Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Billy Hartono Salim, Direktur Utama  PT Victoria Care Indonesia Tbk  (foto:ist)

Billy Hartono Salim, Direktur Utama PT Victoria Care Indonesia Tbk (foto:ist)

Billy Hartono Salim, Direktur Utama PT Victoria Care Indonesia Tbk

Kejujuran adalah Segala-galanya

Rabu, 1 Juni 2022 | 09:00 WIB
M Ghafur Fadillah (redaksi@investor.id)

Kejujuran, bagi seorang pengusaha sejati, adalah segala-galanya. Berbagai pencapaian bisnis yang telah diraih dengan susah payah bisa kandas jika kejujuran seorang pengusaha ternoda.

Seorang pengusaha tulen tak hanya menanamkan kejujuran pada dirinya sendiri atau keluarganya, tapi juga pada perusahaan yang dikelolanya.

Nilai-nilai kejujuran itu pula yang terus ditanamkan Billy Hartono Salim. Ia berupaya menanamkan dan merawat kejujuran untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, dan untuk perusahaan yang didirikannya.

“Nilai-nilai kejujuran kami jadikan sebagai hal yang fundamental di perusahaan,” tutur Direktur Utama PT Victoria Care Indonesia Tbk itu kepada wartawan Investor Daily, M Ghafur Fadillah di Jakarta, baru-baru ini.

Karena menomorsatukan kejujuran, Billy lebih menaruh respek kepada karyawan yang secara intelektual kurang mumpuni tetapi memiliki kejujuran yang tinggi, dibanding karyawan yang secara intelektual memadai tetapi tingkat kejujurannya rendah.

Billy juga yakin sukses yang dicapai Victoria Care Indonesia selama ini tiada lain berkat nilai-nilai kejujuran yang dianut perusahaan perawatan kecantikan dan kesehatan tersebut.

“Kami memulai bisnis dari nol. Kejujuran menjadi modal utama setelah uang. Sebab sebagai distributor, kami akan meminjam barang dari prinsipal secara konsinyasi. Kami dipercaya oleh para prinsipal dan partner karena kejujuran kami,” tegas pria kelahiran Semarang, 19 Mei 1960, itu.

Billy Hartono Salim tak langsung terjun ke dunia bisnis. Saat menimba ilmu akuntansi di Universitas Jayabaya, Jakarta, ia sudah bekerja sebagai auditor di kantor akuntan publik (KAP) Joseph Susilo, Jakarta. Di KAP tersebut, Billy yang lulus kuliah pada 1983, menghabiskan waktu tiga tahun (1982-1985).

Ia kemudian berlabuh di perusahaan asal Houston, Texas, Amerika Serikat (AS), Petro Win- NL Sperry Sun, dengan posisi finance & accounting manager. Cerita berlanjut. Pada 1989, Billy mundur dari perusahaan asing tersebut dan memutuskan untuk menjalankan usaha sebagai wiraswasta.

Billy mendirikan PT Karya Asri Perdana Mandiri Jakarta, perusahaan yang menjadi cikal bakal PT Victoria Care Indonesia Tbk. Pada perusahaan yang bergerak di bidang distribusi ini, ia berperan di berbagai posisi.

“Di perusahaan itu, saya menempati posisi yang sangat terhormat sebagai salesman, sekaligus kirim barang, juga menjadi bos. Namanya juga wiraswasta, segala serba sendiri,” tutur dia.

Bersama perusahaan barunya, Billy mengageni beberapa produk yang dihasilkan perusahaan industri di Jakarta. Ia juga menyuplai berbagai barang kepada supermarket. Akhirnya, Billy memberanikan diri untuk memproduksi barang sendiri dengan brand pertama, Sumber Ayu. Ia menggunakan jasa produksi orang lain yang biasa dikenal dengan istilah maklun.

Kesulitan, bahkan krisis, bagi Billy, adalah hal yang wajar dalam dunia bisnis. Ia mengistilahnya sebagai masa-masa up and down. Seperti saat krisis moneter yang memantik kerusuhan pada 1998, perusahaan yang dipimpinnya mengalami gagal bayar kepada para prinsipal gara-gara supermarket dan kawasan perdagangan dibakar dan tutup.

Itu merupakan masa-masa sulit bagi Billy Hartono Salim sebagai pengusaha. Berbekal ketekunan dan komitmennya dalam berdagang, ia mampu melunasi utang-utangnya kepada prinsipal.

“Utang-utang itu dapat saya lunasi dengan menjual produk kami sendiri, sehingga perusahaan kami lebih berkembang. Akhirnya kami malah punya pabrik kecil (home industry) selain maklun. Jadi, memang tidak ada yang langsung enak, selalu ada proses up and down,” papar dia.

Dalam perkembangannya, Billy pernah menjalin kerja sama membuat usaha patungan (joint venture) dengan perusahaan asing pada 2005. Perusahaan itu kemudian dijual. Setelah itu, Billy mengganti nama perusahaan dari PT Karya Asri Perdana Mandiri menjadi PT Victoria Care.

Victoria Care selanjutnya berkembang menjadi perusahaan kosmetik yang diperhitungkan sejalan dengan pertumbuhan pesat perusahaan dalam rentang waktu 2007-2020, terutama setelah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham VICI pada 17 Desember 2020.

Dari semula hanya mempekerjakan beberapa karyawan, Victoria Care kini mempekerjakan sekitar 3.200 karyawan dan memiliki 70 ribu outlet di seluruh Indonesia. Victoria Care Indonesia melalui beberapa brand andalannya, seperti Herborist dan produk pewarna rambut Miranda, telah berhasil menyabet sejumlah penghargaan.

Billy memutuskan Victoria Care Indonesia go public dengan satu alasan, yakni agar sukses yang diraih perusahaan tersebut dapat dinikmati pula oleh segenap karyawan dan konsumen, sekaligus membantu pemerintah menyejahterakan masyarakat Indonesia. Berikut petikan lengkapnya:

Mengapa Anda memilih bisnis perawatan kesehatan dan kecantikan?

Saya ini tipe orang yang tidak ingin mengambil risiko besar. Lebih jelasnya, bidang consumer goods ini lebih praktis. Setelah sandang dan papan terpenuhi, masyarakat pasti akan belajar menjaga kesehatan dan penampilanya. Ini pun sama dengan kebutuhan sehari-hari lain yang tidak ada habisnya. Berbisnis di sektor ini lebih aman dari volatilitas, asalkan perusahaan mampu terus menjaga kualitas produk dan sebarannya.

Kami punya 70 ribu outlet yang tersebar di seluruh Indonesia, sehingga risiko utang perusahaan semakin kecil, punya fondasi finansial yang kuat, dan tidak mudah terguncang oleh market. Contohnya semasa pandemi Covid-19, kami mampu eksis dengan melakukan inovasi-inovasi terbaru.

Ini passion Anda sejak awal?

Saya tidak langsung terjun ke bisnis. Saat kuliah akuntansi di Universitas Jayabaya, saya bekerja sebagai auditor di kantor akuntan publik (KAP) Joseph Susilo, Jakarta. Setelah tiga tahun, saya pindah ke perusahaan asal AS, Petro Win- NL Sperry Sun, dengan posisi finance & accounting manager.

Nah, pada 1989, saya mundur dari Petro Win- NL Sperry Sun dan memutuskan untuk menjadi wiraswasta. Saya mendirikan PT Karya Asri Perdana Mandiri Jakarta yang menjadi cikal bakal PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI).

Di Karya Asri Perdana Mandiri, saya ada di berbagai posisi. Saya menempati posisi yang sangat terhormat sebagai salesman, sekaligus kirim barang, juga menjadi bos. Segala serba sendiri. Namanya juga wiraswasta.

Saya mengageni beberapa produk dan menyuplai berbagai barang kepada supermarket. Lalu kami memproduksi barang sendiri. Sumber Ayu adalah brand pertama kami. Saya pakai maklun (menggunakan jasa produksi orang lain).

Anda pernah mengalami krisis?

Dalam bisnis, kesulitan atau krisis adalah hal yang wajar. Ada masa-masa up and down. Saya pernah mengalami krisis yang sangat parah, yaitu saat krisis moneter 1998. Perusahaan saya mengalami gagal bayar kepada para prinsipal karena supermarket dan kawasan perdagangan dibakar dan tutup. Waktu itu kan terjadi kerusuhan. Ini masa-masa sulit bagi saya sebagai pengusaha.

Cara Anda mengatasinya?

Dengan modal ketekunan dan komitmen dalam berdagang, saya bisa melunasi utang kepada para prinsipal. Kami mampu membayarnya karena kami bisa menjual produk kami sendiri. Jadinya, perusahaan malah lebih berkembang. Kami kemudian bahkan punya home industry selain maklun. Jadi, memang tidak ada yang langsung enak, selalu ada proses up and down.

Proses pendirian Victoria Care?

Kami sebetulnya pernah membuat usaha patungan (joint venture) dengan perusahaan asing pada 2005. Namun perusahaan itu kami jual. Setelah itu, kami mengganti nama perusahaan dari Karya Asri Perdana Mandiri menjadi Victoria Care. Victoria Care Indonesia terus berkembang, terutama setelah melangsungkan initial public offering (IPO) dan mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 17 Desember 2020.

Kami kan awalnya tidak banyak mempekerjakan karyawan. Victoria Care sekarang mempekerjakan sekitar 3.200 karyawan. Kami punya 70 ribu outlet di seluruh Indonesia. Beberapa brand kami, seperti Herborist dan Miranda, juga berhasil meraih sejumlah penghargaan.

Kenapa memilih go public?

Agar sukses Victoria Care Indonesia dapat dinikmati pula oleh seluruh karyawan dan konsumen, sekaligus membantu pemerintah menyejahterakan masyarakat Indonesia.

Nilai-nilai yang Anda pegang dalam berbisnis?

Dalam berdagang, saya memiliki komitmen yang kuat untuk memegang teguh kejujuran dan kerja keras. Itu yang selalu saya tanamkan, baik kepada diri sendiri maupun kepada tim di perusahaan.

Sekuat apa kejujuran memengaruhi keputusan-keputusan Anda di perusahaan?

Kejujuran menjadi pedoman yang fundamental di perusahaan. Apabila ada karyawan yang secara intelektual kurang mumpuni, tetapi selama ia memiliki kejujuran yang tinggi, itu sudah cukup bagi saya untuk mempertahankannya. Itu yang saya selalu tekankan kepada tim dan manajemen.

Dampaknya terhadap perusahaan?

Kejujuran juga merupakan solusi dalam menghadapi masalah. Karena menjunjung tinggi kejujuran, kami dipercaya oleh para prinsipal dan partner. Sebagai seorang pengusaha yang memulai dari nol, kejujuran menjadi modal utama setelah uang. Sebab, sebagai distributor, kami meminjam barang dari prinsipal secara konsinyasi.

Saya memiliki tim yang disebut dengan Pejuang Visi. Tim ini berisi para karyawan dengan dedikasi berkarier lebih dari 20 tahun. Saya mendidik mereka start from zero. Bahkan ada yang memulainya sebagai pekerja kasar, hingga kariernya terus meningkat, dari collector, supervisor, hingga asisten manajer, meskipun pendidikan mereka dari SMA, bahkan SMP. Loyalitas mereka sudah tidak diragukan lagi.

Gebrakan yang pernah Anda lakukan?

Para pengusaha di Indonesia sempat kalang kabut akibat masuknya pandemi ke Indonesia pada Maret 2020 karena selama beberapa dekade hal seperti ini belum pernah terjadi. Pada seperti ini diperlukan kecepatan dalam mengambil tindakan. Itulah yang saya lakukan di Victoria Care. Kami meluncurkan beberapa produk, termasuk hand sanitizer yang demand-nya sangat tinggi.

Saya bersama dengan para karyawan melakukan meeting di pabrik mulai dari jam 08.00 hingga 20.00 agar produk ini tepat sasaran dan memenuhi kebutuhan masyarakat karena sifatnya penting sekali. Keputusan ini berdampak sangat besar bagi perusahaan dan menjadi pengalaman yang luar biasa bagi saya selama berkarier.

Di sisi lain, saya bersama perusahaan juga membagikan ribuan jeriken hand sanitizer gratis kepada beberapa pemerintah provinsi, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Bali.

Kami melakukannya secara estafet sebagai program corporate social responsibility (CSR). Hal itu sejalan dengan komitmen perusahaan dalam berbisnis, yang tak semata-mata mencari keuntungan, tapi juga mampu berkontribusi kepada bangsa dan negara.

Obsesi Anda yang belum tercapai?

Memang sejatinya semua ada batasnya, namun saya bercita-cita Victoria Care menjadi perusahaan produsen perawatan kesehatan dan kecantikan terbesar di Indonesia. Ini kami tuangkan dalam visi dan misi perusahaan.

Sejauh ini Victoria Care menempati setidaknya urutan ke-4 di kalangan perusahaan tercatat yang bergerak di bidang ini. Saya dan tim masih perlu berjuang lebih keras lagi agar target itu tercapai.

Strategi Anda untuk mencapai target tersebut?

Kami akan terus melakukan terobosan-terobosan dan inovasi. Apalagi perusahaan yang bergerak di consumer goods butuh inovasi yang terus-menerus agar tidak tenggelam dalam dunia persaingan yang semakin ketat. Perusahaan harus memenuhi permintaan pasar yang terus bertumbuh dengan cepat.

Tips sukses Anda untuk generasi muda?

Berusahalah lebih keras karena setiap pengusaha selalu mengalami masa up and down sebagai tempaan agar mampu bertahan dan bersaing. Jangan lupa untuk bersyukur karena dalam setiap kesuksesan ada peran Tuhan yang Maha Esa. Juga selalu meminta doa dari orang tua agar mendapatkan berkah. ***

Billy Hartono Salim, Direktur Utama  PT Victoria Care Indonesia Tbk  (foto:ist)
Billy Hartono Salim, Direktur Utama PT Victoria Care Indonesia Tbk (foto:ist)

 

Olahraga, Musik, dan Keluarga

sebagai Pelepas Penat

 

Di luar kesehariannya sebagai orang nomor satu di PT Victoria Care Indonesia Tbk, Billy Hartono Salim adalah seorang ayah dengan anak semata wayang. Pada akhir pekan, Billy hampir selalu menghabiskan waktu bersama keluarga. Ia menjadikannya sebagai kegiatan pelepas penat.

"Saat bersama keluarga, biasanya saya habiskan dengan beribadah bersama ke gereja atau makan-makan bersama. Ini sekaligus sebagai cara bersyukur karena kami masih diberikan kesehatan,” tutur dia.

Billy rajin berolahraga, terutama tenis dan jogging. Meski gemar bermain tenis dan jogging, Billy Hartono Salim adalah penggila bola. Ia merupakan fans berat Manchester United (MU).

Tak mengherankan jika ia akan menongkrongi layar TV sampai larut malam, bahkan sampai pagi, jika Setan Merah berlaga. "Kalau sedang rileks, pertandingan jam 2 pagi pun akan saya tonton. Saya sudah puluhan tahun menjadi fans MU," ujar Billy tentang MU yang musim ini finish di posisi ke-6 klasemen Liga Premier.

Kecuali hobi menonton bola, tenis, dan jogging, Billy Hartono Salim hobi mendengarkan musik. Favoritnya adalah genre pop era 1990-an seperti The Beatles, band legendaris yang bermarkas di Liverpool.

Soal mendidik anak, Billy tidak memberikan tekanan dan membebaskan buah hatinya memilih pekerjaan yang disukai. "Saya memberi kebebasan kepada anak saya, karena anak zaman sekarang itu memiliki cara didik yang berbeda. Saya akan memberikan semua pelajaran terbaik dan membebaskan anak saya untuk memilih," tandas dia. (fur)

 

Biodata

Nama Lengkap: Billy Hartono Salim

Jabatan: Direktur Utama

Tempat/tanggal lahir: Semarang, 19 Mei 1960.

Status: menikah, satu anak.

Pendidikan:

- Sarjana Akuntansi Universitas Jayabaya (1983)

Karier:

- Direktur Utama PT Natura Pesona Mandiri (2016 - sekarang).

- Direktur Utama PT Victoria Care Indonesia Tbk (2010 - sekarang).

- Direktur Utama PT Unza Vitalis Jakarta (2005 - 2007).

- Direktur Utama PT Kosmetika Alam Pesona Mandiri Jakarta (1997 - 2005).

- Direktur Utama PT Karya Asri Perdana Mandiri Jakarta (1989 – 1996).

- Finance & Accounting Manager PT Petro Win – NL Sperry Sun Jakarta (1986 – 1989).

- Auditor KAP Joseph Susilo Jakarta (1982 – 1985).

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN