Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana di lantai New York Stock Exchange (NYSE) di Wall Street, New York City, Amerika Serikat (AS). AFP / Johannes EISELE

Suasana di lantai New York Stock Exchange (NYSE) di Wall Street, New York City, Amerika Serikat (AS). AFP / Johannes EISELE

Wall Street Ditutup Terkoreksi karena Ketidakpastian Pandemi Covid-19

Listyorini, Rabu, 8 April 2020 | 06:51 WIB

NEW YORK, Investor.id Setelah sempat melambung sekitar 4%, indeks saham utama di pasar Wall Street akhirnya terkoreksi dan diutup di zona merah pada perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Investor kembali dilanda ketakutan karena ketidakpastian seputar pandemi virus corona (Covid-19).

Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,12% menjadi 22.653,8, padahal Dow sempat naik 4,1%. Sementara itu, indeks S&P 500 turun 4,27 poin atau 0,16% menjadi 2.659,41 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun 25,98 poin atau 0,33% menjadi 7.887,26 poin.

Pergerakan saham di Wall Street sangat volatile. Dipicu oleh tanda-tanda mulai landainya kurva virus di beberapa titik pusat penyebaran Covid-19, seperti New York, optimisme investor mulai muncul sehingga rally penguatan berlanjut. Namun pada penutupan terkoreksi dan tergelincir ke zona merah.

Awal pemulihan Wall Street dari kejatuhan yang sangat dalam merupakan respons pemberian stimulus besar-besaran dari Pemerintah dan Bank Sentral AS untuk merestorasi ekonomi yang rusak akibat Covid-19. Namun, kini banyak investor tetap skeptis bahwa rally Wall Street baru-baru ini merupakan awal dari pemulihan berkelanjutan.

Scott Wren, ahli strategi ekuitas global senior di Wells Fargo Investment Institute di St. Louis, adalah di antara banyak investor yang skeptis. "Pasar masih rentan. Katakanlah berita virus berubah menjadi lebih buruk. Pasar tidak akan menyukainya. Atau pemerintah tidak bisa memberikan stimulus fiskal ke tangan bisnis dengan cukup cepat, itu akan menjadi masalah," Wren memperingatkan seperti dikutip oleh Reuters.

Sementara itu, data indeks kepercayaan pemilik usaha kecil terhadap ekonomi AS turun paling besar pada Maret ketika wabah virus corona menghancurkan perekonomian, menurut Federasi Nasional Bisnis Independen (NFIB). Indeks Optimisme Bisnis Kecil NFIB turun 8,1 poin pada Maret menjadi 96,4, penurunan bulanan terbesar dalam sejarah survei.

"Pasar saham masih berada pada kondisi melemah (bearish). Kekhawatiran saya saat ini adalah bagaimana menghindari depresi ekonomi," kata CEO Lake Avenue Financial, Alex Chalekian.

Investor jmasih memantau tentang pandemi Covid-19. Pada Selasa sore (7/4/2020), lebih dari 386.000 kasus yang dikonfirmasi telah dilaporkan di Amerika Serikat, dengan 12.285 kematian, menurut data dari Pusat Sains dan Teknik Sistem (CSSE) di Universitas Johns Hopkins.

Sejumlah investor menilai, kinerja saham akan terbebani dampak ekonomi akibat virus corona setelah kuartal kedua. "Risiko downside (turun) lebih besar dibanding peluang naik dari titik di mana kita berdiri hari ini," kata Chief Equity Strategist Goldman Sachs David Kostin.

Di AS, jumlah kasus baru Covid-19telah turun dalam beberapa hari terakhir dari puncaknya. Pada Selasa (7/4/2020), Gubernur New York Andrew Cuomo melaporkan lonjakan kematian dalam satu hari terbesar, namun pertumbuhan jumlah pasien rawat inap melambat. Sementara itu, jumlah kasus di Italia dan Spanyol, dua negara yang paling parah, juga berkurang.

Di Asia, Korea Selatan melaporkan kurang 50 kasus baru untuk hari kedua. Tiongkok juga mencatat tidak ada kematian baru pada 6 April, atau pertama kalinya sejak Januari. Kedua negara di Asia ini tercatat memiliki lonjakan infeksi pada awal wabah.


 

Sumber : REUTERS

BAGIKAN