Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Ketua Umum  Kadin Indonesia Bidang  Industri Olahraga, Raja Sapta Oktohari. (Foto: Defrizal/Beritasatu)

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Olahraga, Raja Sapta Oktohari. (Foto: Defrizal/Beritasatu)

Bahkan Industri Olahraga Pun Harus Beradaptasi

Jumat, 28 Agustus 2020 | 07:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

Industri olahraga harus beradaptasi dan berinovasi jika tak ingin karam oleh pandemi.

Pandemi Covid-19 telah memengaruhi setiap sendi kehidupan manusia. Semua bidang tak luput dari dampak corona, tak terkecuali bidang olahraga.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditujukan untuk mengurangi penyebaran virus corona, ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, PSBB mampu meredam penyebaran virus yang amat berbahaya itu.

Tetapi, di sisi lain, kebijakan tersebut telah membatasi aktivitas masyarakat di luar ruangan (outdoor). Padahal, olahraga sebagian besar dilakukan di luar ruangan.

“Jadi, sama seperti industri lainnya, industri olahraga pun terdampak sangat signifikan oleh pandemi Covid. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Olahraga, Raja Sapta Oktohari kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Pria kelahiran Jakarta, 14 Oktober 1975 yang akrab disapa Okto ini mencontohkan, gara-gara pandemi Covid-19, hampir seluruh event olahraga yang dihelat tahun ini terpaksa ditangguhkan, diundur, atau dibatalkan.

Kompetisi liga-liga top Eropa – Premier League (Inggris), La Liga (Spanyol), Bundesliga (Jerman), dan Serie A (Italia)-- sempat ditunda. Begitu pula kompetisi liga bola basket AS, NBA. Bahkan, Olimpiade Tokyo 2020 diundur hingga tahun depan, itu pun masih belum pasti.

“Tidak ada yang bisa memastikan apakah Olimpiade Tokyo akan digelar tepat tahun depan sesuai jadwal. Ini sangat tergantung perkembangan penanganan Covid-19 di seluruh dunia,” ujar pemilik perusahaan fishery dan cold storage, PT Perikanan Teluk Batang tersebut.

Butuh Stimulus

Sebagian besar industri manufaktur olahraga, menurut Okto, telah menghentikan operasionalnya, baik akibat kebijakan PSBB atau penguncian akses wilayah (lockdown), maupun akibat pengurangan produksi.

Meski demikian, mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) ini belum bisa memprediksi berapa kerugian dan potensi kehilangan pendapatan yang dialami industri olahraga akibat pandemi Covid-19.

“Angka pastinya belum ada survei yang dilakukan. Pastinya kerugian yang terjadi tidak jauh berbeda dengan industri lainnya,” tutur dia.

Okto, yang membuka perusahaan jasa penerbangan eksklusif dengan bendera Enggang Air Service bersama teman-teman kongsinya, menekankan pentingnya stimulus dari pemerintah untuk bidang olahraga, baik dalam bentuk stimulus fiskal maupun nonfiskal.

Peraih penghargaan Pengusaha Muda Madya dan Young Entrepreneur of the Year Award dari Asia Pasific Entrepreneurship Award (APEA) ini mengakui, tak semua industri olahraga limbung akibat pandemi.

Ada industri olahraga yang sama sekali tidak terdampak Covid-19, misalnya industri peralatan olahraga yang digunakan secara personal di rumah atau di kantor. Sektor ini malah tumbuh signifikan selama pandemi.

“Misalnya sepeda statis. Sekarang sepeda statis menjadi pilihan para pencinta olahraga sepeda,” ucap Okto, yang melebarkan sayap bisnisnya di bidang sekuritas lewat PT Reinverstama Surya Optima.

Tidak hanya itu, banyak acara olahraga yang kini digelar secara virtual dan dapat dilakukan di dalam ruangan (indoor).

“Belakangan ini acara virtual banyak digemari masyarakat, di antaranya virtual run yang mulai marak digelar,” papar Okto, yang juga merambah bisnis pertambangan batu bara.

Inti dari semua itu, menurut Raja Sapta Oktohari, industri olahraga juga mengalami adaptasi kenormalan baru (new normal) akibat pandemi Covid. “Semua harus beradaptasi dan berinovasi bila tidak ingin tenggelam,” tegas dia.***

 

 

Daftar Prestasi Indonesia di Ajang Olimpiade

 

* Olimpiade Seoul, Korea Selatan (1988)

Atlet panahan Indonesia, Kusuma Wardhani bersama Lilies Handayani dan Nurfitriyana Saiman, yang turun di nomor beregu recurve berhasil meraih medali perak. Raihan itu menjadi medali pertama Indonesia di ajang multicabang terbesar di dunia tersebut
 

* Olimpiade Atlanta, AS (1996)

Cabang olahraga (cabor) bulu tangkis menyumbang 1 medali emas dari nomor ganda putra Rexy Mainaky/Ricky Subagja. Total atlet-atlet Indonesia menyabet 1 emas, 1 perak, dan 2 perunggu, semuanya dari cabor bulu tangkis.
Perak disumbangkan tunggal putri (Mia Audina), 2 perak dari sektor ganda putra (Antonius Ariantho/Denny Kantono) dan tunggal putri (Susi Susanti).

 

* Olimpiade Sydney, Australia (2000)

Olimpiade Sydney 2000 menjadi puncak kesuksesan cabor angkat besi Indonesia. Untuk kali pertama, Indonesia berhasil membawa pulang medali untuk cabor tersebut. Total cabor angkat besi menyumbangkan 1 perak dan 2 perunggu. Perak dibawa pulang Lisa Rumbaewas yang turun di nomor 48 kg putra. Sedangkan 2 perunggu dipersembahkan Sri Indriyani (48 kg putri) dan Winarni (53 kg putri). Dari cabor bulu tangkis, Indonesia kembali mendulang medali emas dari nomor ganda putra (Tony Gunawan/Chandra Wijaya). Tim bulu tangkis turut menyabet dua perak dari tunggal putra (nama Hendrawan) dan ganda campuran (Tri Kusharjanto/Minarti Timur).

 

* Olimpiade Athena, Yunani (2004)

Medali emas di cabor bulu tangkis menjadi tradisi untuk Indonesia pada ajang Olimpiade. Pada Olimpiade Athena 2004, giliran nomor tunggal putra yang menyumbangkan emas. Taufik Hidayat membuat lagu Indonesia Raya berkumandang. Dia meraih emas setelah mengalahkan wakil dari Korea Selatan, Shon Seung Mo. Cabor bulu tangkis turut meraih 2 perunggu dari Sony Dwi Kuncoro (tunggal putra) dan Flandy Limpele/Eng Hian (ganda putra). Adapun dari angkat besi, Lisa mempertahankan medali perak yang diraihnya di Sydney 2000 pada nomor andalannya 53 kg putri.

 

* Olimpiade Beijing, Tiongkok (2008)

Jelang hari kemerdekaan Indonesia, hari itu 16 Agustus 2008, pasangan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan menjadi juara cabor bulu tangkis Olimpiade Beijing. Mereka merebut medali emas setelah menaklukkan Cai Yun/Fu Haifeng dari Tiongkok. Perjuangan Kido/Hendra tidak mudah. Saat melakoni persiapan selama 6 pekan, Hendra sempat mengalami cedera pada pergelangan kaki kiri. Dokter sempat menganjurkan Hendra beristirahat 10-20 pekan. Dari ganda campuran, Nova Widianto/Lilyana Natsir membawa pulang perak. Sementara Maria Kristin dari tunggal putri mendapat perunggu. Tiga perunggu juga didapat melalui cabor angkat besi, yaitu Eko Yuli Irawan (56 kg putra), Triyatno (62 kg putra), dan Lisa Rumbewas (53 kg putri).

 

* Olimpiade London, Inggris (2012)

Kali pertama sejak Olimpiade Barcelona 1992, kotingen Indonesia gagal mendapatkan medali emas. Sebuah prestasi buruk, utamanya untuk atlet bulu tangkis yang bahkan gagal menyumbangkan medali. Angkat besi menjadi penyelamat Indonesia. Triyatno memperbaiki prestasi pada Olimpiade sebelumnya dengan mempersembahkan perak dari nomor 69 kg putra. Citra Febrianti juga mendapatkan perak untuk nomor 53 kg putri. Plus Eko Yuli kembali membawa pulang medali (perunggu) di nomor 62 kg putra.

 

* Olimpiade Rio de Janeiro, Brazil (2016)

Indonesia berhasil finis di posisi ke-46 dengan perolehan 1 medali emas dan 2 perak. Emas Indonesia disumbang cabor bulu tangkis nomor ganda campuran Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir. Sedangkan 2 medali perak disumbang atlet angkat besi, Sri Wahyuni Agustiani dan Eko Yuli Irawan. Pada Olimpiade Rio 2016, untuk pertama kalinya ganda campuran menyumbangkan emas bagi kontingen Indonesia di ajang Olimpiade.

Baca juga: Jangan Kendur Karena Covid

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN