Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Toto Sugiri, Presdir PT DCI

Toto Sugiri, Presdir PT DCI

PRESIDENT DIRECTOR PT DATA CENTER INDONESIA (DCI) TOTO SUGIRI

Bermimpilah, Tapi Jangan Cengeng

Emanuel Kure, Senin, 25 November 2019 | 13:14 WIB

Kesuksesan ternyata bisa dicapai dengan cara-cara sederhana. Cukup punya impian atau cita-cita, seseorang bisa mereguk keberhasilan yang gilang-gemilang. Syaratnya, ia harus fokus dan menekuni mimpinya secara konsisten.

Seseorang yang fokus dan tekun akan memiliki daya lenting (resilience) tinggi karena ia akan terus belajar mencari cara untuk bertahan dan berkembang. Ia akan selalu bangun kembali setiap kali terjatuh. Ia akan berupaya menemukan solusi setiap kali menghadapi masalah.

“Kunci sukses itu ya kita harus punya cita-cita. Tetapi cita-cita ini harus ditekuni. Kalau dicoba lalu mentok, cari jalan lain lagi, belajar. Jadi, sesederhana itu sebetulnya,” ujar President Director PT Data Center Indonesia (DCI) Toto Sugiri kepada wartawan Investor Daily Emanuel Kure di Jakarta, baru-baru ini.

Alhasil, bagi pria kelahiran Bandung, 23 September 1953 ini, kunci kesesuksesan lebih terletak pada mental seseorang atas kemampuannya merespons setiap tantangan. Orang yang gampang menyerah akan kehilangan kunci tersebut. “Kalau cengeng, ketemu tantangan langsung menyerah, ya selesai. Kalau nggak berhasil kemudian nyalahin orang lain, juga selesai. Kuncinya dimulai dari mental,” tegas dia.

Terlepas dari itu semua, Toto Sugiri beranggapan bahwa inti kesuksesan bukan terletak pada materi, pangkat, atau jabatan, melainkan pada seberapa banyak ia meninggalkan kenangan serta legasi yang baik dan bermanfaat bagi banyak orang. “Hidup itu kan hanya perjalanan. Yang lebih berarti itu perjalanannya,” tandas dia. Berikut petikan lengkapnya:


Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Dulu kan saya sekolah ambil teknik elektro. Setelah lulus sarjana muda, saya bingung mau ambil apa. Akhirnya pilih computer engineering. Sebab waktu saya lulus SMA, saya kuat di matematik. Akhirnya saya pilih yang banyak matematiknya.

Dulu, bayangan orang tua kita, kalau ambil matematik, berarti kita mau jadi guru. Maunya orang tua sih jadi dokter. Tetapi, setelah lulus SMA, saya ambil teknik sipil di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung. Tetapi cuma sebentar karena setelah itu saya pergi ke Jerman, ambil insinyur di Universitas RWTH Achen.

Saya mulai kuliah pada 1973 akhir, lulus sekitar tahun 1980. Setelah lulus, saya sempat bekerja di sana sebagai programmer, sekitar 1,5 tahun. Pada 1981, saya putuskan kembali ke Jakarta.

Saat kembali ke Indonesia, cari kerjaan susah, apalagi sebagai programmer. Waktu itu, jurusan programmer masih susah. Tetapi pada 1983, saya diminta untuk bantu di bank, Bank Bali, sebagai kepala divisi di bidang information technology (IT), sampai 1989.

Setelah itu saya keluar. Selanjutnya saya membuat software untuk company, khusus untuk perbankan. Lalu, saya berpikir untuk bikin perusahaan sendiri. Akhirnya, saya mendirikan perusahaan, namanya Sigma, sekarang jadi Telkomsigma.

Sambil membuat software, dengan beberapa anak buah yang saya ajak dari Bank Bali, kami juga berjualan mesin IBM. Perusahaan Sigma tetap survive, padahal waktu didirikan modalnya pas-pasan. Sigma kemudian bahkan berkembang menjadi besar. Ada 37 bank yang memakai produk kami. Lalu Sigma diakuisisi oleh Telkom, kemudian menjadi Telkomsigma. Saya sempat bekerja di Telkomsigma, beberapa waktu kemudian saya keluar.

Belajar dari situ, kepercayaan diri saya dan beberapa teman makin tumbuh. Pada 1994, teman saya bilang mau buat internet service provider (ISP). Lalu kami bikin perusahaan, namanya Indonet, itu merupakan perusahaan ISP pertama di Indonesia.

Lalu, pada 1997 terjadi krisis moneter. Perbankan kolaps. Kami nggak terlalu impacted, karena kami sangat prudent mengelola perusahaan. Kami nggak mau utang. Kalau uangnya belum punya untuk investasi, kami kumpulin dulu, inovasi dulu. Misalnya pakai mesin bekas aja dulu.

Jadi, waktu krisis moneter, kami tidak terkena, tetapi prihatin juga lihat negara kita. Maka kami membuat dua hal. Pertama, Bali Camp pada 1998-1999. Kami bikin satu resort di Bali, kami kumpulkan programer-programer di Indonesia, kerja di situ. Kedua, untuk bantu para pelanggan, kami mendirikan data center. Jadi, mulanya dari situ, kami bikin data center, ternyata berkembang sampai sekarang.

Itu awal mula PT DCI didirikan?

Sigma yang saya dirikan kan dibeli Telkom. Sekitar tiga tahun lebih saya barengan dengan Telkom. Lalu Telkom ambil 100% saham, saya mundur. Selanjutnya saya kembali mengumpulkan anak-anak yang bekerja di Sigma dulu, yang menjadi anak buah saya. Saya bantu bikin perusahaan software.

Sampai suatu waktu, saya tertarik untuk membuat sebuah data center yang bagus. Jadi, pada 2012, saya dirikan perusahaan data center, namanya PT DCI. Saya bikin yang bagus sekalian, yang paling tinggi Tier-nya, yaitu Tier 4.

Nekat juga waktu itu. Kami mau kualitas level dunia. Awalnya kami menyasar perusahaan-perusahaan asing, perbankan, atau perusahaan finansial yang bisa menghargai kualitas tinggi. Waktu itu, cita-cita saya adalah membuat data center terbaik, kualitasnya dunia. Kalau mobil, itu kelasnya Lexus dan Mercedes.

Apa yang membuat Anda tertarik bekerja di dunia IT, khususnya data center?

Prinsip hidup saya sederhana. Yang namanya cita-cita, lu mau jadi apa sih? Mau hidup seperti apa? Atau dalam bahasa Inggris, purpose of life. Kalau bisa jadi orang baik dan bermanfaat, cukup deh, pasti gue bangga. Tetapi, jadi orang baik kan susah. Ya sudah, bermanfaat aja dulu, deh. Prinsipnya seperti itu.

Jadi, karena dulu saya hobinya matematika, sekolahnya juga di bidang IT, ya udah, saya tekuni itu. Yang penting bisa bermanfaat. Kenapa saya tekuni bidang ini, karena setiap orang melihat, oh kelebihan kamu di sini.

Kiat Anda mencapai kesuksesan?

Bagi saya, mendirikan perusahaan itu hanya sebagai sarana. Sarana untuk manusia, untuk membuat sesuatu. Selain menghidupi diri sendiri, juga bisa berkontribusi untuk orang lain, nggak lebih nggak kurang. Sebab, bukan manusia harus hidup dari perusahaan, tetapi perusahaan harus bisa menghidupi manusia.

Jadi, orang jangan hidup hanya untuk perusahaan, tetapi perusahaan harus menjadi sarana untuk bersatu, bersama-sama membuat sesuatu. Makanya dulu, perusahaan pertama yang saya dirikan namanya Sigma, artinya kumpulan.

Untuk kunci sukses, mungkin anak-anak saya yang tahu. Tetapi saya mengajarkan kepada mereka cuma satu bahwa kuncinya mulai dari mental. Jangan cengeng deh, jangan suka nyalahin orang lain.

Kalau ingin bermanfaat, kita harus belajar, harus cari jalan. Kalau udah bermanfaat, orang pasti menghargai. Menghargai, yang paling sederhana, ya dikasih bayaran. Tetapi, kalau kita nggak bermanfaat, dibayar pun nggak. Yang lebih tinggi tingkatnya bukan pembayaran, tetapi rasa terima kasih, apresiasi. Pembayaran hanya salah satu bentuk apresiasi.

Saya mendidiknya dari basic-nya, dari mentalnya. Kunci sukses itu ya kita harus punya cita-cita, punya impian, tetapi cita-cita ini harus ditekuni. Kayak DCI, kami ingin menjadi perusahaan data center terbaik. Kami berusaha, cari caranya seperti apa.

Dicoba, mentok, cari jalan lain lagi, belajar. Tetapi kalau di tengah jalan, baru ketemu tantangan langsung menyerah, ya selesai. Kalau nggak berhasil kemudian nyalahin orang lain, juga selesai. Jadi, sesederhana itu sebetulnya.

Contohnya waktu kami lihat sebuah teknologi baru. Nomor satu yang kami lihat bukan apa cara kerjanya, tetapi manfaatnya apa. Ada handphone, ini manfaatnya apa? Itu yang selalu menjadi fokus saya kalau lihat teknologi baru. Kalau sudah lihat manfaatnya, baru dipelajari, di dalamnya apa?

Gebrakan Anda yang paling monumental?

Yang paling dekat, mungin di DCI, deh. Mulai beroperasi pada 2013, kami rekrut anak-anak muda, fresh graduate. Perjalanan awalnya memang cukup lambat. Sebagai Komisaris Utama pada waktu itu, saya melihat kok perusahaan ini tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya cita-citakan. Kurang percaya diri, dan sebagainya.

Jadi, pada 2016-2017 itu, saya rasanya stres. Jadi udah deh, daripada nonton dan marah-marahin direksinya, jadi saya tukar tempat dengan direktur utamanya. Saya jadi direktur utama (dirut), dan dirut jadi komisaris utama. Pada 2017, saya turun jadi CEO.

Saya panggil satu orang yang senior di bidang sales. Anak-anak saya panggil, kami bicara. Tetapi satu hal, yang saya komit, saya ingin membawa anak-anak dan perusahaan menjadi champion, membawa tim jadi juara.

Siapa yang mau, ayo ikut. Tetapi jangan cengeng. Ibaratnya kami satu tim sepakbola, nggak boleh ada yang cengeng karena nggak ada waktu nih. Kalian akan bangga terhadap diri kalian. Rumusnya cuma itu, masing-masing fokus.

Kunci suksesnya adalah membentuk satu teamwork yang bagus dan mengambil tugas sebagai team leader untuk membawa team itu menjadi juara. Kalau itu bisa dilakukan, tugas pertama selesai. Rasa percaya diri akan meningkat dan penuh antusias, bukan karena terpaksa. Setiap langkah kami belajar, komunikasi dibuka semua. Hasilnya, dalam beberapa bulan, perusahaan berubah, mulai positif. Data center kami, dari cuma 1 MW saat didirikan, kemudian menjadi 3 MW pada 2017, terus saat ini sudah 22 MW, dengan 19 MW okupansinya.

Utamanya, suasana di kantor berubah. Penuh semangat, bangga, percaya diri. Sebab, mereka tahu, itu juga merupakan keberhasilan mereka. Itu tugas saya sebagai leader.

Obsesi Anda untuk DCI dan industri data center Indonesia?

We want to biggest in Southeast Asia. Mungkin dalam tiga tahun, kami sebagai the biggest single site. Saya nggak tau sih posisi sekarang, karena masih didata. Tetapi paling tidak, DCI ada di tiga besar di Indonesia. Paling mudah, tetapi sudah tiga besar, dan dibikin oleh anak-anak kolong (Indonesia). Moga-moga ini bisa dipakai oleh generasi selanjutnya.

Apa filosofi hidup Anda?

Kalau bisa menjadi orang baik dan berguna, ya selesai. Hidup itu kan hanya perjalanan. Yang lebih berarti itu perjalanannya. Selama dalam perjalanan itu, kita menikmati atau tidak apa yang kita alami? Kebahagiaan kan itu sebetulnya. Setiap saat kita nikmati. Materi nggak akan dibawa mati.

Jangan terjebak dengan mengumpulkan materi. Lebih baik kita menikmati perjalanan hidup dan meninggalkan banyak manfaat serta kenangan atau legasi yang baik bagi banyak orang. Untuk saya sesederhana itu.

Jadi, mau saya pakai celana jeans atau kaos, mau saya pakai mobil Kijang atau Mercedes, yang dilihat harusnya si tokohnya. Bukan mobilnya atau bajunya, bukan apa yang saya punya, sebab materi bisa hilang dan datang.

Kebahagiaan bukan didapat dari situ. Sejak mahasiswa, saya sudah idealis seperti itu. Materi atau rezeki nggak perlu dicari, pasti datang sendiri kok. Bentuknya kalau kita bisa bermanfaat bagi orang lain, orang bisa kasih apresiasi, bisa kasih duit, kasih duren, atau hanya kasih terima kasih, itu selesai bagi saya.

Motivasi Anda dalam bekerja?

Saya ikut hati aja. Kalau hati saya suka, pasti saya sungguh-sungguh. Kalau cuma setengah-setengah, lebih baik nggak. Dalam bekerja, nomor satu adalah kebanggaan. Kita dihargai, ada apresiasi. Saya ajarkan juga kepada tim mengenai empati. Itu sebabnya, kami punya program corporate social responsibility (CSR). Bantu yang miskin, misalnya.

Cita-cita Anda yang belum tercapai?

Bisa muncul di tengah jalan. Sekarang ini DCI. Apakah sudah tercapai? Belum. Saya bahagia kalau generasi selanjutnya, anak didik saya, bisa berhasil. Saya ingin lihat negara kita menjadi leader di ekonomi dan politik di Asia Tenggara dulu deh. Jangan di belakang terus.

Tetapi memang sudah ada perkembangan. Dulu memang parah sih. Sekarang kan ada Gojek, Grab, Tokopedia. Setidaknya itu karya-karya anak bangsa yang bisa kita banggakan.***

 

Biodata

Nama: Toto Sugiri.

Tempat/tanggal lahir: Bandung, 23 September 1953.

Pendidikan:

- Bacherlo RWTH Aachen Electrical Engineer, Jerman.
- Master RWTH Computer Engineering, Jerman.


Karier :

* Head of IT Bank Bali (1983-1989).

* Founder PT Sigma Cipta Caraka (1989-2010).

* Co-Founder PT Indo Internet/Indonet (1992-sekarang).

* Co-Founder DCI Indonesia (2011-sekarang).

 

Baca juga:

Alam Sumber Inspirasi

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA