Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. ( Foto: SAUL LOEB / AFP )

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. ( Foto: SAUL LOEB / AFP )

Yellen Sarankan Perusahaan Naikkan Upah

Kamis, 21 Oktober 2021 | 06:55 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Amerika Serikat (AS) Janet Yellen pada Rabu (20/10) menyarankan perusahaan-perusahaan swasta, khususnya yang bergerak di sektor jasa, untuk menaikkan upah. Kebijakan ini diperlukan guna mengatasi kekurangan tenaga kerja yang sekarang dihadapi oleh perekonomian AS.

“Adalah bagus (bila) upah naik dan kondisi kerja membaik bagi orang-orang yang bekerja di sektor-sektor berupah rendah. Kita sudah sangat lama menginginkan ini terjadi,” kata Yellen, dalam wawancara dengan MSNBC dan dikutip AFP.

Perusahaan-perusahaan swasta di seluruh AS saat ini kesulitan menemukan pekerja untuk mengisi posisi-posisi yang mereka buka. Khususnya perusahaan-perusahaan jasa seperti restoran dan hotel. Sedangkan perusahaan besar seperti Amazon dan Walmart sudah menaikkan upah demi menarik minat banyak pekerja jelang musim liburan akhir tahun ini.

“Mereka (perusahaan sektor jasa) harus menaikkan upah dan kami akan menjadi bagian dari penyesuaian tersebut,” kata Yellen.

Kebijakan seperti itu, kata Yellen, baik bagi para pekerja. Karena kebanyakan pekerja di sektor jasa sudah lama menderita karena kondisi kerja tidak bagus dan upah yang rendah.

Namun laba perusahaan-perusahaan AS hanya naik tipis dalam beberapa bulan terakhir. Namun mulai meningkat seiring kegiatan ekonomi bergulir kembali. Tapi, laju inflasi juga meningkat sehingga menggerus kenaikan laba tersebut.

Kalangan analis berpendapat, walau pandemi Covid-19 telah memperbesar dan menggarisbawahi kekurangan tenaga kerja tersebut, tapi akar permasalahannya sudah ada sejak sebelum pandemi.

“Kurangnya tenaga kerja terampil tidak hanya gejala berikut dari ekonomi pascakarantina, tapi juga buah dari pembangunan fundamental di AS, juga di zona euro dan Inggris,” tulis para ekonom ING, yakni Carsten Brzeski, James Knightley, Bert Colijn, dan James Smith pada Selasa (19/10).


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN