Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Plt  Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Hery Gunardi.

Plt Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Hery Gunardi.

Beradaptasi, Kunci Mengejar Mimpi

Jumat, 9 Oktober 2020 | 07:30 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

 

Banyak perusahaan limbung, bahkan bertumbangan karena tidak mampu beradaptasi, termasuk dalam menghadapi pandemi. Adaptasi seperti apa yang akan mengantarkan sebuah perusahaan berhasil merengkuh mimpi?

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal tahun benar-benar telah memorak-porandakan seluruh lini kehidupan. Dampak negatif dirasakan oleh hampir setiap orang. Tidak ada negara yang kebal dari bencana tak terduga ini. Penyebaran virus corona jenis baru ini juga telah merenggut korban jiwa lebih dari 1 juta orang di berbagai belahan dunia.

Dari sisi ekonomi, tak terhitung banyaknya orang yang harus kehilangan pekerjaan, gulung tikar, atau terombang-ambing nasibnya akibat pandemi. Hampir seluruh negara kini terancam resesi.

Rentetan dampak negatif pandemi pun menimpa Indonesia. Hingga Selasa (6/10) petang, terdapat 311.176 kasus positif Covid-19 yang tercatat di Tanah Air, dengan korban jiwa mencapai 11.374 orang dan jumlah korban sembuh sebanyak 236.437 orang.

Pandemi juga membuat perekonomian Indonesia tertekan. Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III-2020 diperkirakan terkontraksi atau minus 2,9% hingga minus 1,1%. Dengan demikian, perekonomian Indonesia pada kuartal III tahun ini dipastikan memasuki fase resesi setelah pada kuartal II terkontraksi 5,32% dan hanya tumbuh 2,97% pada kuartal I secara tahunan (year on year/yoy). Sampai akhir 2020, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia keseluruhan diperkirakan minus 1,7% hingga minus 0,6%.

Tekanan terhadap perekonomian nasional menyebabkan jutaan orang terdampak. Hingga akhir Juli lalu, sebanyak 3,5 juta pekerja formal maupun informal kehilangan lapangan kerja. Hal ini terjadi karena hampir semua sektor industri terpukul dan harus beroperasi 30-70% di bawah kapasitas normal.

Alhasil, angka kemiskinan dan pengangguran yang masing-masing mencapai 26,42 juta orang (9,78%) pada Maret 2020 dan 6,88 juta orang (4,99%) pada Februari 2020 dipastikan meningkat.

Demi meredam dampak negatif pandemi, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan sudah mengeluarkan sejumlah kebijakan, salah satunya Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Melalui Program PEN, negara menganggarkan dana Rp 695, 2 triliun untuk disalurkan ke sektor kesehatan, membentuk jaring pengaman sosial, insentif bisnis, bantuan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta dukungan untuk kementerian/lembaga (K/L).

Hingga akhir September, realisasi dana PEN mencapai 43,8% dari total anggaran atau senilai Rp 304,6 triliun. Penyaluran PEN turut mengakselerasi pemulihan ekonomi Indonesia. Hal itu tercermin pada membaiknya Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia ke level 47,2 per September. Angka ini lebih baik dibanding posisi Maret-Juli 2020, meski sedikit lebih rendah dibanding PMI Agustus yang mencapai 50,8.

Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Agustus 2020 juga membaik, tumbuh 13,3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 10,5% (yoy). Kondisi itu membersitkan harapan baru bahwa prospek perekonomian nasional masih cerah meski sedang terkontraksi.

Optimistis Membaik

Penyaluran dana PEN oleh negara dilakukan dengan turut melibatkan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Salah satu Bank Himbara yang menjadi penyalur dana PEN adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Bank Mandiri dipercaya pemerintah untuk me-leverage dana PEN sebesar Rp 15 triliun.

Awalnya, bank yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham BMRI ini mendapat penempatan dana PEN Rp 10 triliun pada akhir Juni. Jumlah penempatan dana PEN bertambah pada akhir September sebanyak Rp 5 triliun.

Dari penempatan dana PEN periode pertama, hingga 1 Oktober 2020 Bank Mandiri telah menyalurkan kredit senilai Rp 42,7 triliun untuk 133 ribu debitur lebih. Penyaluran dana PEN periode kedua segera terealisasi demi mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

“Dari penyaluran dana PEN tahap pertama, Bank Mandiri sudah berhasil melampaui target leverage yang ditetapkan pemerintah. Ini menunjukkan keseriusan Bank Mandiri memenuhi komitmen mendukung dan membantu pemulihan ekonomi. Kami akan segera menyalurkan penempatan dana PEN periode kedua untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak pandemi,” ujar Plt Direktur Utama Bank Mandiri, Hery Gunardi kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (2/10).

Menurut Hery Gunardi, Bank Mandiri juga sudah merestrukturisasi pembiayaan para debitur yang terdampak pandemi Covid-19. Baki debet restrukturisasi kredit yang diberikan Bank Mandiri hingga 1 Oktober 2020 mencapai Rp 116 triliun. Keringanan ini diberikan kepada 525 ribu lebih debitur. Dari jumlah itu, 389 ribu debitur merupakan nasabah UMKM.

Selain merelaksasi pembiayaan existing, bank beraset terbesar kedua di Indonesia ini tetap aktif menyalurkan kredit baru ke sektor-sektor usaha potensial. "Pemberian kredit baru di tengah pandemi dilakukan secara terukur dan mengedepankan prinsip kehati-hatian perbankan (prudential baking)," tutur dia.

Sepanjang paruh pertama 2020, penyaluran kredit Bank Mandiri secara konsolidasian mencapai Rp 871,7 triliun atau tumbuh 4,38% (yoy). Dari jumlah itu, Rp 466,6 triliun atau 53,5% pembiayaan disalurkan ke nasabah korporasi dan komersial.

“Likuiditas Bank Mandiri yang tetap terjaga sepanjang tahun ini membuat kami yakin untuk tetap menyalurkan pembiayaan bagi debitur-debitur yang memenuhi syarat. Penyaluran kredit dibutuhkan demi mempercepat perputaran roda ekonomi yang terhambat akibat pandemi,” ujar Hery.

Selain membantu pemulihan ekonomi melalui penyaluran dana PEN, restrukturisasi kredit, dan penyaluran pembiayaan, Bank Mandiri aktif mencairkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang permintaannya terus bertambah sejak awal semester II-2020. Sejak awal penyaluran KUR tahun 2008 sampai 31 Agustus 2020, Bank Mandiri telah menyalurkan KUR senilai Rp 102,49 triliun kepada 1,7 juta debitur.

Tahun ini, Bank Mandiri memiliki pagu KUR sebesar Rp 30 triliun. "Sampai posisi 31 Agustus 2020, KUR senilai Rp 11,58 triliun telah disalurkan kepada 137 ribu debitur lebih, dengan komposisi 60% disalurkan sejak periode awal pandemi Maret 2020," papar Hery Gunardi.

Mandiri Pintar

Pencairan dana KUR di tengah pandemi dilakukan Bank Mandiri dengan cara baru. Perseroan membuat terobosan dengan menghadirkan aplikasi Mandiri Pintar untuk mendorong penyaluran KUR secara lebih efisien dan minim risiko.

Melalui layanan digital ini, proses pengajuan KUR nasabah bisa langsung dilayani dalam waktu 15 menit setelah debitur mengajukan permohonan. Calon debitur tak perlu lagi mendatangi kantor Bank Mandiri untuk mendapatkan KUR.

“Pemanfaatan aplikasi dan teknologi digital dalam penyaluran kredit akan terus dimaksimalisasi Bank Mandiri. Digitalisasi layanan perbankan kini merupakan suatu keharusan agar nasabah memperoleh kepuasan maksimal dalam mendapatkan kebutuhan mereka,” kata Hery.

Melalui berbagai upaya dan kolaborasi dengan berbagai pihak, kata Hery Gunardi, Bank Mandiri yakin seluruh dampak negatif pandemi Covid-19 segera teratasi. Perbaikan kondisi perekonomian Indonesia diestimasikan mulai terjadi pada awal tahun depan. Ekonom Bank Mandiri memperkirakan perekonomian nasional tumbuh 4,4% pada 2021.

Hery menegaskan, untuk mewujudkan prediksi itu, kerja sama dan kerja keras seluruh pihak harus terus dilakukan. Penyaluran bantuan dan pembiayaan bagi pelaku usaha juga harus dilanjutkan melalui mekanisme yang aman dan mengedepankan proses digital dalam implementasinya.

Melalui penerapan teknologi digital, seluruh layanan keuangan bisa dinikmati secara lebih efektif dan efisien oleh masyarakat. Keamanan nasabah pun terjamin dan mereka tak perlu ragu menggunakan layanan keuangan karena takut tertular Covid-19.

“Digitalisasi bukan barang baru bagi Bank Mandiri, karena saat ini 96% transaksi nasabah sudah dilakukan melalui kanal-kanal digital. Kami berupaya untuk selalu fleksibel, adaptif, mempercepat transformasi digital, serta tidak takut keluar dari zona nyaman,” ujar Hery.

Hery Gunardi mengungkapkan, dalam usianya yang ke-22 tahun, Bank Mandiri ingin mengukuhkan diri sebagai bank dan lembaga keuangan yang terbuka dengan perubahan, serta mampu menjadi yang terdepan dalam memberikan layanan berbasis digital untuk masyarakat.

"Semakin luasnya penggunaan teknologi digital di masa pandemi menjadi momentum bagi perseroan untuk mencapai mimpi ini," tandas dia.

Untuk mewujudkan keinginan itu, menurut Hery Gunardi, Bank Mandiri dipastikan tetap berpegang pada Four Pronged Strategy untuk bergerak ke depan, yakni digitalisasi platform internal (digitize internal platforms), pengembangan produk yang bersifat murni digital (develop digital-native products), modernisasi kanal distribusi (modernize distribution channels), dan pemanfaatan ekosistem digital (leverage digital ecosystem).

“Adaptasi terus kami lakukan demi mewujudkan mimpi menjadi bank terdepan dalam memberi layanan keuangan berbasis digital serta memiliki digital transaction platform terbaik di Indonesia pada 2024. Kami juga tak luput meningkatkan skill SDM dengan membentuk digital mindset pada diri masing-masing Mandirian agar mereka semakin mampu bertahan dalam melewati ancaman resesi di masa depan,” tutur Hery. *** 

Baca juga: Tenis Meja dan Prinsip-prinsip Bankir

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN