Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Abraham Viktor, CEO PT Modular Kuliner Indonesia (Hangry).

Abraham Viktor, CEO PT Modular Kuliner Indonesia (Hangry).

Abraham Viktor, CEO PT Modular Kuliner Indonesia (Hangry)

Berpikirlah sebagai 'Underdog'

Senin, 7 Juni 2021 | 14:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

Lahir di tengah keluarga akuntan memaksa Abraham Viktor menjalani pendidikan sesuai dengan keinginan kedua orang tuanya. Namun, di tengah jalan, pria yang akrab disapa Bram ini mulai menyadari jalan hidupnya dan muncul keinginan untuk menjadi pengusaha.

Jalan berliku pun dia tempuh untuk merintis karier sebagai pengusaha dengan membangun perusahaan di berbagai bidang. Hingga akhirnya, Bram memutuskan untuk mendirikan PT Modular Kuliner Indonesia (Hangry), perusahaan rintisan berbasis teknologi (startup) kuliner multibrand pertama di Indonesia. Bram mulai mengibarkan bendera bisnis kuliner itu bersama dua temannya, Andreas Resha dan Robin Tan, pada September 2019.

Bram menghadirkan empat brand in-house yang terdiri atas tiga brand makanan, yaitu Moon Chicken (ayam goreng ala Korea), San Gyu (masakan otentik Jepang), dan Ayam Koplo (ayam geprek dan berbagai hidangan ayam). Ia juga merilis brand minuman, Kopi Dari Pada.

Meski hadir dalam kondisi pandemi Covid-19, Hangry menuai sukses. Hanya dalam tempo setahun, Hangry berhasil mencetak penjualan 17-18 ribu porsi setiap harinya. Bahkan, dengan empat brand yang dimilikinya, Bram mampu menambah gerai (outlet).

Apa kunci sukses Bram selaku chief executive officer (CEO) Hangry? Ternyata dalam merinstis, membangun, dan menjalankan bisnisnya, Bram selalu menjunjung prinsip underdog mindset atau pola pikir sebagai pihak yang tidak diunggulkan. Prinsip itu pula yang dia bagikan kepada timnya dalam membangun dan menjalankan Hangry.

“Dengan underdog mindset, kami akan terdorong untuk terus berusaha lebih keras, tidak mudah merasa puas, selalu berinovasi, dan terus mencari yang berbeda dari yang lain,” tutur Bram.

Pada awal berdirinya, Hangry hanya punya satu outlet. Setelah satu tahun beroperasi, Hangry punya 41 outlet di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) serta Bandung.

Hangry mengawali distribusi penjualan makanan dan minuman melalui layanan pesan antar GoFood dan GrabFood hingga berhasil memperluas layanan dengan mengeluarkan aplikasi Hangry App pada pertengahan 2020.

Lewat aplikasi tersebut, aktivitas bisnis Hangry melalui layanan berbasis pesan antar melesat lebih dari 2.000% sejak awal 2020. Itu ditunjukkan oleh penjualan produk kuliner Hangry yang terus meningkat hingga mencapai 22 kali lipat dari Januari 2020 ke Desember 2020. Hingga saat ini, Hangry memperkerjakan lebih dari 1.000 karyawan.

Terakhir, Hangry meraih pendanaan Seri A sebesar US$ 13 juta atau setara Rp 188 miliar dari sejumlah investor yang dipimpin Alpha JWC Ventures, dengan partisipasi Atlas Pacific Capital, SALT Ventures, dan Heyokha Brothers.

Dengan pendanaan terbaru tersebut, Hangry menargetkan ekspansi nasional pada 2021, yaitu menambahkan outlet dan mengembangkan restoran dine-in.

Bram pun tidak hanya akan membidik ekspansi di dalam negeri, tapi juga pasar internasional. Sebab, visinya akan membawa Hangry menjadi salah satu pemain food and beverages (F&B) ke kancah global.

Lalu bagaimanakah perjalanan hidup pria yang masih berusia di bawah usia 30 tahun tersebut dalam menakhodai Hangry agar visinya terwujud? Berikut penuturan lengkapnya kepada wartawati Investor Daily, Indah Handayani di Jakarta, baru-baru ini.

Bagaimana perjalanan Anda hingga akhirnya memutuskan menjadi pengusaha di usia muda?

Menjadi pengusaha bukan impian yang saya cita-citakan. Keinginan menjadi pengusaha lahir ketika saya tersadar bahwa bangku kuliah yang saya tempuh, yaitu akuntansi, bukan jalan saya.

Jurusan tersebut merupakan pilihan orang tua. Apalagi seluruh keluarga adalah akuntan. Ditambah lagi, nilai akademis saya tidak memuaskan sehingga bisa dibilang tidak memungkinkan untuk dijadikan modal melamar pekerjaan di perusahaan bonafide.

Saya akhirnya nekat, tanpa pengalaman yang cukup, menjadi pengusaha ketika masih duduk di semester akhir kuliah. Saya membangun perusahaan selai Sarikaya Medan bersama teman saya. Ini perusahaan pertama, tapi nekatnya luar biasa.

Target saya ingin langsung menjadi pengusaha besar. Caranya, saya mengirimkan sampel produk ke perusahaan roti, Sari Roti. Ternyata, sampel tersebut sangat diminati Sari Roti. Karena itu, pihak Sari Roti ingin melihat dan inspeksi kesiapan pabrik dalam produksinya.

Celakanya, saat itu, kami belum punya pabrik karena produksinya masih terbatas. Untuk memenuhi syarat ini, saya menghubungi kerabat yang memiliki fasilitas produksi dan mengajaknya bekerja sama. Ketika didatangi pihak Sari Roti dan dinilai, ternyata kami tidak masuk seluruh kualifikasinya. Semua gagal total.

Kegagalan itu memaksa saya menguburkan keinginan menjadi pengusaha dan melanjutkan pendidikan hingga akhirnya lulus. Layaknya fresh graduate, saya pun mencari pekerjaan hingga akhirnya bekerja profesional di sebuah perusahaan jasa keuangan, Nomura.

Tetapi keinginan menjadi pengusaha kembali mengusik. Kali ini, keinginan saya semakin kuat kuat karena didukung pengalaman yang telah digali selama bekerja di perusahaan jasa keuangan. Akhirnya saya mendirikan perusahaan berbasis pinjaman yang mengkhususkan pernikahan.

Tak disangka, perusahan itu membawa saya bergabung dengan Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI) untuk mengikuti program inkubasi yang diadakan Ciputra. Bukan hal mudah untuk mengikuti program ini. Namun, saya berhasil lolos dan menjadi satu dari 12 tim yang mengikuti program tersebut, bahkan menjadi tim teratas yang dipilih. Saat itu, saya memilih William Tanuwijaya, pengusaha Indonesia yang juga pendiri Tokopedia, sebagai mentor.

Setelah sebulan mementori saya, secara mengejutkan William malah sangat tertarik dan menawarkan diri menjadi investor pertama perusahaan saya. Akhirnya, saya pun sepakat dan perusahaan yang tadinya bergerak di bidang pinjaman untuk pernikahan berubah ke pinjaman untuk para pedagang online dengan nama Taralite. Perusahaan tersebut mendulang sukses dan berhasil memimpin pangsa pasar pada 2018.

Kesuksesan Taralite terus berlanjut hingga akhirnya diakuisisi oleh OVO pada akhir 2018. Otomatis saya pun bergabung dengan OVO. Namun, tak lama berselang, jiwa sebagai pengusaha kembali bergejolak dan memanggil saya untuk membangun perusahaan baru.

Panggilan ini seperti panggilan Tuhan yang mengingatkan saya untuk kembali menjadi pengusaha agar bisa lebih bermanfaat bagi sesama. Karena itu, pada pertengahan 2019, saya memutuskan keluar dari OVO serta membangun perusahaan baru dan menjadi pengusaha lagi, yaitu Hangry.

Apa yang mendorong Anda masuk ke bisnis kuliner?

Setelah keluar dari OVO, saya mulai melirik-lirik bisnis apa yang akan dijalankan ke depan. Akhirnya saya melirik bisnis food and beverages (F&B). Selain saya memang foodie atau hobi makanan, bisnis ini terinspirasi oleh restoran Tiongkok, Hai Di Lao, yang menjual steamboat, namun mampu meraup omzet US$ 2 miliar setahun. Bahkan, perusahaan itu berhasil melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham di Tiongkok.

Perusahaan F&B dunia lainnya pun banyak yang sukses dan memiliki nilai kapitalisasi sangat besar. Hal ini membuka mata saya bahwa industri ini sangat besar dan peluangnya pun masih sangat besar. Apalagi para pemain F&B global saat ini merupakan pemain lama atau kelahiran 1950-an.

Belakangan ini, hampir tidak ada lagi pemain F&B baru yang lahir. Di sini, saya melihat ada peluang dan berusaha mengambil kesempatan ini untuk bisa menjadi F&B global dari Indonesia. Untuk itu, saya memiliki visi mampu membawa Hangry ke kancah global.

Kenapa memilih nama Hangry?

Nama Hangry berasal dari kata hungry atau lapar dan angry atau marah. Artinya, ini mengingatkan kami untuk bisa menyajikan makanan yang cepat dan enak. Dua hal ini merupakan hal penting dalam bisnis F&B.

Kiat sukses Anda?

Terus terang, saya juga masih belajar menjadi pengusaha dan CEO. Saya belum memiliki pengalaman yang banyak seperti CEO atau pengusaha lainnya. Tapi, dari pengalaman yang saya telah lalui sebelumnya, ada hal penting yang harus dimiliki CEO, yaitu clarity atau kejelasan, terutama dalam dua hal.

Pertama, tujuan atau arah, mau dibawa ke mana perusahaan tersebut. Ini sangat penting karena seorang pemimpin pastinya harus tahu akan dibawa ke mana perusahaan yang dipimpinnya. Misalnya, di Hangry, tujuan saya sangat jelas, yaitu menjadi bagian kehidupan masyarakat global. Artinya, saya ingin membawa perusahaan ini menjadi salah satu pemain global.

Kedua, clarity dalam value (nilai). Artinya, pemimpin sangat paham mengenai DNA atau karakteristik perusahaan tersebut. Jika tidak, tentunya perusahaan akan terombang-ambing dan akan sangat sulit menggapai goal-nya.

Berdasarkan pengalaman saya, kebanyakan yang terjadi pada CEO muda, mereka sering kali terpengaruh dan akhirnya perusahaan tidak sesuai dengan value yang ditetapkan.

Dengan clarity kedua hal ini, tentu saja arah kepemimpinan sebuah perusahaan akan menjadi mudah dibaca arahnya dan dipahami oleh anggota tim lainnya, sehingga dapat secara mudah menguatkan kerja sama tim.

Filosofi Anda sebagai CEO?

Pertama, yang terpenting adalah customer obsession atau obsesi palanggan. Ini sangat penting bagi kami. Kami selalu mengikuti tanggapan pelanggan satu per satu. Tak jarang tanggapan pelanggan pun saya tanggapi langsung. Komentar pelanggan menjadi masukan berharga bagi kami. Semua keputusan pun harus merujuk hal ini.

Kedua, underdog mindset. Dengan prinsip in, kami akan terus berusaha menjadi lebih baik, terus berusaha lebih keras, tidak mudah merasa puas, selalu berinovasi, dan terus mencari yang berbeda dengan yang lain.

Dengan demikian, kami bisa terus menunjukkan hasil, kinerja, dan inovasi yang terbagus. Lalu yang terpenting adalah terus memberikan yang terbaik kepada pelanggan. Ini menjadi modal utama sebuah perusahaan untuk berkembang. Bila tidak memiliki mindset ini, kami akan berhenti untuk berinovasi dan akhirnya kalah dalam persaingan bisnis.

Bahkan, kemenangaan yang telah berhasil diraih akan raib begitu saja. Ini saya pelajari dari persoalan Nokia, perusahaan yang telah berhasil menguasai pangsa pasar ponsel sebesar 30% di dunia pada tahun 2000-an, namun akhirnya tenggelam dan kalah dalam persaiangan.

Terakhir, sebagai pemimpin, saya harus mencintai tim saya. Akan sangat salah apabila saya melihat individu anggota tim hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan perusahaan. Sebab, kita semua adalah manusia yang diciptakan Tuhan. Untuk itu, mengasihi tim sangat penting.

Ketika ada yang membuat kesalahan, hal ini bisa menjadi pertimbangan apa yang fair bagi mereka, dan menunjukkan bahwa itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian saya kepada mereka.

Target Hangry selanjutnya?

Hangry memiliki ambisi besar menjadi perusahaan kuliner global pada 2030, dimulai dengan menjadi perusahaan makanan dan minuman terbesar di Indonesia pada 2025. Pandemi yang sedang terjadi pun tidak memengaruhi ambisi ini.

Meskipun sempat mengalami tantangan di awal pandemi, Hangry tahun lalu berhasil membuka lebih dari 35 outlet dan tumbuh hingga 22 kali hanya dalam kurun waktu satu tahun. Kami mulai dari sebuah ruko kecil dan akan terus berkembang ke kota-kota besar di Indonesia, lalu ke negara-negara Asia Tenggara, dan global.

Hangry menerima pendanaan institusional pertamanya sebesar US$ 3 juta atau sekitar Rp 43 miliar dari Alpha JWC Ventures dan Sequoia Capital melalui program akselerator Surge pada 2020, dan tumbuh pesat sejak saat itu. Melalui pendanaan Seri A ini, Hangry akan meneruskan misinya dengan melakukan ekspansi membangun lebih dari 120 outlet secara keseluruhan, dengan target meluncurkan 20 restoran dine-in pada 2021.

Strategi Anda membawa Hangry bermain di kancah global?

Konsep bisnis Hangry adalah multi-brand dan multi-channel untuk membawa banyak pilihan dengan berbagai jalan bagi konsumen. Karena itu, membuka restoran untuk makan di tempat memang sudah ada dalam perencanaan kami, namun kami tunda karena pandemi.

Tahun lalu, kami memutuskan untuk fokus dengan konsep cloud kitchen dan hal ini telah menjadi kunci kesuksesan Hangry. Kini, masyarakat sudah mulai siap untuk kembali beraktivitas normal, termasuk untuk makan ke luar. Ini adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan restoran Hangry.

Rencana besar tersebut serta performa bisnis kami yang kuat selama pandemi adalah alasan kami dapat meraih pendanaan Seri A dan kepercayaan dari para investor untuk bekerja sama untuk mencapai target-target kami ke depan.

Bagi kami, melanjutkan kemitraan dengan Alpha JWC Ventures yang merupakan salah satu investor terkuat Indonesia serta pendukung Hangry sejak awal adalah pilihan terbaik, terutama untuk memenangi pasar Indonesia dan regional ke depan.

Selain itu, investor baru kami memberikan nilai kuat lainnya bagi Hangry. SALT Ventures datang dengan keahliannya di bidang media, serta Atlas Pacific Capital dan Heyokha Brothers membawa pengalaman regional dan global yang sangat mendukung rencana jangka panjang kami. Bersama mereka, kami yakin jalan untuk mencapai ambisi global Hangry akan semakin mulus.***

 

Abraham Viktor, CEO PT Modular Kuliner Indonesia (Hangry).
Abraham Viktor, CEO PT Modular Kuliner Indonesia (Hangry).


Penggila Makanan

Bagi CEO Hangry, Abraham Viktor, makanan merupakan segalanya, terutama makanan yanng sangat lezat. Tak heran jika berburu makanan enak menjadi hobinya di kala senggang.

Bahkan, dia rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk bisa mencicipi makanan yang enak dan terbaik di berbagai tempat, baik di dalam maupun luar negeri.

“Saya suka makan dan makanan. Saya rela membayar berapa pun demi makanan. Kalau hal lain di luar makanan, saya selalu perhitungan,” ungkap Bram, panggilan akrab Abraham Viktor.

Pengalaman dan hobi itu menjadikan Bran masuk daftar salah satu Asia 50 Best Restaurants Voters. Hobi itu pula yang antara lain mendorong Bram mendirikan Hangry. Berbekal hobi dan kegemarannya terhadap makanan enak, Bram pun yakin sangat mengetahui hal-hal yang sangat dicari pelanggannya mengenai makanan di Hangry.

“Pelanggan sama seperti saya, pasti mencari makan enak, murah, dan memuaskan,” kata dia. (iin)

 

BIODATA

Nama: Abraham Viktor

Karier

- Founding Member & CEO Hangry, 2019.

- Co-founder & Chief Evangelist Taralite, 2015.

- Head of Special Projects OVO (PT Visionet Internasional), 2018.

- Investment Banking Analyst Nomura, 2014.

- Analyst The Boston Consulting Group, 2013.

- Co-founder Ixacon, 2012.

- Co-founder Kayafood, 2011.

- Summer Equity Analyst PT Panin Asset Management, 2011.

Pendidikan

- Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Universitas Indonesia (UI).


 


 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN