Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gufron Syarif, CEO dan Co-founder Haus! Indonesia (Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah)

Gufron Syarif, CEO dan Co-founder Haus! Indonesia (Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah)

Gufron Syarif, CEO dan Co-founder Haus! Indonesia

Kerja Fun, Kreatif, dan Menginspirasi

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:34 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Apa filososi dan nilai-nilai yang selalu dipegang teguh oleh Gufron Syarif dalam bekerja, berkarier, dan menakhodai perusahaan? Jawabannya adalah menjalaninya dengan kegembiraan (fun), kreatif (creative), dan menginspirasi (inspiring).

Bagi chief executive officer (CEO) dan Co-founder Haus! Indonesia ini, fun, creative, dan inspiring menjadi modal jitu untuk menghadapi setiap persoalan yang dihadapi. Juga cara terbaik untuk memajukan bisnis perusahaan yang dipimpinnya.

Fun, creative, dan inspiring itu filosofi saya juga. Saya suka bercanda, santai. Sersan, serius tapi santai, seperti di film Prambors,” ujar entrepreneur yang diakrab dipanggil Ufo itu kepada wartawan Investor Daily, Abdul Muslim dan pewarta foto, Emral Firdiansyah di Jakarta, baru-baru ini.

Pria kelahiran Jakarta, 25 Maret 1983 ini menjelaskan, ketika bekerja, seseorang seharusnya bisa menjalaninya dengan fun atau senang dan gembira. Sebab, jika tidak gembira, pekerjaan yang dijalaninya bukanlah karya, tapi lebih karena terpaksa.

Sementara itu, creative bisa dilakukan dengan menciptakan produk baru, atau mempersingkat proses bisnis agar efisien. Terkait dengan hal tersebut, sebagai CEO, Ufo pun suka memberikan ‘kertas kosong’ kepada kepala divisi, atau direksi. Mereka diberikan kebebasan bertindak untuk mencapai target yang telah disepakati.

“Selanjutnya inspiring. Filosofinya kan kita hidup di dunia ini kalau dalam agama saya, Islam, harus rahmatan lil’alamin, harus membawa berkah bagi alam semesta. Dalam apa yang kita lakukan, kita harus membawa inspirasi bagi orang lain, berbuat lebih baik, atau membawa kebaikan,” tutur Ufo.

Dengan resep tersebut, bisnis Haus! pun berkembang pesat sejak didirikan pada Juni 2018. Kini, perusahaan rintisan berbasis teknologi (start-up) di bisnis minuman kikinian newtea and boobaa tersebut memiliki dan mengelola tak kurang dari 170 toko di Pulau Jawa, antara lain di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang. Pada kuartal III tahun ini, Haus! akan membuka toko di Bali.

Menyasar segmen menengah ke bawah (aspiring middle class) dan menengah (middle class), Haus! memperkerjakan sekitar 1.200 karyawan. Jumlah pegawai tetap mencapai 280-an orang. Mereka ditempatkan di kantor pusat di kawasan Jakarta Barat dan sekitar 170 toko. Selebihnya merupakan pegawai alih daya (outsourcing) yang bekerja di toko.

“Khusus pada 2022, Haus! manargetkan tambahan toko di Jawa dan Bali. Pada kuartal III, kami akan masuk Bali. Semua toko di-manage dan milik sendiri. Kami mix jangkauan, strategi supply chain kami perhatikan dan kuasai,” kata Ufo.

Haus! pun dengan percaya diri menargetkan minimal bisa membuka 1.000 toko, bahkan pada skala optimistis bisa mencapai 3.000 toko di Indonesia pada 2025. Pada tahun yang sama, perusahaan itu berencana melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Setelah IPO, Haus! akan ekspansi ke regional Asia Tenggara dan selanjutnya merambah kawasan Asia Tengah dan Selatan, di antaranya India.

Sempat bercita-cita menjadi arsitek, ketika kuliah S2 di Royal Melbourne Institute of Technology, Melbourne Australia untuk meraih Magister Information Technology (IT) Bisnis, Ufo justru menggebu-gebu ingin menjadi pengusaha. Apalagi ketika kuliah di Negeri Kangguru tersebut, dia berteman dengan keponakan Rachmat Gobel, keluarga pendiri Panasonic Indonesia, yang memiliki passion serupa.

Namun, sepulang kuliah dari Australia pada 2007, dia malah bekerja di salah satu bank nasional selama tiga tahun karena keinginannya menjadi pengusaha ditolak oleh sang ayah yang menginginkannya menjadi pegawai.

Pada 2010, dia pun kembali mengungkapkan keinginan menjadi pengusaha kepada ayahnya. Akhirnya sang ayah mengabulkan permintaannya dengan syarat Ufo juga harus menjadi pegawai.

Ufo kemudian menjadi dosen akuntansi di almamaternya, Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Sambil mengajar, beberapa bisnis dicobanya dan sempat gagal. Kemudian, dia membuka usaha kemasan rendang Uda Gembul dengan menggaet para reseller yang masih berjalan sampai sekarang.

Pengusaha yang berasal dari keluarga pegawai negeri sipil (PNS) ini juga membuka bisnis Dino Donuts. Dino Donuts laku keras. Namun, usaha tersebut hanya dijalani hingga tahun karena ketika Bulan Puasa sepi pembeli.

Mulai Juni 2018, dia pun membuka usaha Haus! bersama tiga temannya. Haus! sukses sampai sekarang. Seiring berkembangnya bisnis, Ufo yang dipercaya menjadi CEO hanya berkonsentrasi di Haus! Indonesia.

Sebagai start-up, sejak pandemi Covid-19 sekitar dua tahun terakhir, 75% transaksi konsumen Haus! dilakukan melalui platform agregator, antara lain Grab dan Gojek, sisanya datang langsung ke toko atau gerai. Transaksi konsumen telah bergeser dari sebelum pandemi 50:50%, baik secara online maupun datang langsung ke toko Haus!.

Lalu, apa strategi yang diterapkan Gufron Syarif untuk memajukan bisnis Haus! Indonesia? Apa legasi yang ingin diberikannya kepada para karyawan dan masyarakat Indonesia? Lalu, bagaimana Haus! Indonesia menyiasati pandemi Covid-19? Berikut petikan lengkapnya:

Apa filosofi atau nilai-nilai yang Anda jadikan pegangan dalam bekerja dan memimpin perusahaan?

Kalau filosofi di Haus! Indonesia, itu fun, creative, dan inspiring. Artinya, dalam bekerja, kita harus fun, harus happy, seneng. Kalau kita tidak happy, pekerjaan kita bukan karya, tapi karena terpaksa.

Kreatif bisa dalam banyak hal. Kreatif menciptakan produk baru, mempersingkat proses bisnis. Pokoknya harus melihat opportunity dalam setiap proses, berpikir out of the box.

Lalu inspiring, filosofinya kan kita hidup di dunia ini kalau dalam agama saya, Islam, harus rahmatan lil’alamin, harus membawa berkah bagi alam semesta. Apa yang kita lakukan harus membawa inspirasi bagi orang lain, berbuat lebih baik, atau membawa kebaikan. Itu filosofi saya juga. Saya suka bercanda, santai. Sersan, serius, tapi santai, seperti di film Prambors.

Menurut Anda, apa peran CEO yang paling krusial di sebuah perusahaan?

CEO itu bagaikan nakhoda di kapal. Sebagai nakhoda, kita harus tahu tujuan kita mau ke mana. Yang pertama, meyakinkan orang-orang di kapal, kita mau ke mana. Kemudian mengoordinasikan atau membagi tugas.

Ibaratnya di kapal, ada yang tukang ngayuh, koki, dan bentangin layar. Semua harus bekerja sama untuk mencapai tujuan. Saya sebagai nakhoda harus memastikan semuanya bekerja di job description-nya masing-masing dan saling terintegrasi.

Pendekatan Anda ke karyawan agar bekerja optimal?

Sebenarnya ada beberapa pendekaatan. Untuk staf umum, agar loyal, agar stay di perusahaan dalam jangka panjang, kami mau ESOP (employee stock ownership plan/membagikan kepemilikan saham kepada karyawan). Nanti ada key person yang sudah lama bekerja dapat itu (ESOP). Rencana ini sedang digodok konsultan. ESOP akan kami bagi pada kuartal II atau III-2022. Itu pendekatan angka.

Dalam segi culture, kita ingin Haus! menjadi tempat berkarya. Kami sediakan kertas kosong. Ke temen-temen kepala divisi, atau direksi, kami punya target bersama. Untuk menuju target, saya memberikan kertas kosong, sehingga ketika disatukan akan menjadi satu puzzle.

Saya tak terlalu mendikte cara menjalankannya. Saya berikan kebebasan kepada mereka untuk berkreasi. Kalau diberikan kesempatan seperti itu kan menjadi lebih kreatif. Beda, kalau kita tentukan, nanti mereka akan bekerja seperti robot. Prosesnya tetap kami kawal, tapi kami tidak mau mematikan kreativitas setiap individu.

Gufron Syarif, CEO dan Co-founder Haus! Indonesia (Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah)
Gufron Syarif, CEO dan Co-founder Haus! Indonesia (Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah)

Obsesi Anda yang belum diwujudkan?

Ketika kuliah S1, kebanyakan teman saya mau kerja di perusahaan asing. Kenapa mesti asing, itu kan inferior. Itu berarti kita terlalu tangible banget, terlalu angka. Dalam agama saya, mestinya rahmatan lil’alamin, membawa berkah.

Waktu saya kuliah di Australia, orang-orang Australia lebih suka mengonsumsi produk lokal. Makanya di Australia nggak ada Starbucks karena masyarakatnya lebih suka minum dari local shop.

Kebanggaan terhadap diri sendiri itu penting. Karena itu, saya pikir, someday, saya punya usaha, saya ingin punya brand yang sejajar dengan asing. Kalau mungkin, ada satu perusahaan Indonesia yang bisa besar banget, saya ingin punya 10.000 cabang atau toko di mancanegara. Itu bisa mengangkat Indonesia.

Saya harus bisa membuktikan bahwa seorang Gufron Syarif yang bukan anak konglomerat, harus start dari zero, akhirnya bisa menginspirasi anak-anak muda Indonesia lainnya. Kalau Gufron bisa, saya (orang lain) pun bisa.

Apa tantangan bisnis food and beverage (F&B)?

Dalam 3,5 tahun, Haus! Indonesia punya 170-an toko, me-manage 1.200 pegawai. SDM-nya begitu banyak. Ketika bisnis tumbuh cepat, organisasi harus mengikuti dan menyesuaikan. Problemnya di situ.

Kalau nggak bisa mengikuti perkembangan bisnis, organisasi harus di-develop. Nah, kalau nggak bisa develop dalam waktu singkat, SDM juga harus di-combine dari from outside the company yang punya knowledge maupun experience industri yang sama.

Solusi jangka pendek, karena punya target minimal 1.000 toko pada 2025, kami suka hiring SDM dari luar yang punya knowledge dan experience untuk manajemen C level maupun GM level. Itu solusi jangka pendeknya. Untuk jangka panjang, kami siapkan management trainee, talenta-talenta dikembangkan menjadi leader company.

Strategi Haus! untuk masuk pasar?

Pertama, kami menetapkan harga propuk mulai dari Rp 5.000-an, sehingga target kami dari kota tier 1 (besar) hingga tier 4 (kecamatan) di Indonesia. Harga produk minuman Rp 5.000-20.000, makanan Rp 6.000 hingga Rp 35.000-an, masuk ke semua segmen. Tagline kita pun, yaitu ‘Semua Berhak Minum Enak’.

Pertumbuhan bisnis kami ditopang oleh pendanaan fundraising maupun dari perputaran bisnis. Makanya kami belum ambil dividen sampai IPO nanti. Bahkan, co-founder sampai sekarang dibayar seperti profesional. Setiap keuntungan kami putar untuk pertumbuhan perusahaan.

Kedua, kami ingin menjadi perusahaan F&B technicable untuk memudahkan transaksi serta mencatat transaksi dan behaviour konsumen. Ketiga, branding. Perusahaan yang masuk ke lifestyle konsumen, bukan hanya menjual minuman.

Kami sedang membangun brand. Karena itu, kami mulai suka mensponsori event target aktivitas-aktivitas pasar kita. Baru saja pada awal tahun ini kami mensponsori event e-sport RRQ. Nanti kami juga masuk ke musik dan lainnya agar produk kami semakin relevan dengan konsumen.

Selain di Haus!, Anda juga aktif di perusahaan lain?

Sekarang, saya hanya fokus 100% di Haus!. Saya punya prinsip, saat ini Haus! kan masih dalam scale-up atau growing. Artinya saya harus fokus di dalam. Kalau saya juga di tempat lain, atau pecah fokus, sudah pasti nggak akan optimal.

Dampak pandemi Covid-19 terhadap bisnis?

Semenjak Covid-19, mobilitas orang jadi terbatas. Artinya, bagi pengusaha F&B konvensional yang transaksinya masih mengandalkan dine-in, atau offline (yang mengandalkan jumlah kursi dan meja) itu pasti sangat terdampak. Tapi justru pada era Covid ini sebenarnya sedang terjadi shifting dari bisnis konvensional ke online.

Bagi kami, konsep bisnis Haus! dari awal grab and go, artinya tidak menyediakan tempat nongkrong. Dalam kondisi Covid-19 kemarin, kami sudah fit, tidak terdampak, masih bisa tumbuh terus. Tapi kalau dikatakan opportunity bisnis pasti ada dampaknya. Daya beli juga kan turun karena ekonomi sedang turun. Ada plus-minusnya.

Tapi kami percaya bahwa sekarang sudah menuju endemik, ini justru opportunity ke depan. Selama Covid-19, orang terbiasa transaksi online. Setelah Covid berlalu, orang pasti masih beli online. Opportunity-nya akan berlipat-lipat setelah Covid berlalu.

Aktivitas Anda sehari-hari?

Saya memulai hari dengan olahraga, dengan jalan pagi di kompleks, atau nge-gym, 4-5 kali seminggu. Saya tinggal di kawasan Joglo, Jakarta Barat, ada sport club dekat rumah. Bagi saya, olahraga juga merupakan bagian dari stress release. Saya tinggal di perumahan cluster yang banyak pohonnya, asyik untuk jalan-jalan.

Saat berolahraga dan nge-gym juga bisa sambil mencari inspirasi, misalnya buka-buka social media, sambil lihat-lihat brand luar. Baru saya masuk kantor jam 09.00, atau jam 10.00. Kami di start-up bekerja enjoying dan yang penting produktif. Tapi karena saat ini masih pandemi, saya lebih banyak WFH (bekerja dari rumah). ***

 

Gufron Syarif, CEO dan Co-founder Haus! Indonesia (Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah)
Gufron Syarif, CEO dan Co-founder Haus! Indonesia (Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah)

Nonton Bola hingga Berburu Kuliner

Untuk mengisi waktu luang dan libur akhir pekan, Gufron Syarif lebih suka menonton sepak bola, terutama Liga Premier. Ternyata pria yang akrab disapa Ufo ini penggemar berat Liverpool FC. “Hobi saya dulu bermain bola. Sekarang paling-paling nonton saja,” tutur Ufo.

Meski fans Liverpool, Ufo masih suka menyaksikan Manchester United (MU) FC berlaga. Dulu saya suka MU, sekarang pilih Liverpool,” ujar dia.

Rupanya ada satu hal yang membuat Ufo menyeberang dari Setan Merah ke Si Merah. Pemicunya tiada lain gara-gara Mohamed Salah. “Bayangkan, Mo Salah itu dari Mesir, bukan negara yang kental dengan tradisi bola. Tahu-tahu, dia bisa menginsipirasi dunia,” tandas Ufo.

Satu lagi, Ufo kagum pada Mohamed Salah karena ia adalah pemain muslim dan berdakwah lewat sepak bola. Ketika dia sukses di Liverpool, tingkat fobia terhadap agama Islam atau penganut Islam (Islamofobia) di Liverpool turun drastis.

“Dia mengispirasi banget. Dakwah tidak harus dengan ceramah, bisa dengan karya di sepak bola. Mo Salah berdakwah dengan caranya sendiri. Itu pula yang saya coba terapkan dengan berwirausaha. Saya pun harus bisa menginspirasi lewat bisnis bagi orang lain,” papar dia.

Di waktu senggangnya, Ufo masih suka menemani anak lelakinya bermain basket. Ia punya anak berusia 10 dan 6 tahun. “Saya nemenin dan ngajarin main basket, tiap hari Sabtu-Minggu. Anak saya ikut klub basket deket rumah,” kata dia.

Ufo bersama istrinya juga sesekali suka berburu kuliner yang sedang viral di media sosial. “Kebetulan, saya dan istri suka kuliner. Biasanya pada Sabtu-Minggu tuh kami lihat di TikTok, atau Instagram. Kalau ada, kami jalan-jalan sambil makan,” tutur Ufo. (lm)

 

BIODATA

Nama lengkap: Gufron Syarif.

Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 25 Maret 1983.

PENDIDIKAN

- Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Sarjana Akuntansi (2000 – 2004).

- Royal Melbourne Institute of Technology, Melbourne Australia, Magister IT Bisnis (2005 – 2007).

KARIER:

- Bekerja di salah satu bank nasional (2007-2010).

- Dosen Akuntansi Unpad Bandung (2010– 2015).

- Pendiri Dino Donuts (2015-2018).

- Pendiri Rendang Uda Gembul (2012-sekarang).

- CEO dan Co-founder Haus! Indonesia (Juni 2018-sekarang).

 

 

 

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN