Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. ( Foto: SAUL LOEB / AFP )

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. ( Foto: SAUL LOEB / AFP )

Yellen: Suku Bunga Harus Naik Jika Ekonomi Memanas

Kamis, 6 Mei 2021 | 05:24 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Janet Yellen mengatakan pada Selasa (4/5) waktu setempat bahwa suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) kemungkinan harus dinaikkan demi menekan laju inflasi, apabila usulan anggaran belanja terbaru pemerintahan Presiden Joe Biden diberlakukan dan ekonomi memanas.

Komentar Yellen itu pun langsung memicu turbulensi kecil dan mendorong harga saham jatuh. Dia kemudian menyampaikan klarifikasi bahwa dirinya tidak memprediksi atau menganjurkan The Federal Reserve (The Fed ) untuk menaikkan suku bunga.

Menurut informasi, setelah mendapat persetujuan atas paket rencana penyelamatan pandemi senilai US$ 1,9 triliun pada Maret. Biden mengajukan dua proposal lagi dengan nilai total hampir US$ 4 triliun selama dalam satu dekade, di mana sebagian akan dibiayai dengan mengenakan kenaikan pajak terhadap perusahaan-perusahaan dan orang-orang kaya.

Proposal yang diajukan Biden tersebut bertujuan mengubah perekonomian Amerika Serikat (AS) pasca pandemi Covid-19, yang menjadi penyebab tren penurunan parah pada 2020.

“Mungkin tingkat suku bunga harus naik untuk memastikan bahwa ekonomi kita tidak terlalu panas,” ujar Yellen dalam percakapan yang direkam sebelumnya dengan majalah The Atlantic, yang dikutip AFP.

Namun, dia mengatakan jika belanja tambahan relatif kecil dibandingkan ukuran ekonomi dan melebihi kerangka waktu yang lebih besar daripada belanja penyelamatan pandemi, yang berfokus pada kebutuhan mendesak pekerja dan keluarga.

Meskipun Yellen mengakui pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dapat menyebabkan kenaikan suku bunga yang sangat kecil, Amerika Serikat membutuhkan investasi agar kompetitif dan produktif.

Di samping itu The Fed telah berjanji untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol sampai lapangan kerja pulih, dan inflasi bertahan di atas tingkat target 2% untuk beberapa waktu. Tetapi para ekonom dan investor sudah melontarkan peringatan, bahwa pengeluaran pemerintah akan menyebabkan pergerakan inflasi.

Gubernur The Fed Jerome Powell dan yang lainnya telah mencoba meredam kekhawatiran tersebut. Mereka menuturkan, kenaikan harga dalam jangka pendek disebabkan oleh rebound dari dampak Covid-19 luar biasa serta masalah pasokan, di saat aktivitas ekonomi dilanjutkan.

Kembali ke Jalur

Yellen – yang pernah menjadi gubernur The Fed – sepakat bahwa lonjakan harga akan bersifat sementara.

“Saya tidak berpikir akan ada masalah inflasi. Tetapi jika ada, The Fed dapat diandalkan untuk mengatasinya," katanya dalam konferensi yang diselenggarakan oleh The Wall Street Journal.

Yellen juga menekankan menghormati independensi The Fed, dan tidak akan memberikan saran soal arah kebijakan. Dia optimistis tentang prospeknya, dan memprediksi kegiatan ekonomi AS akan kembali berjalan penuh tahun depan. “Saya pikir ekonomi akan kembali ke jalurnya,” katanya.

Dalam upaya untuk meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan di tahun-tahun mendatang, Biden telah mengusulkan Rencana Pekerjaan Amerika senilai US$ 2 triliun. Paket ini bakal digunakan untuk mendanai proyek-proyek renovasi jalan dan jembatan, juga teknologi hijau, serta memperluas akses broadband internet dan memperbaiki pasokan air rumah tangga.

Sedangkan proposal terbarunya, Rencana Keluarga Amerika yang bernilai US$ 1,8 triliun ditujukan untuk membiayai perawatan anak, pendidikan dasar dan perguruan tinggi serta universitas-universitas.

Menanggapi pertanyaan tentang belanja besar-besaran, Yellen mengungkapkan pentingnya defisit pemerintah tetap kecil dan terkelola. “Itulah sebabnya Gedung Putih mengusulkan beberapa kenaikan pajak untuk membayar investasi, serta memperketat pengumpulan pajak dengan menutup celah,” ujarnya.

“Sungguh mengejutkan, dan menyedihkan melihat perkiraan yang menunjukkan adanya kesenjangan antara apa yang kami kumpulkan dalam pajak di bawah undang-undang perpajakan kami, dan apa yang harus kami kumpulkan jika semua orang membayar pajak yang jatuh tempo. Jumlahnya lebih dariUS$ 7 triliun selama satu dekade. Dan lami mencoba membuat langkah-langkah yang berarti untuk menutup celah itu,” demikian penjelasan Yellen.
 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN