Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Trader bertransaksi di lantai perdagangan New York Stock Exchange (NYSE), AS. Foto: Spencer Platt/Getty Images/AFP

Trader bertransaksi di lantai perdagangan New York Stock Exchange (NYSE), AS. Foto: Spencer Platt/Getty Images/AFP

Wall Street Turun 4%, Tersandung Kasus Covid AS yang Lewati 100.000

Listyorini, Sabtu, 28 Maret 2020 | 08:32 WIB

NEW YORK, Investor.id - Setelah rally tiga hari berturut-turut, indeks saham Wall Street kembali tersandung kasus virus corona (Covid-19) di AS. Data yang menyebutkan bahwa kasus Covid 19 di AS melebihi 100.000 membuat indeks Wall Street tersungkur, turun 4%.

Kasus Covid 19 yang melebihi 100.000 menunjukkan bahwa penyebaran virus corona di AS sudah melampaui Tiongkok dan Italia yang selama ini dinilai sebagai negara yang mempunyai kasus terbanyak.

“Kami masih belum sepenuhnya memahami tingkat dampak ekonomi dari penyebaran virus corona." kata Massud Ghaussy, analis senior di Nasdaq IR Intelligence di New York.Ketidakpastian kembali meliputi pasar, dan aksi jual kembali terjadi,” katanya seperti dikutip Reuters.com.

Pada Jumat (Sabtu pagi), Dow Jones Industrial Average terpangkas 4,06% menjadi 21.636.78, S&P turun 3,37% menjadi 2.542,47, dan indeks Nasdaq terkoreksi 3,79% menjadi 7.502,38.

Setelah Wall Street ditutup, Presiden Donald Trump menandatangani paket stimulus fiskal senilai US$ 2 triliun menjadi undang-undang. UU yang bertujuan mengurangi kerusakan ekonomi AS terhadap wabah Covid tersebut dalam tiga hari sebelumnya menyebabkan rally penguatan secara berturut-turut.

AS habis-habisan untuk menggerakkan roda ekonominya yang terpuruk akibat Covid 19. Sebelumnya, Bank Sentral AS (The Fed) juga memompa likuiditas di pasar melalui kebijakan Quantitative Easing (QE) tanpa batas dan memangkas suku bunga acuan nyaris nol persen.

Paket stimulus fiskal bersama dengan pelonggaran kebijakan Federal Reserve yang belum pernah terjadi sebelumnya, membantu S&P 500 .SPX melonjak 10,2% dalam minggu ini, minggu terbaik sejak 2009.

Sementara itu, Dow dalam tiga hari sebelumnya juga menunjukkan kinerja terkuat sejak 1931. Dow melonjak 21% dalam tiga hari berturut-turut hingga Kamis, yang seolah memberi sinyal bullish. Jika dikurangi dengan penurunan akhir pekan sebesar 4,06%, Dow masih mencatatkan kenaikan 12,8% , minggu terbaik sejak 1938.

Saham AS memperdalam kerugian mereka di akhir sesi hari Jumat, bahkan setelah Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui paket bantuan $ 2 triliun, yang terbesar dalam sejarah Amerika,

Paket stimulus tersebut untuk membantu orang dan perusahaan mengatasi penurunan ekonomi yang disebabkan oleh wabah Covid 19 dan juga membangun RS serta ketersediaan supali alat-alat medis. Meskipun demikian, banyak investor melihat risiko yang kuat bahwa pasar dapat jatuh jauh lagi karena infeksi coronavirus meningkat dan lebih banyak orang meninggal.

"Minggu depan akan tergantung pada apa yang terjadi selama akhir pekan," kata Lindsey Bell, kepala strategi investasi di Ally Invest. "Jika ada percepatan besar dalam penanganan kasus virus corona di New York, akan memberikan sentimen positif. Sebaliknya, jika tidak ada langkah signifikan akan menjadi minggu yang berat bagi pasar ke depannya,” katanya.

Indikator ekonomi makro menawarkan sekilas tentang kehancuran ekonomi akibat krisis karena pemberlakuan loockdown di kota-kota besar yang merusak kehidupan jutaan orang Amerika. Sentimen konsumen AS turun ke level terendah pada bulan Maret, menurut survei yang dirilis pada Jumat, sehari setelah data klaim pengangguran dirilis.

Departemen Tenaga Kerja AS mengeluarkan rilis bahwa klaim pengangguran untuk mengukur tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai 3.283.000 atau meningkat 3.001.000 dalam pekan yang berakhir 21 Maret.

Sumber : REUTERS

BAGIKAN