberapa bulan, tetapi sebagian besar akan terlindungi dengan baik oleh vaksin dan tidak akan jatuh sakit parah. Bagi orang-orang ini, infeksi tidak akan memiliki konsekuensi jangka pendek atau jangka panjang bagi kesehatan mereka, tetapi dapat memicu respons kekebalan alami yang mengurangi kemungkinan infeksi berikutnya,” ujar Teo dalam surat elektronik (email), yang dikutip CNBC, Senin (27/9).

Sebelumnya, sistem perawatan kesehatan negara dan tenaga kerja telah dibuat ketir-ketir karena lonjakan kasus infeksi Covid-19 sehingga perlu memperlambat penularan guna menghindari lebih banyak yang terinfeksi pada kelompok rentan, seperti orang tua. Demikian disampaikan Kementerian Kesehatan Singapura pada Jumat (24/7), saat pengumuman pemberlakuan langkah-langkah yang lebih ketat lagi.

Berdasarkan aturan pembatasan baru, selama empat pekan ke depan, jumlah individu yang boleh berkerumun dalam satu grup akan dikurangi dari lima orang menjadi dua orang, dan bekerja dari rumah akan menjadi default.

Manfaat Infeksi Alami

Ooi Eng Eong, seorang profesor di program penyakit menular di Duke-NUS Medical School, mengatakan bahwa membiarkan virus menular secara perlahan melalui populasi tidak selalu merupakan hal yang buruk.

“Jika kita terinfeksi alami, sistem kekebalan tubuh kita akan dapat mengenali sebagian besar virus, dibandingkan sekadar spike protein,” kata Ooi, seraya menambahkan bahwa strategi itu bisa membuat seseorang lebih tahan terhadap varian virus di masa depan.

Menurut Ooi, Singapura dapat menuai manfaat dari infeksi alami yang dialami beberapa bagian negara di Eropa dan Amerika Utara, tetapi dalam urutan terbalik.

“Daripada infeksi disusul dengan vaksinasi, kita akan memvaksinasi baru infeksi, yang menurut saya lebih baik karena kebanyakan infeksi (bersifat) ringan. Negara-negara yang mengalami tingkat penyakit tinggi pada tahun lalu telah membayar kesalahannya deengan level kematian yang lebih tinggi,” ujarnya kepada CNBC.

Sebagai informasi, dua vaksin utama yang digunakan di Singapura telah dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech atau Moderna, dan keduanya menggunakan teknologi messenger RNA (mRNA). Vaksin mRNA ini menginstruksikan tubuh untuk memproduksi spike protein yang ditemukan di permukaan virus penyebab Covid-19. Vaksin ini tidak berbahaya, tetapi memicu sistem kekebalan untuk mengembangkan antibodi sehingga tubuh akan mampu melawan infeksi dengan lebih baik jika terkena virus yang sebenarnya.

Banyak Varian Baru

Ketika ditanya apakah penularan Covid yang meluas dapat menyebabkan munculnya varian baru, Ooi mengakui bahwa sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi. Namun, dia menunjukkan jika varian di masa depan harus bersaing dengan varian Delta yang sangat menular dan saat ini menjadi strain dominan di seluruh dunia.

“Sangat sulit untuk mengalahkan Delta. Ada juga kekhawatiran tentang Mu, varian baru yang jadi perhatian (variant of interest), tetapi tidak bisa meluncur karena Delta terlalu kuat. Karena itu, saya pikir hal yang bijaksana untuk dilakukan, adalah tetap bersiap terhadap sesuatu yang lebih kuat daripada Delta, yang pada akhirnya dapat muncul, atau bahwa varian baru dapat lolos dari kekebalan yang dihasilkan oleh vaksinasi,” kata Ooi.

Menurut Kementerian Kesehatan Singapura, jumlah kasus Covid dengan gejala parah masih dalam ekspektasi. Tercatat 172 kasus yang membutuhkan suplementasi oksigen, dan 30 kasus dirawat di unit perawatan intensif (ICU) hingga Minggu. Kapasitas ruang ICU sendiri masih dapat ditingkatkan hingga 1.600 tempat tidur jika diperlukan.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN