Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) terpampang di sebelah gedung kantor pusat di Jenewa, Swiss. Foto: Fabrice COFFRINI / AFP

Logo Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) terpampang di sebelah gedung kantor pusat di Jenewa, Swiss. Foto: Fabrice COFFRINI / AFP

WHO: Risiko Omicron Tetap Sangat Tinggi

Kamis, 27 Januari 2022 | 10:53 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

JENEWA, investor.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa tingkat risiko dari varian omicron virus Covid-19 tetap sangat tinggi. Setelah jumlah kasus baru Covid-19 mencapai rekor tertinggi pekan lalu.

Lebih dari 21 juta kasus baru telah dilaporkan, mewakili jumlah kasus mingguan tertinggi yang tercatat sejak awal pandemi,” kata WHO dalam pembaruan mingguan epidemiologi virus corona, Rabu (26/1).

Badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut mengatakan jumlah infeksi baru meningkat 5% dalam sepekan hingga Minggu (23/1).

Angka tersebut melambat dibandingkan dengan kenaikan 20% yang terdaftar di pekan sebelumnya. “Peningkatan kasus yang lebih lambat diamati di tingkat global,” kata WHO.

Virus Omicron. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST
Virus Omicron. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST

Hampir 50.000 kematian baru juga dilaporkan, tambahnya. Angka ini relative sama dengan minggu sebelumnya. Laporan itu menjelaskan varian Omicron terus meningkatkan dominasinya secara global atas varian lain yang menjadi perhatian (variants of concern/ VoC).

“Epidemiologi global SARS-CoV-2 saat ini ditandai dengan dominasi varian Omicron dalam skala global, di samping penurunan prevalensi varian Delta. Sedangkan tingkat sirkulasi varian Alpha, Beta, dan Gamma sangat rendah,” kata WHO.

Badan PBB tersebut melanjutkan, negara-negara yang mengalami peningkatan pesat kasus Omicron pada November-Desember 2021 telah atau mulai mengalami penurunan kasus. Namun, berdasarkan bukti yang tersedia saat ini, risiko keseluruhan yang terkait dengan varian Omicron tetap sangat tinggi.

WHO mengatakan bahwa menurut sampel yang dikumpulkan dalam 30 hari terakhir yang telah diurutkan dan diunggah ke inisiatif sains global GISAID, varian Omicron menyumbang 89,1% kasus. Sementara varian Delta, yang sebelumnya merupakan varian dominan di dunia, kini mencapai 10,7%.

Kemungkinan Varian Baru

Varian Covid-19 berikutnya yang akan menjadi perhatian dunia mungkin akan lebih menular daripada Omicron. Tetapi pertanyaan yang perlu dijawab para ilmuwan adalah apakah varian baru akan lebih mematikan atau tidak, kata pejabat WHO.

“VoC berikutnya akan lebih menular karena harus menyalip apa yang saat ini beredar. Pertanyaan besarnya adalah apakah varian (yang muncul di) masa depan akan lebih atau kurang parah,” kata pimpinan teknis WHO untuk Covid-19 Maria Van Kerkhove.

Dia mengingatkan masyarakat agar tidak langsung percaya pada teori bahwa virus akan terus bermutasi menjadi jenis yang lebih ringan, yang membuat orang tidak terlalu sakit daripada varian sebelumnya.

“Tidak ada jaminan untuk itu. Kami berharap itu terjadi, tetapi tidak ada jaminan untuk itu dan kami tidak dapat mengandalkannya,” imbuhnya.

Ia mencatat bahwa orang-orang harus tetap menjalankan langkah -langkah keselamatan publik untuk sementara. Terlebih lagi, pengulangan Covid-19 berikutnya juga dapat menghindari perlindungan tubuh manusia dari vaksin, atau dapat membuat vaksin yang ada menjadi kurang efektif. Pfizer dan BioNTech pada Selasa (25/1) mulai menguji vaksin Covid-19 yang secara khusus menargetkan varian Omicron.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC AS) dalam penelitian yang diterbitkan minggu lalu menemukan bahwa dosis booster vaksin Pfizer hingga 90% efektif untuk mencegah rawat inap dari Omicron, 14 hari setelah suntikan ketiga diberikan. (afp/sumber lain)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN