Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang karyawan sedang bekerja di jalur produksi truk, di sebuah pabrik di Zhangjiakou, provinsi Hebei, Tiongkok utara pada 12 Mei 2020. ( Foto: STR / AFP )

Seorang karyawan sedang bekerja di jalur produksi truk, di sebuah pabrik di Zhangjiakou, provinsi Hebei, Tiongkok utara pada 12 Mei 2020. ( Foto: STR / AFP )

Walau Krisis Global Akibat Covid-19, Aktivitas Pabrik Tiongkok Meningkat

Happy Amanda Amalia, Rabu, 1 Juli 2020 | 07:14 WIB

BEIJING, investor.id – Data resmi dari Biro Statistik Nasional (NBS) Tiongkok pada Selasa (30/6) menunjukkan ada peningkatan aktivitas di pabrik-pabrik Negeri Tirai Bambu sepanjang Juni 2020. Namun, para analis mengingatkan bahwa permintaan global lemah dan potensi kenaikan kembali kasus virus corona Covid-19 bakal membebani pemulihan dalam jangka panjang.

Negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu dilaporkan sudah kembali menjalani kehidupan sehari-harinya, setelah wabah virus dan karantina luas mendorong terhentinya berbagai kegiatan pada awal tahun.

Tetapi para ekonom memperingatkan bahwa momentum tersebut dapat melemah pada semester kedua 2020 mengingat pasar-pasar besar sedang berjuang untuk pulih dari krisis. Juga karena pesanan untuk pasokan medis di luar negeri – yang sempat mendongkrak ekspor – dan berada di puncak kemudian menyusut

Purchasing Managers' Index (PMI) Tiongkok – alat ukur aktivitas di pabrik-pabrik – menunjukkan angka 50,9 poin pada Juni. Catatan ini jauh lebih baik dari perkiraan 50,5 dalam jajak pendapat para analis Bloomberg News, dan meningkat 0,3 poin dari Mei. Sebagai informasi, indeks yang menunjukkan angka di atas 50 poin akan dipandang sebagai ekspansi.

Menurut Biro Statistik Nasional, indeks PMI non-manufaktur naik dari 53,6 poin menjadi 54,4 poin. Catatan indeks ini bakal dianggap bahwa, laju ekonomi perlahan-lahan bangkit dari situasi pandemi penyakit, setelah didera penyusutan pada Kuartal I-2020 untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Ahli statistik senior NBS, Zhao Qinghe mencatatkan kenaikan mengejutkan ketika penawaran dan permintaan terus meningkat pada Juni. Sementara itu impor dan ekspor juga tampak lebih baik, karena pasar-pasar utama global telah memulai kembali kegiatan ekonominya.

Meski demikian, dia memperingatkan soal masih adanya “ketidakpastian”. Pasalnya indeks impor dan ekspor tercatat berada di bawah level 50, dan sejumlah besar perusahaan kecil melaporkan penurunan jumlah pesanan.

Ekonom UOB Ho Woei Chen mengatakan kepada AFP, kinerja usaha kecil yang lebih buruk menunjukkan bahwa Pemerintah Tiongkok perlu terus memberikan dukungan yang ditargetkan.

Sementara itu, walau ada pemulihan yang relatif baik pada Kuartal II-2020, Kepala ekonom Nomura Tiongkok Lu Ting mencermati krisis yang mengadang di depan dan ketidakpastian yang sangat tinggi. “Momentum itu bisa kehilangan kekuatannya dalam beberapa bulan mendatang,” ujar dia seraya mengingatkan.

Pesanan Ekspor

Lu mengatakan kepada AFP, bahwa kenaikan yang dialami PMI manufaktur mungkin didorong oleh tambahan pesanan ekspor baru, meskipun masih berada di wilayah kontraksi. Dia menambahkan, penurunan dalam sub-indeks ketenagakerjaan pun ntidak menjadi pertanda baik.

Rebound dalam kasus Covid-19 baru di Beijing, dan beberapa kota di sekitarnya merupakan pukulan telak bagi sektor jasa,” katanya, seraya menambahkan bahwa data terbaru menunjukkan tidak ada pemulihan yang pasti di sektor pariwisata dalam beberapa bulan terakhir.

Perdana Menteri (PM) Tiongkok Li Keqiang sendiri telah menjadikan stabilisasi pekerjaan sebagai prioritas utama. Dia menargetkan lapangan pekerjaan perkotaan baru lebih dari sembilan juta – turun dari 11 juta yang ditargetkan pada 2019 – pasca pandemi melanda.

Martin Rasmussen dari Capital Economics mengungkapkan, pengiriman dari luar negeri tampak siap untuk mundur meskipun ada peningkatan pesanan ekspor. Ini karena permintaan untuk produk-produk terkait virus, seperti masker yang diperlukan dalam wabah global, cenderung melemah.

“Tetapi berlanjutnya penerbitan obligasi pemerintah yang cepat, berarti belanja infrastruktur harus tetap kuat dan membantu menjaga pemulihan tetap pada jalurnya,” ujar Rasmussen. (afp)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN