Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Denon Berriklinsky Prawiraatmadja, CEO Whitesky Group (foto: Investor Daily/Heri Gagarin)

Denon Berriklinsky Prawiraatmadja, CEO Whitesky Group (foto: Investor Daily/Heri Gagarin)

Denon Berriklinsky Prawiraatmadja, CEO Whitesky Group

Bekerjalah Mengikuti Passion

Selasa, 24 Mei 2022 | 09:00 WIB
Novy Lumanuw (redaksi@investor.id)

Dalam bekerja jangan sekali-kali mengandalkan ambisi. Bekerjalah mengikuti gairah (passion) agar dapat merasakan, sekaligus menikmati prosesnya. Bekerja mengikuti passion juga berarti menyalurkan isi hati dalam menggapai sebuah harapan, sehingga memberikan makna tersendiri bagi kehidupan. Sebab bekerja mengikuti passion akan membuahkan hasil yang baik dan menghadirkan kepuasan batin.

Memang tidak mudah untuk bekerja mengikuti passion. Selain butuh waktu, semangat, dan dedikasi, bekerja dengan passion memerlukan keuletan dan ketekunan agar apa yang diraih sesuai harapan, meskipun banyak tantangan dan godaan yang mengadang.

Falsafah hidup itu dipegang teguh Denon Berriklinsky Prawiraatmadja, chief executive officer (CEO) Whitesky Group, sebuah kelompok usaha yang bergerak di bidang penerbangan (aviasi). Setelah 12 tahun bergelut dan mengalami jatuh bangun memajukan usahanya, kini Denon patut berbangga atas karya yang telah dibangunnya.

Perusahaan yang awalnya bernama PT Kura-Kura Aviation itu kini tumbuh menjadi Whitesky Group. Bahkan, Whitesky Group telah melebarkan sayapnya melalui kemitraan dengan TNI Angkatan Udara (AU) dan PT Angkasa Pura II dalam pengembangan Bandar Udara (Bandara) Halim Sky Perdana, yang sebelumnya bernama Halim Perdanakusuma.

Wartawati Investor Daily, Novy Lumanauw dan pewarta foto, U Heri Gagarin mewawancarai Denon di Cengkareng, Provinsi Banten, belum lama ini. Berikut petikannya:

Anda memutuskan keluar dari dunia arsitektur dan memilih bisnis penerbangan, apa alasannya?

Saya sama sekali tidak mempunyai latar belakang penerbangan atau aviasi. Saya sekolah arsitek. Karakter saya sejak kecil adalah merasa tertantang untuk mengerjakan sesuatu hal yang baru. Saat saya melihat bisnis penerbangan, jujur pada 2010, saya memiliki optimisme untuk membangun industri penerbangan. Hidup itu kalau tidak ada tantangan, ya pasti tidak ada peluang. Itulah yang saya tekuni.

Berarti bisnis penerbangan adalah mimpi besar Anda?

Benar. Kalau mau ambil peluang, kita harus mengatasi tantangan itu. Bisnis helikopter sudah ada di Indonesia sekitar 30-40 tahun sebelum kami membangun Whitesky Group.

Awalnya saya melihat bahwa nature bisnis transportasi helikopter rata-rata berbasis kontrak. Ada yang kontrak lima tahun, dibayar. Tinggal mengatur antara pendapatan dan pengeluaran saja.

Tapi kalau melihat siklus bisnis, biasanya setelah 20 tahun ke atas marginnya mengecil. Persaingannya semakin banyak, pembeli semakin pintar menawar, dan makin jago. Jadi, siklus bisnis kalau sudah di atas 20 tahun biasanya marginnya kecil. Apalagi pada 2019, harga lelang-lelang tidak lagi terlalu bagus.

Kapan kira-kira masa keemasan bisnis transportasi helikopter?

Saya sempat merasakan harga yang bagus waktu menjadi vendor perusahaan pertambangan batu bara, minyak dan gas (migas), serta perkebunan di Kalimantan. Setelah 2014, saat terjadi pengurangan ekspor bahan mentah, bisnis transportasi helikopter memudar.

Ditambah lagi bisnis migas saat itu mengalami kemerosotan tajam sehingga banyak perusahaan melakukan efisiensi. Sebab, lebih dari 50% pasar helikopter di seluruh dunia adalah perusahaan migas. Sisanya militer, sipil, medis, dan lain sebagainya.

Strategi Anda untuk bertahan?

Kalau punya mimpi besar, kita harus siap menghadapi badai. Kalau kita tidak siap menghadapi badai, jangan pernah mempunyai mimpi besar. Itu yang pertama tentang hidup saya.

Kedua, saya percaya bahwa Tuhan sayang dan selalu memberikan petunjuk kepada saya. Tentu, balik lagi kepada kita. Apakah kita menganggap kesuksesan hanya terjadi begitu saja atau memang itu petunjuk dari Tuhan.

Jadi, dua hal itu yang selalu saya pegang. Yang pasti, dalam mengejar karier, saya selalu mengikuti apa yang saya suka. Apa yang menjadi passion saya.

Tantangan apa saja yang Anda hadapi?

Tantangan pasti banyak. Tetapi selama saya meyakini bahwa Tuhan itu sayang kepada saya, alhamdulillah selalu ada jalan. Di setiap kesulitan, di setiap rintangan yang ada, di setiap kebuntuan, dan di setiap rasa lelah, Tuhan selalu hadir. Saya seringkali berhadapan pada situasi, di mana saya merasa bahwa campur tangan Tuhan itu luar biasa dalam hidup saya.

Filosofi hidup Anda?

Falsafah hidup saya adalah follow your passion. Don’t follow your ambition. Kalau follow your passion, kita akan bisa lebih menikmati proses. Saya merasa hidup itu adalah bagaimana kita mengerjakan suatu pekerjaan, dan kita harus bisa menikmati  pekerjaan itu. Jadi, follow your passion. Don’t follow your ambition.

Nilai-nilai ini juga Anda terapkan di perusahaan?

Ya, benar. Sebab dalam berkarier dan berbisnis, saya lebih cenderung mencari bagaimana caranya bisa menikmati proses. Saya rasa, di seluruh dunia, orang-orang yang jauh lebih sukses dari saya tidak ada yang tidak pernah melewati masa-masa sulit. Siapa pun pasti pernah mengalami masa pasang surut dalam menjalankan roda usaha. Itulah bagian dari proses hidup.

Anda di masa lalu pernah membayangkan akan menjadi pemilik sebuah kelompok usaha penerbangan?

Ha,ha,ha… Pertanyaan yang sulit dijawab. Baiklah, saya akan berusaha menjelaskannya. Pada 2010, saya mengakuisisi perusahaan penerbangan PT Kura-Kura Aviation, yang saat itu hanya memiliki tiga unit pesawat fixed wings. Perusahaan saat itu berkedudukan di lantai dua sebuah rumah toko (ruko) di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Saat ini, salah satu perusahaan saya, yaitu PT Whitesky Aviation, menggandeng PT Angkasa Pura II, mengembangkan layanan ‘taksi terbang’ yang disebut Helicopter City Transport (Helicity). Fasilitas Helicity yang kami kembangkan sejak 2017 tersedia di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Apa yang Anda lakukan terhadap PT Kura-Kura Aviation sehingga tumbuh seperti sekarang?

Ada hal menggelitik yang terjadi pada hari pertama bekerja sebagai pemimpin sekaligus pemilik PT Kura-Kura Aviation. Saat ke kantor, saya memperkenalkan diri sebagai pemimpin baru perusahaan kepada seluruh karyawan.

Rupanya, PT Kura-Kura Aviation ini letaknya di lantai dua sebuah ruko. Saya sama sekali tidak tahu bahwa di ruko itu ada dua kantor berbeda. Di lantai satu adalah travel agent, yang berbeda pemiliknya, sedangkan di lantai dua yaitu PT Kura-Kura Aviation.

Setelah saya memperkenalkan diri sebagai pemilik baru perusahaan kepada teman-teman yang bekerja di ruko itu, salah seorang karyawan mengatakan kepada saya bahwa kantor PT Kura-Kura Aviation lokasinya di lantai dua. Apa mau dikata, saya hanya bisa tertawa.

Bisnis penerbangan sarat persaingan, apa kiat Anda?

Memang, aviasi ini bukan hanya suprastruktur saja, ada infrastrukturnya juga. Alhamdulillah, pada 23 Agustus 2010, kami membangun perusahaan Whitesky Aviation ini. Dulu, kantornya di Semarang, di lantai dua sebuah ruko, bukan ruko dua lantai karena di lantai pertama adalah kantor travel agent. Waktu itu, saya berpikir, mungkin itulah rezeki yang Tuhan berikan kepada saya.

Yang Anda rasakan setelah Whitesky sukses?

Bukannya sombong, pada 2010, kantor Whitesky di Semarang berlokasi di lantai dua sebuah ruko. Kemudian, pada 2020, Whitesky berhasil membangun kantor yang diberi nama Cengkareng Heliport, yang lokasinya berada tepat di samping Bandar Udara (Bandara) Soekarno-Hatta (Soetta).

Not bad-lah perkembangannya untuk kurun waktu 10 tahun. Sekarang kami punya heliport di Bandara Internasional Soetta, di atas lahan seluas 3 hektare.

Padahal bisnis saya tumbuh di tengah meredupnya aktivitas raksasa helikopter dunia, seperti Bristow Helicopters, The Advanced Heavy Lift (AHL) Helicopter, dan Canadian Helicopters Limited.

Memiliki kantor dekat Bandara Soetta adalah prestasi. Bagaimana caranya sehingga Whitesky mendapat kepercayaan pemerintah?

Saya patut berbangga mendapat kepercayaan pemerintah. Whitesky bermitra dengan PT Angkasa Pura II. Mekanisme kerja samanya adalah build operate transfer (BOT) yang dikenal sebagai kontrak atau perjanjian konsesi selama 30 tahun. Tidak semua orang bisa bermitra dengan PT AP II. Alhamdulillah, Tuhan memberikan rezeki kepada saya.

Mengapa Anda memilih Cengkareng sebagai lokasi heliport?

Sebenarnya ada beberapa alasan yang mendasari sehingga Cengkareng dijadikan sebagai lokasi heliport. Cengkareng Heliport terintegrasi dengan Bandara Soetta. Cengkareng Heliport juga telah disertifikasi oleh Direktorat Bandar Udara (DBU) sebagai Otoritas Bandara Indonesia, terdaftar sebagai anggota Helicopter Association International (HAI), dan mematuhi Standar Internasional untuk Operasi Pesawat Bisnis (ISBAO) Tahap 2. Tidak kalah adalah kami melakukan usaha jemput bola.

Whitesky juga punya heliport di tempat lain?

Saya bersyukur, sekarang Whitesky punya heliport di Ibu Kota Nusantara (IKN), di Kalimantan Timur. Sama luasnya dengan heliport di Cengkareng, yaitu 3 hektare, tetapi yang di IKN belum dibangun. Jadi, kalau ibu kota pemerintahan pindah ke IKN, Whitesky sudah punya heliport di sana.

Whitesky kabarnya akan menjadi salah satu pemilik Bandara Halim Perdanakusuma?

Whitesky Airport melalui anak usahanya, PT Angkasa Transportindo Selaras (ATS), memiliki konsesi dengan TNI AU dan bekerja sama dengan Angkasa Pura II. Whitesky Airport yang rencananya membangun Terminal akan menaikkan kapasitas penumpang dari 2 juta menjadi 8 juta penumpang per tahun.

Dapat dikatakan, si ‘Kura-Kura’ yang di berlokasi Semarang pada 2010, sekarang sudah tumbuh dan mempunyai heliport di Cengkareng dan di IKN. Juga sudah memiliki bandara dan Whitesky Jet. Alhamdulillah.

Ada rencana go public?

Rencananya saya akan melakukan initial public offering (IPO) saham. Mengenai waktu IPO, momennya harus pas. Jadi, saya tidak terlalu ngoyo. Kalau Tuhan kasih izin untuk IPO, ya kami lakukan IPO. Pasti akan ada jalan menuju IPO.

Adakah kiat-kiat khusus untuk memasyarakatkan helikopter?

Perjuangan saya untuk menjadikan helikopter sebagai moda transportasi umum seperti di Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lainnya tentu saja memerlukan kerja keras. Saya berprinsip, jangan pernah berpikir bahwa helikopter adalah mainan anak-anak orang kaya. Buang jauh-jauh pemikiran itu.

Dulu, saya ke sekolah juga naik bis. Dan, saya adalah generasi pertama di keluarga kami yang menjadi pengusaha. Ayah saya adalah karyawan PT Garuda Indonesia Tbk. Sampai saat ini, saya masih berjuang untuk menjadikan helikopter sebagai moda transportasi yang menarik.

Whitesky juga berkontribusi melayani masyarakat yang mudik Lebaran?

Ya, tentu saja. Pada mudik Lebaran tahun ini, kami membantu masyarakat yang akan mudik ke daerah Jawa Barat, khususnya Bandung dan Cirebon.

Saat itu, pemudik dapat menikmati layanan dengan tarif Rp 8 juta untuk tujuan Bandung dan Rp 12 juta ke Cirebon, dengan masing-masing tiga penumpang. Tarif ini kami tetapkan setelah melalui perjuangan panjang. Dulu, tarif perjalanan helikopter dari Jakarta ke Bandung sebesar Rp 80 juta per trip.

Layanan lain yang Anda tawarkan?

Ini adalah bagian dari upaya kami memasyarakatkan penggunaan helikopter. Saat ini, kami menawarkan layanan transportasi antarkota dan wisata keliling Jakarta menggunakan helikopter dengan harga khusus, yang meliputi beberapa daerah, seperti Puncak dan Bandung. Kami juga membantu perjalanan bisnis, medis, dan penanggulangan bencana.

Sebenarnya daya tarik bisnis angkutan helikopter ada di mana?

Terus terang, saya merasa tertantang untuk menjadikan angkutan helikopter sama dengan moda transportasi lainnya. Mengapa? Karena saya melihat di AS, helikopter banyak dipakai untuk kebutuhan medis, mempercepat perjalanan dalam mengatasi kemacetan lalu lintas, dan memenuhi kebutuhan bisnis pertambangan.

Helikopter tidak hanya sekadar alat transportasi udara yang menerbangkan manusia dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi juga untuk evakuasi, alat angkut berat, penanganan bencana. Kami masih membantu Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB).

Kemenhub sedang menyiapkan regulasi penerbangan helikopter malam hari, komentar Anda?

Saya berterima kasih mendengar kabar baik ini. Selama ini, saya berjuang agar harga transportasi helikopter bisa murah. Kalau helikopter bisa terbang malam, itu impian saya.

Bagaimana Anda mengelola waktu antara bisnis dan keluarga?

Keluarga adalah segala-galanya. Saya selalu berusaha memanfaatkan quality time bersama keluarga. Saya mengajak anak-anak untuk menemani saya di kantor. Istri juga saya libatkan dalam bisnis ini. Setiap saat, jika kangen anak-anak, saya pulang ke rumah.

Kami memanfaatkan waktu bersama dengan makan di restoran atau jalan-jalan, baik di dalam maupun luar negeri. Saya merasa bahagia berada di tengah keluarga. Kebetulan saya senang bermain golf. Hobi itu juga saya tularkan kepada anak saya. Alhamdulillah, anak saya sudah mengikuti turnamen golf. Saya bangga.***

Denon Berriklinsky Prawiraatmadja, CEO Whitesky Group (foto: Investor Daily/Heri Gagarin)
Denon Berriklinsky Prawiraatmadja, CEO Whitesky Group (foto: Investor Daily/Heri Gagarin)

Agar 'Taksi Terbang'  Akrab dengan Masyarakat

Cita-cita Denon Berriklinsky Prawiraatmadja yang belum tercapai adalah menjadikan helikopter sebagai 'taksi terbang' yang dapat digunakan berbagai kalangan masyarakat, dengan tarif terjangkau.

Orang nomor satu di Whitesky Group ini terus berinovasi dan membuat terobosan untuk mewujudkan cita-citanya, yaitu menjadikan helikopter akrab dengan masyarakat.

Denon juga belajar di AS dan Kanada untuk mencari tahu cara menciptakan struktur biaya yang murah. Upaya Denon berhasil. “Lima tahun lalu, tarif dari Jakarta ke Bandung Rp 80 juta per trip. Sekarang turun menjadi Rp 8 juta per trip. Ini berkat inovasi yang kami lakukan,” kata dia.

Pada 23 Agustus 2020, salah satu anak perusahaan Whitesky Group, PT Whitesky Aviation, menggandeng PT Angkasa Pura II dalam penyediaan layanan taksi terbang yang diberi nama Helicopter City Transport (Helicity). Helicity tersedia di sejumlah titik di wilayah Jabodetabek.

“Kelebihan Helicity adalah dapat berperan sebagai connecting flight dengan siapa saja yang terbang dari tengah kota Jakarta menuju bandara,” tutur Denon.

Denon mengakui, saat ini terjadi perubahan paradigma dalam penggunaan helikopter sebagai sarana transportasi udara. Di masa lalu, helikopter digunakan kalangan terbatas, yaitu konglomerat, militer, dan kepala negara untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Kini, peran helikopter makin luas. Selain sebagai taksi terbang, helikopter digunakan untuk pemadaman kebakaran hutan, ambulans terbang (heli medivac), dan connecting flight ke bandara.

Bahkan, pada mudik Lebaran 2022, taksi terbang Whitesky berkontribusi positif mengangkut pemudik dari Jakarta ke Bandung dan Cirebon. Saat ini, Whitesky juga melayani taksi terbang dan ambulans terbang rute Cengkareng–Cilegon PP, bekerja sama dengan The Grand Mangku Putra Arcade. (nov)
 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN