Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Logistik dan Supply Chain, Rico Rustombi. (Foto: Ist)

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Logistik dan Supply Chain, Rico Rustombi. (Foto: Ist)

Berjuang di Tahun 'Survival' dan 'New Chapter'

Jumat, 4 September 2020 | 07:00 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Tahun 2020 diistilahkan sebagai tahun mode bertahan hidup (survival mode) dan babak baru (new chapter). Menata ulang strategi dan model bisnis adalah kuncinya.

Hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia, tidak siap menghadapi Covid-19. Nasib perekonomian global pascapandemi Covid pun masih menjadi tanda tanya besar.

Bahkan, Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, serta Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memprediksi ekonomi global belum sepenuhnya pulih pada 2021.

Pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Agustus silam bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2020 minus 5,3% menandakan roda ekonomi domestik sedang melalui jalan yang mendaki, terjal, berliku, penuh aral dan rintang.

Kini, hampir semua sektor bisnis mengalami kontraksi, termasuk sektor transportasi dan jasa logistik. Seperti perusahaan-perusahaan lain di Tanah Air, PT Baruna Berkah Adhiguna dan PT Samudera Berkah Adhiguna, juga terimbas pandemi corona. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa logistik sumber daya alam, khususnya komoditas batu bara, itu harus mengerahkan segala daya dan upaya untuk menjaga kelangsungan bisnisnya.

“Kami menerapkan berbagai inisiatif agar dapat bertahan, antara lain menjaga dan mengatur cash flow, membatasi investasi, mengurangi biaya operasional, menyesuaikan waktu kerja, dan menyesuaikan proses bisnis dengan melaksanakan protokol Covid-19,” tutur Chief Executive Officer (CEO) PT Baruna Berkah Adhiguna, Rico Rustombi kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Di era pandemi, Rico Rustombi pun harus melakukan berbagai penyesuaian sejalan dengan imbauan pemerintah pusah dan daerah agar perusahaan mengedepankan dan menerapkan protokol kesehatan di tempat kerja.

“Kami harus memastikan kegiatan di lapangan bebas Covid-19. Kami juga harus menjamin pelayanan jasa logistik tepat waktu. Jadi, kami harus tetap menjaga kualitas pelayanan,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Logistik dan Supply Chain tersebut.

Penyesuaian lain yang dilakukan Rico adalah melakukan tes polymerase chain reaction (PCR) dan swab kepada seluruh karyawan, memberikan vitamin dan suplemen, hingga menerapkan sistem bekerja dari rumah. “Jasa pelayanan kami beroperasi selama 24 jam,” tutur dia.

Yang pasti, Rico Rustombi berupaya keras agar perusahaannya tidak mem- PHK karyawan. “PHK adalah pilihan terakhir. Jadi, ini sesungguhnya tidak mudah. Penyesuaian-penyesuaian ini kan menambah biaya operasional, namun kami offset dengan melakukan efisiensi biaya lain yang bisa kami tekan,” papar Rico.

Strategi Bertahan Hidup

Sejak kasus Covid-19 pertama diumumkan pemerintah pada awal Maret 2020, Rico Rustombi sudah punya gambaran bahwa dampak negatif pandemi corona akan sangat signifikan terhadap perusahaan yang dinakhodainya, PT Baruna Berkah Adhiguna dan PT Samudera Berkah Adhiguna.

Meski demikian, Rico tidak pernah memprediksi dan membayangkan kejadiannya begitu cepat dan masif. Pandemi dalam tempo singkat telah merusak tatanan kehidupan dan kegiatan bisnis. Oleh karena itu, dia mencanangkan 2020 sebagai tahun mode bertahan hidup dan babak baru (survival mode dan new chapter).

Ini merupakan tahun untuk bertahan hidup dan babak baru dalam menjalankan usaha. Kami menata ulang strategi atau model bisnis yang adaptif berbasis teknologi supaya dapat bertahan,” kata dia.

Rico Rustombi pun menambah investasi teknologi untuk mendukung pengembangan jasa pelayanan logistik perusahaannya. Ia yakin teknologi bisa mengakselarasikan semua proses bisnis perusahaannya.

Selain itu, Rico terus berupaya menjaga kesinambungan arus kas dan melakukan efisiensi biaya. “Penerapan teknologi yang adaptif pada masa dan pascapandemi Covid-19 terbukti sangat reliable dalam menjalankan pelayanan jasa logistik saat ini,” tandas dia.

Rico memprediksi tahun 2021 adalah siklus ekonomi Indonesia masuk pada tahap pemulihan, tetapi belum mencapai puncak mapan (established). Ekonomi Indonesia diperkirakan baru lepas landas pada 2022. “Itu sebabnya, perencanaan bisnis kami harus mampu menjawab masa-masa sulit tersebut,” ucap dia.

Yang jelas, pandemi Covid-19 ikut menurunkan permintaan dan ekspor industri batu bara nasional. “Volume pengiriman bar bara yang dapat kami layani sampai semester I-2020 turun 36% atau hanya 14,5 juta metrik ton (MT) dibandingkan semester I-2019 sebanyak 19,7 juta MT,” tutur Rico.

Saat ini memang mustahil mendapatkan tambahan volume pelayanan jasa logistik pada industri batubara. “Penurunan pendapatan tentunya berdampak kepada operating profit, margin usaha, dan likuiditas keuangan perusahaan,” ujar dia.

Tapi Rico Rustombi tidak menyerah. “Situasi ini kami sikapi dengan mengatur ulang strategi dan mengupayakan seluruhnya berjalan efektif agar perusahaan bisa bertahan,” tegas dia.

Kendala Perbankan

Selain perusahaannya menghadapi penurunan pendapatan, Rico Rustombi kesulitan mendapatkan penurunan biaya cicilan pokok investasi, bunga bank, fasilitas modal kerja, dan permodalan secara keseluruhan.

Padahal, pemerintah sudah sangat bersungguh-sungguh mengeluarkan kebijakan penanganan Covid-19 guna mengatasi masalah sosial dan ekonomi, termasuk bantuan kepada dunia usaha.

Menurut Rico, para pengusaha telah bekerja 24 jam non-stop untuk menjaga 'gawang' perusahaannya agar tidak bobol. Hampir semua waktu dan energi pengusaha kini dihabiskan untuk memutar otak agar perusahaannya bisa bertahan.

Rico mengakui, para pengusaha masih kesulitan mengakses stimulus yang dijanjikan pemerintah, terutama di sisi perbankan.

“Enak kami dengar, namun sulit untuk mendapatkannya. Ini yang menjadi kendala sesungguhnya. Seharusnya perbankan bisa lebih bijak melihat kesulitan pengusaha saat ini. Kami butuh keringanan dan solusi yang cepat,” papar dia.

Rico berharap pemerintah bisa membantu mengomunikasikan kebutuhan dunia usaha pada era pandemi. Perbankan perlu lebih fleksibel dalam mendukung stimulus yang diberikan pemerintah kepada dunia usaha, khususnya yang menyangkut restrukturisasi kredit dan pemberian modal kerja.

“Pemerintah perlu lebih tegas memberikan arahan kepada perbankan agar jangan terlalu kaku (rigid). Harusnya perbankan dan dunia usaha tumbuh bersama, baik dalam situasi sulit maupun normal. Semua harus bahu-membahu,” kata Rico.

Di sisi lain, Rico Rustombi mengapresiasi langkah-langkah pemerintah dalam membantu dunia usaha menghadapi pandemi, misalnya dengan memberikan stimulus fiskal berupa relaksasi PPh 21 karyawan dan PPh 25 badan.

“Pemerintah telah mengambil langkah-langkah yang cukup responsif dalam menangani pandemi Covid-19. Penanganan di bidang kesehatan dilakukan seiring dengan penanganan ekonomi,” tutur dia.

Dalam pandangan Rico, penanganan kesehatan dan ekonomi merupakan dua kata kunci dalam satu mata koin yang harus menjadi kebijakan prioritas pemerintah.

Dia menilai pencapaian pemerintah dalam menangani pandemi corona cukup baik. Langkah-langkah pemerintah juga cukup efektif. “Pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal II-2020 memang minus 5,3%, tetapi angka ini secara kuantitatif masih lebih baik di bandingkan negara-negara lain. Bahkan negara-negara lain sudah lebih dulu terjerumus ke dalam jurang resesi,” tutur dia.

Hanya saja, Rico menyayangkan lambannya eksekusi anggaran, sehingga penyerapan APBN terbilang rendah. Hal itu praktis berdampak pada rendahnya tingkat konsumsi domestik.

“Pemerintah harus mempercepat pemulihan di sisi permintaan atau konsumsi, karena faktanya konsumsi yang mendorong ekonomi dan investasi (sisi produksi),” ujar Rico.

Dia khawatir jika konsumsi tidak bisa didorong, perekonomian domestik makin sult tumbuh tahun depan. “Kita akan sulit pulih pada 2021. Selama pandemi Covid-19, persoalan utama ekonomi kita adalah menurunnya kinerja sisi permintaan. Jadi, kebijakan pemerintah seharusnya fokus dan mengarah ke sisi itu,” tandas dia.

Rico Rustombi mengakui, dari sisi APBN, pemerintah memiliki keterbatasan. Itu sebabnya, anggaran stimulus sejauh ini baru mencapai Rp 695,20 triliun.

Kadin pernah menghitung dan mengusulkan kepada pemerintah agar anggaran penanganan covid-19 dan pemulihan ekonomi setidaknya mencapai Rp 1.600 triliun atau sekitar 10% terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Saya berharap vaksin Covid-19 segera ditemukan dalam waktu tidak lama dan diproduksi secara massal,” ucap dia.

Dalam asumsi Rico, bila pemerintah berhasil menangani Covid-19 (termasuk menemukan dan memprodusi vaksin), serta sukses merealisasikan anggaran stimulus, ekonomi Indonesia setidaknya butuh waktu 6-12 bulan untuk konsolidasi dan pulih pada 2021.

“Jadi, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 tidak akan lebih baik dibandingkan 2019. Ekonomi kita kemungkinan baru bisa tumbuh signifikan di level 5-6% pada 2022,” ujar dia. ****


Baca juga: 8 Kiat Agar Tetap 'Survive'


 

 


 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN