Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Yen Terus Menguat, Ekspor Jepang Kembali Terhambat

Jumat, 19 Agustus 2016 | 07:47 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

TOKYO – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Jepang pada Kamis (18/8) melaporkan bahwa ekspor pada Juli 2016 mencatat penurunan bulanan tertajam dalam tujuh tahun. Lonjakan nilai tukar yen menggelayuti perdagangan sehingga pengiriman mobil, kapal, dan baja semuanya jatuh.

 

Padahal Jepang mencatat surplus perdagangan lebih besar dari perkiraan, karena impor juga turun pada laju tercepat sejak 2009. Kemenkeu Jepang melaporkan, nilai ekspor bulan lalu anjlok 14% dari tahun sebelumnya sehingga sudah 10 bulan berturut-turut turun.

 

Sementara impor merosot hamper 25% sehingga Jepang mendapatkan surplus perdagangan 513 miliar yen atau setara US$ 5,1 miliar. Berarti terjadi pembalikan karena tahun sebelumnya defisit dan nilai surplus lebih besar dibandingkan 273,2 miliar yen yang diperkirakan oleh para ekonom.

 

Namun data ekspor pada Kamis menjadi pengingat terbaru bahwa resep-resep perbaikan dari pemerintahan Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe untuk memacu pertumbuhan belum juga manjur.

 

Data terpisah pekan ini menunjukkan produk domestic bruto (PDB) Jepang stagnan pada kuartal April-Juni 2016, meski pemerintah sudah menggelontorkan belanja besar-besaran dan bank sentral memacu pelonggaran moneter. Jepang mencatatkan pertumbuhan ekonomi nol persen pada kuartal II-2016.

 

Sedangkan ekspektasi para ekonom adalah ekspansi moderat sebesar 0,2%. Stagnasi terjadi karena ekspor lesu dan penurunan belanja bisnis mengurangi aktivitas ekonmi. Para eksportir utama Jepang telah mengurangi aktifitas karena rally tajam yen membuat produknya kurang kompetitif di pasar luar negeri sehingga keuntungan turun.

 

Sementara itu, gejolak di pasar keuangan global sejak awal tahun ini dan keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa (UE) telah memicu permintaan untuk yen, yang dipandang sebagai investasi aman pada saat terjadi gejolak. (afp/leo)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN