Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Daniel Ko, Owner TGC Coffee Roastery

Daniel Ko, Owner TGC Coffee Roastery

DANIEL KO, OWNER TGC COFFEE ROASTERY

Bercermin pada Kejujuran Kopi

Amrozi Amenan, Senin, 18 November 2019 | 13:00 WIB

Kejujuran adalah segalanya dalam hidup ini. Dan, kopi bisa menjadi cermin untuk menampilkan kejujuran itu. Kopi bahkan dapat merepresentasikan pengakuan orang lain, salah satu pencapaian tertinggi dalam hidup.

“Kopi itu jujur. Siapa pun yang bikin, siapa di balik itu, kalau enak ya enak. Nggak peduli pangkat atau titelnya, kalau nggak enak ya tetap nggak enak. Saya ingin selalu jujur seperti halnya kopi yang jujur 'mengatakan' apa adanya kepada kita,” kata owner TGC Coffee Roastery, Daniel Ko.

Bercermin pada kejujuran kopi, Daniel yakin apa pun yang dikerjakan seseorang akan mendapat pengakuan orang lain sebagai tingkatan tertinggi yang dicapai dalam hidup ini.

Pengusaha kelahiran Surabaya, 24 Oktober 1973, ini sudah membuktikan bahwa kejujuran memberinya jalan kesuksesan dalam merintis karier bisnis, dari mulai berjualan produk asuransi, produk elektronik, kaos, ikan koi, hingga menjadi bakul (pedagang kecil) kopi.

“Kalau kita jujur apa adanya, usaha apa pun, seperti bakulan kopi ini, akan mendapat pengakuan dari customer,” kata anak bungsu dari empat bersaudara tersebut.

Mengaku bosan menjadi karyawan, alumni Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya ini memilih pensiun dini dan memutuskan berwira usaha dengan mengembangkan bisnis kopi di bawah bendera TGC Coffee Roastery yang terus berkembang.

Selain di dalam negeri, khususnya di Surabaya dan Bali, Daniel sedang menyiapkan pengembangan bisnisnya ke luar negeri, seperti Yordania, Beijing (Tiongkok), dan Sydney (Australia).

Apa saja kiat Daniel Ko dalam mewujudkan ambisinya membesarkan bisnis kopi? Mengapa ia ingin membawa kopi Indonesia dikenal di seluruh dunia? Berikut penuturan lengkap Daniel Ko kepada wartawan Investor Daily Amrozi Amenan di Surabaya, baru-baru ini.

 

Bisa diceritakan bagaimana Anda memulai bisnis?

Saat kuliah di Untag Surabaya, saya sudah bekerja untuk membiayai sendiri kuliah saya. Saya bekerja mulai dari menjadi tenaga sales di perusahaan cat besar asal Singapura, di lembaga keuangan sebagai sales asuransi, hingga menduduki jabatan sebagai general manager (GM) saat berumur 21 tahun.

Waktu itu, saya GM termuda di perusahaan asuransi. Saya pernah bergabung dengan beberapa perusahaan asuransi, seperti Aetna, Centris, dan Sinarmas Life.

Bidang asuransi memang menantang dan sekaligus menjadi pembuktian bagi diri saya. Bahwa saya bisa berhasil atau nggak. Betapa tidak, kerja keras dan tantangannya luar biasa besar. Minggu depan ada ujian di kampus, tiba-tiba dari big boss ada perintah bahwa minggu depan saya harus ikut meeting di Jakarta atau mewakili perusahaan di Hong Kong untuk awards.

Pilih mana, meneruskan kuliah atau bekerja. Kalau nggak ikut meeting, saya dipecat. Tapi pertanyaannya, yang bayar kuliahku siapa? Ya saya pilih kerja. Nggak lulus ujian mungkin saya bisa mengulang daripada tidak punya uang dan tidak bisa kuliah.

Makanya teman-teman kuliah seangkatan saya bilang bahwa saya ini paling kaya, karena kuliah S1 saja sampai tujuh tahun, melebihi teman-teman yang hanya empat tahun. Ada juga guyonan mereka bahwa Untag bisa membangun gedung berlantai 11 karena saya bayarnya double dibanding lainnya.

Dari asuransi, saya juga berkarier di perusahaan otomotif, menjadi sales manager Kawasaki pada 1996-1997, sebelum akhirnya keluar beberapa bulan kemudian saat krisis moneter 1998.

Pengalaman itu menjadi bekal Anda untuk terjun ke dunia bisnis?

Saat kondisi krisis moneter itu, saya memutuskan untuk bekerja sendiri. Bosan bekerja ikut orang selama 11 tahun. Sejak 1998, saya berjualan macam-macam produk dari Tiongkok, ada blender, mixer, kompor, magic com, dan lainnya.

Dengan naik sepeda motor, saya membawa sembilan magic com ke Pasar Turi. Sebagian produk elektronik juga saya kirim ke Pasar Gembong, pasar barang-barang bekas di Surabaya.

Dari pasar itu, saya memetik pelajaran berharga dari kehebatan pedagang di sana. Mereka bisa menjual blender baru seharga Rp 60 ribu atau di atas harga di Pasar Turi seharga Rp 45 ribu. Pasar tersebut waktu itu memang dikenal sebagai pasar yang menjual harga lebih murah. Itu artinya, faktor penjual juga penting.

Kapan persisnya Anda terjun ke bisnis kopi?

Saya memang punya passion di kopi. Awalnya saya menggoreng biji kopi dan menyeduhnya untuk teman-teman atau tamu-tamu di rumah. Sebenarnya waktu itu nggak terpikir untuk membuka gerai atau kafe, pinginnya buka roastery atau tempat penggorengan kopi.

Tetapi, saya dan istri juga mikirkan bisnis apa yang bisa diwariskan kepada anak-anak. Kami sempat berpikir bahwa kami harus membuka bisnis yang di Indonesia ada, tapi di negara lain nggak ada. Maklum pasar bebas, kami harus bersaing dengan produk yang pasarnya juga bebas.

Kami waktu itu pingin menekuni bisnis teh, tapi teh kita kan bukan yang terbaik di dunia. Nah, di kopi, secara cita rasa, kita terbaik di dunia, walaupun volumenya nomor lima di dunia.

Sambil berjualan produk impor dan ikan koi karena waktu itu saya sudah mulai pensiun, saya menggoreng kopi dan menjualnya secara online.

Tetapi dalam perkembangannya tidak berjalan sesuai harapan karena orang-orang di sini meminum kopi tidak sekadar minum kopi, tapi juga sebagai gaya hidup (lifestyle). Mereka butuh tempat untuk nongkrong. Waktu itu saya tetap keukeuh bahwa kopi premium bisa dinikmati di mana pun.

Kebetulan waktu itu ada lomba di Mal Grand City Surabaya, kopinya dari saya. Salah satu juri ngomong bahwa kopi saya enak. Dia kebetulan mau menyelenggarakan Festival Kopi pada 2013 di Spazio Intiland.

Saya bilang bahwa tempatnya jauh dari rumah saya, sehingga saya nggak tertarik. Tapi dia follow up saya terus, menawarkan stand. Saya bilang bahwa saya nggak punya staf. Saya maju mundur.

Tapi ketika dia bilang tempat dan biaya stand-nya dia yang bayar, wah saya sangat senang. Sebab untuk dapat stand harus bayar Rp 15 juta. Tiga hari ikut stand itu, saya bertemu para juri. Mereka suka banget kopi saya. Di situlah rasa percaya diri saya muncul.

Itu yang membuat Anda mantap untuk berbisnis kopi?

Kopi itu jujur. Jadi, siapa pun yang membikin, siapa di balik itu, kalau kopi itu enak ya enak. Nggak peduli pangkat, titel, lulusan Amerika atau Australia, kalau nggak enak ya nggak enak. Kopi bisa berbicara, ada rasa ini itu dan 'ngomong' ke kita.

Setiap tangan yang menyeduh pasti rasanya berbeda, walaupun standarnya tetap. Di bisnis kopi, saya dapat banyak teman, lawan, dan tantangan. Saya juga punya visi ingin memperkenalkan kopi Indonesia kepada pelanggan, karena banyak juga kafe yang percaya kopi impor lebih baik. Nggak masalah, cuma saya ingin membuktikan bahwa kopi kita adalah yang terbaik.

Kopi luar negeri bukan nggak baik. Memang lebih konsisten dan stabil. Tetapi kekayaan flavor kopi Indonesia tetap saja yang terbaik. Banyak anak muda tidak percaya itu. Nah, saya ingin membuktikan semua itu dengan menekuni bisnis kopi ini.

Rencana Anda untuk TGC ke depan?

Sekarang minum kopi sudah jadi lifestyle. Itu sebetulnya sudah dimulai sejak adanya brand coffee shop dari luar. Kemudian lifestyle gelombang berikutnya muncul kopi artisan, yaitu tidak pakai kopi komersial.

Prosepek bisnis ini bagus dan saya optimistis. Kalau nggak, mana mungkin saya buka terus gerai baru. Saya sengaja menaruh kedai agak ke dalam, bukan jalan umum. Sampai akhirnya orang tahu bahwa kita ada.

Saya selalu ingin mengulang waktu buka baru di pusat kota Surabaya, di Jl Basuki Rahmat (Basra). Dulu orang nggak tahu kami. Setelah tahu, orang datang kepada kami. Padahal, lokasinya bukan di jalan umum.

Kami akan terus mengembangkan yang baru, cuma kami hanya akan buka di Bali dan Surabaya. Saya ingin TGC milik Surabaya, sebagai coffee legend Surabaya. Kalau buka di tempat lain, identitas aslinya nggak akan ada. Saya ingin TGC dikenal sebagai ikon Surabaya. Orang ke Surabaya ya ke TGC. Sekarang penguatan image itu sudah berhasil, TGC sudah masuk daftar orang-orang yang berkunjung ke Surabaya.

Kami juga akan mengembangkan ke beberapa negara, seperti Yordania, Beijing (Tiongkok), dan Sydney (Australia). Kami sedang menjajaki undang-undangnya.

Ada 'darah kopi’ mengalir dari orang tua Anda?

Saya menekuni kopi sejak 2011. Tapi awalnya saya nggak buka apa-apa, cuma goreng-goreng kopi. Ada tamu, saya kasih. Orang nggak bisa complain, karena dikasih kok.

Tapi papa saya dulu memang tukang giling kopi. Waktu saya kecil, papa punya gilingan warna merah kopi. Beli biji kopi di Pasar Pabean, digiling sendiri dan dijual. Itu kopi robusta.

Waktu masih SD, sekitar tahun 80-an, ada tukang becak yang setiap tiga hari beli satu ons kopi, waktu itu harganya Rp 4.500. Uang segitu cukup besar, karena untuk ongkos naik kendaraan dari rumah ke sekolah saja hanya Rp 1.000.

Seorang tukang becak hanya karena ingin menikmati cita rasa kopi enak harus mengeluarkan uang Rp 4.500 per tiga hari. Waktu itu saya kaget juga, bapak ini edan, sampai segitunya. Waktu itu saya nggak mengerti enaknya kopi itu apa. Yang saya tahu, kopi itu pahit.

Sekarang saya tahu dan kisah bapak tukang becak ini juga menjadi penyemangat saya dalam berbisnis kopi. Apalagi, dengan pengalaman setahun saya bekerja di Maryland, Amerika Serikat, pada 2011. Saya bekerja di Starbucks, bukan di kafenya, tapi di gudangnya. Saya di bagian packaging, jadi saya tahu kopi yang dipakainya.

Waktu itu papa saya kena gagal ginjal dan harus cuci darah, butuh uang kas. Dari empat bersaudara, saya yang paling kecil dan saya yang bisa cari uang kas itu, ya saya berangkat ke sana, jadi kuli.

Filosofi dan nilai-nilai bisnis yang diwariskan orang tua?

Papa mengajarkan kejujuran, kerja keras, dan menjaga nama baik. Beliau juga mengajarkan agar jangan melukai hati orang lain, apalagi bersikap kasar. Meski keras, ia tidak pernah sekalipun menyubit mama. Nilai-nilai kebaikan itu yang selalu saya pegang dan jaga.

Dari mama, saya memperoleh pelajaran tentang kesabaran dan menjadi istri yang baik bagi suami. Inilah yang menginspirasi saya. Walaupun gagal di satu bidang, saya tak mudah putus asa, lalu meningggalkan bidang yang gagal.

Kesabaran membuat saya lebih bersemangat mencari jalan keluar dari kegagalan itu. Ketika saya gagal dan rugi ratusan juta rupiah waktu membuka gerai kopi pertama, saya tidak putus asa. Saya tidak boleh mundur karena gagal.

Kiat Anda agar TGC terus berkembang?

Papa punya idealisme, beliau tidak mau mencampur kopi. Kalau murni robusta, ya robusta. Saya melihat sendiri kejujuan itu. Semua itu menginspirasi saya bagaimana sebuah kejujuran harus saya tanamkan dalam mengelola bisnis ini.

Pengalaman saya bekerja di perusahaan sebelumnya juga memberi banyak pelajaran bagaimana mengelola bisnis yang baik. Hal yang tepenting dalam bisnis makanan dan minuman adalah mengatur anak buah, memperlakukan mereka agar menjaga kepercayaan pelanggan.

Saya bilang kepada mereka bahwa saya sudah 11 tahun ikut orang, tahu enak dan nggak enaknya. Saya nggak akan memperlakukan mereka nggak enak. Saya nggak ingin seperti bos yang tidak menghargai anak buahnya, selalu push dengan target tinggi.

Namun, dalam memperlakukan karyawan, saya tetap keras mendidik mereka. Salah ya salah, saya tetap memarahinya. Tujuannya saya jelaskan kepada mereka. Kalau mereka melakukan kesalahan yang fatal, akibatnya begini. Dengan demikian, mereka tahu sehingga kesalahan itu tidak terulang lagi.

Nilai-nilai yang Anda tanamkan kepada karyawan?

Saya bilang, orang yang berjualan makanan dan kopi itu adalah orang yang menjual idealisme. Jangan sampai membuat pelanggan kecewa. Sebab, sekali kecewa, pelanggan mungkin bisa memaafkan, tapi tidak akan pernah melupakannya. Itu bahayanya kalau berbisnis makanan dan minuman.

Obsesi Anda ke depan?

Saya ingin memperkenalkan kepada masyarakat bahwa brand lokal kedai kopi kita tidak kalah dari brand asing. Karena itu, selain mengembangkan kedai kopi di dalam negeri, saya berencana membuka usaha ini di luar negeri. Sudah ada tawaran kerja sama di luar negeri, seperti di Yordania dan Beijing (Tiongkok). Saat ini masih saya pelajari undang-undangnya. Saya juga sedang menyiapkan di Australia. Saya ingin brand lokal yang mendunia.

Mengapa harus ke luar negeri, padahal pasar domestik masih sangat besar?

Orang-orang umumnya baru mengenal satu brand setelah mendunia. Padahal brand itu asalnya dari dalam negeri sendiri. Itu yang ingin saya kejar di bisnis ini.

Bagaimana Anda meluangkan waktu untuk keluarga?

Dalam kesibukan apa pun, waktu untuk keluarga, untuk istri dan anak-anak, tetap menjadi prioritas. Setiap minggu, kami jalan-jalan dan makan bersama-sama.

Yang Anda harapkan dan tekankan kepada anak-anak?

Seperti yang diwariskan oleh orang tua saya, saya minta anak-anak menjaga kejujuran, kerja keras, tidak pantang menyerah, serta menjaga nama baik diri pribadi dan keluarga. Hidup ini butuh pengakuan orang lain. Dengan semua itu, kita akan diakui dan dipercaya orang lain. Dengan itu, hidup akan mulia.

Siapa tokoh idola Anda?

Sebetulnya nggak ada tokoh idola khusus. Apa yang positif saya ambil. Saya selalu mengidolakan orang yang bekerja keras untuk meraih sukses meski harus gagal dulu. Misalnya Thomas Alva Edison. Kalau tidak mencoba berkali-kali, mungkin kita tidak bisa menikmati terangnya lampu seperti sekarang. Atau Harland Sanders, pendiri KFC (Kentucky Fried Chicken). Kalau ia tidak gagal seribu kali, pastilah nggak ada KFC.

 

 

Biodata

 

Nama: Daniel Ko.

Tempat/tanggal lahir: Surabaya, 24 Oktober 1973.

Istri: Adela Adriani.

Anak: Tristan Amadeo Ko, Shawn Mattew Ko, Kenzou Mattew Ko.

 

Pendidikan:

S1 Manajemen - Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya (1999).

 

Karier:

- Marketing Sales Nippon Paint (1993).

- Marketing Sales PT Aetna Life Indonesia (1995).

- Branch Manager PT Asuransi Jiwa Centris (1995-1996).

- Sales Manager Surabaya Kawasaki (1996-1997).

- Regional Trainer PT Eka Life (1998).

 

Baca juga:

Tusuk Gigi di Mangkok Mi

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA