Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mata uang yuan Tiongkok. ( Foto: AFP/FILE )

Mata uang yuan Tiongkok. ( Foto: AFP/FILE )

Yuan Digital Berpotensi Menyaingi Dolar AS

Senin, 26 Juli 2021 | 06:13 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

BOSTON, investor.id – Inovasi Tiongkok dalam uang digital dinilai sudah mengungguli Amerika Serikat (AS) dan dianggap berpotensi menganggu status dolar AS sebagai mata uang utama dunia untuk cadangan devisa.

Menurut hasil riset Digital Currency Initiative dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan The Fed Boston, seperti dilansir CNBC akhir pekan lalu, sudah hampir 80 negara di seluruh dunia, termasuk Tiongkok dan AS, yang dalam proses mengembangkan mata uang digital bank sentral atau Central Bank Digital Currency (CBDC). Ini merupakan bentuk uang yang sah sebagai alat pembayaran, tapi sepenuhnya online.

Tiongkok sudah meluncurkan yuan digital kepada lebih dari satu juga warganya. Sedangkan AS masih fokus pada risetnya.

Kedua lembaga yang melaksanakan riset itu sedang meneliti bagaimana mata uang digital itu di mata warga AS. Masalah privasi menjadi salah satu sumber perhatian, sehingga para peneliti dan analisis saat ini sedang mengamati bagaimana efek dari peluncuran yuan digital di Tiongkok.

“Saya pikir jika nantinya ada dolar digital, privasi akan menjadi bagian sangat penting daripadanya. AS sangat berbeda dibandingkan Tiongkok,” ujar Neha Narula, direktur lembaga di Lab Media MIT tersebut.

Masalah lainnya adalah akses. Menurut hasil survei Pew Research Center, sebanyak 7% responden mengaku tidak menggunakan internet. Di kalangan warga kulit hitam, proporsinya mencapai 9% dan di antara warga berusia 65 tahun ke atas mencapai 25%. Sementara warga dengan disabilitas mencapai tiga kali lipat dibandingkan warga yang normal yang mengatakan tidak pernah memakai internet.

“Sebagian besar penelitian kami sejauh ini jatuh pada asumsi bahwa CBDC akan bersandingan dengan uang tunai dan masyarakat masih dapat menggunakan uang tunai sesuai keinginannya,” tambah Narula.

Penelitian tentang CBDC di AS juga bertujuan, antara lain, untuk menjamin bahwa dolar akan tetap menjadi alat moneter terdepan dalam perekonomian dunia.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN