Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. ( Foto: AFP / Johannes Eisele

Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. ( Foto: AFP / Johannes Eisele

Wall Street Ambles Dilanda Aksi Jual

Kamis, 13 Mei 2021 | 07:30 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Ketiga indeks saham utama di bursa Wall Street ambles pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Investor melakukan aksi jual secara masif (sell off) pada saham-saham secara luas karena data inflasi memicu kekhawatiran tentang apakah kenaikan suku bunga dari Fed dapat terjadi lebih cepat dari yang diantisipasi.

Laporan harga konsumen dari Departemen Tenaga Kerja bulan April, semalam, menunjukkan kenaikan terbesar dalam hampir 12 tahun. Harga konsumen inti (CPI), tidak termasuk item makanan dan energi yang mudah menguap, tumbuh sebesar 3% (yoy), melesat di atas target pertumbuhan inflasi tahunan rata-rata bank sentral sebesar 2%.

Dow Jones Industrial Average turun 681,5 poin, atau 1,99% menjadi 33.587,66, S&P 500 kehilangan 89,06 poin, atau 2,14% menjadi 4.063,04 dan Nasdaq Composite turun 357,75 poin, atau 2,67% menjadi 13.031,68.

“Topik yang ada di benak setiap orang jelas tentang inflasi,” kata Matthew Keator, managing partner di Keator Group, sebuah firma manajemen kekayaan di Lenox, Massachusetts.

Pelaku pasar, kata dia, khawatir data inflasi ini akan mengubah kebijakan The Fed tentang suku bunga. Lonjakan permintaan akibat konsumen dibanjiri oleh stimulus bertabrakan dengan kekeringan pasokan, mengirimkan harga komoditas melonjak. Sementara itu, kekurangan tenaga kerja mendorong upah lebih tinggi.

Stuart Cole, kepala ekonom makro di Equiti Capital di London mengkhawatirkan ekonomi AS bisa kepanasan (overheating). "Ke depan, pertanyaan besarnya adalah berapa lama The Fed dapat mempertahankan sikap dovishnya terhadap pasar," katanya.

Dari 11 sektor utama di S&P 500, 10 ditutup di wilayah negatif, dengan sektor konsumen turun paling banyak. Energi adalah satu-satunya pemenang, naik 0,1%, didorong oleh kenaikan harga minyak mentah.

Saham-saham padat teknologi (bigtech), termasuk Amazon.com Inc, Apple Inc, Alphabet Inc, Microsoft Corp dan Tesla Inc, turun antara 2% dan 3% karena investor menghindar dari valuasi yang berlebihan.

Indeks Volatilitas CBOE, ukuran kecemasan pasar, ditutup pada 27,64, level tertinggi sejak 4 Maret.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN