Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kadin Indonesia, Handito Juwono. (Foto: Ist)

Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kadin Indonesia, Handito Juwono. (Foto: Ist)

Bertahan Sambil Merancang Model Bisnis Baru

Jumat, 16 Oktober 2020 | 15:00 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

Tak semua sektor usaha menderita akibat pandemi. Asalkan bisa merancang ulang model bisnisnya secara tepat, para pengusaha bakal siap menghadapi pandemi.

Pandemi Covid-19 tak membuat semua sektor bisnis luluh lantak. Juga tidak mematikan semua peluang. Banyak sektor bisnis yang justru berkibar selama pandemi Covid-19. Banyak pula peluang yang terbuka semakin lebar.

Di bidang ekspor, misalnya, ada sejumlah sektor industri yang ekspornya turun drastis, seperti otomotif. Tetapi ada juga yang naik, seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

“Secara overall kita tuh tidak perlu pesimistis terhadap ekspor, karena ternyata di antara yang anjlok itu masih banyak yang tidak anjlok, bahkan ada yang naik. Ini yang harusnya memberi confident bagi kita bahwa ekspor bisa menjadi penyelamat perekonomian nasional,” ujar Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kadin Indonesia, Handito Juwono kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Handito menilai secara keseluruhan ekspor Indonesia masih relatif naik. Dia menduga sektor yang ekspornya turun semata-mata karena para eksportinya selama ini terlalu tergantung pada pembeli (buyer) luar negeri, sehingga akhirnya ikut terpengaruh.

Menurut Handito, di masa pandemi, pemerintah terus merelaksasi aturan-aturan ekspor. Selain itu, aparat pemerintah yang terkait ekspor, terutama di Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Perindustrian (Kemeperin), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) secara umum mendukung penuh kegiatan ekspor.

"Jadi, relatif tidak ada hambatan untuk regulasi ekspor. Kalau pun masih ada, aparat terkait biasanya membantu menyelesaikannya. Kami di Kadin selalu berkomunkasi dan memberi masukan kepada pemerintah,” tutur dia.

Handito yakin ke depan kinerja ekspor nasional akan semakin baik. Soalnya, Indonesia memiiki banyak produk yang tidak dimiliki negara lain, misalnya CPO, berbagai jenis ikan, kepiting, dan beragam jenis kayu. Dengan memiliki keunggulan komparatif itu, sudah seharusnya pemerintah mengoptimalkan berbagai produk yang potensial untuk diekspor.

Dalam pandangan Handito, sekarang adalah waktu yang tepat (timing) bagi pemerintah untuk meredesain atau merancang ulang ekspor. Apalagi kemauan dan kemampuan ekspor yang dimiliki para pengusaha nasional, termasuk UMKM, sudah membaik. “Maksudnya kesadarannya sudah meningkat, skill juga meningkat. Ini kesempatan bagi mereka untuk dikasih panggung yang lebih baik,” tandas dia.

Model Bisnis

Handito Juwono mengakui, 2020 adalah tahun sulit bagi dunia usaha. Untuk bertahan dari dampak pandemi Covid-19, para pengusaha harus melakukan efisiensi seoptimal mungkin sambil berharap bantuan stimulus dari pemerintah dan berdoa agar pandemi segera teratasi. Demi beradaptasi dengan pandemi, para pengusaha juga harus meredesain model bisnisnya.

Banyak perusahaan yang akhirnya tumbang karena gagal beradaptasi dan tak sempat merancang ulang model bisnisnya. Tak sedikit pula yang berhasil lolos dan semakin eksis. "Jadi, kuncinya terletak pada kemampuan beradaptasi, termasuk dengan meredasain business model-nya," ucap dia.

Handito memperkirakan perekonomian nasional mulai pulih pada semester II-2021. Tahun ini, ekonomi domestik diprediksi terkontraksi sampai akhir tahun.

"Pada awal tahun depan pertumbuhan akan flat karena masih konsolidasi. Yang bisa bertahan akan bertahan dan yang menyerah akan tutup cerita," kata dia.

Yang harus dilakukan perusahaan, menurut Handito, adalah sebisa mungkin bertahan sampai semester I-2021, sambil kemudian menyiapkan model bisnis baru. "Sebab, sekarang tidak bisa lagi menggunakan model bisnis yang lama. Jadi, lakukan konsolidasi untuk menyiapkan model bisnis yang baru,” ujar Chief Strategy Consultant Arrbey Consulting tersebut.

Tumpuan Harapan

Handito Juwono menerangkan, di tengah pandemi, ekspor bisa menjadi tumpuan harapan ketika ekonomi sedang melewati lorong gelap yang belum terlihat cahaya di depannya.

Untuk mewujudkan harapan itu, kata dia, pemerintah sebaiknya tidak hanya fokus pada komoditas lama, tetapi juga komoditas baru. Selain mendorong diversifikasi produk ekspor, pemerintah perlu memfasilitasi diversifikasi pasar ekspor. "Selain itu, pelaku usaha yang belum ekspor, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perlu diberi kesempatan ekspor lebih besar. Harusnya redesign perekonomian kita menuju ke sana,” papar dia.

Handito mencontohkan, beberapa tahun lalu Taiwan menata ulang bisnisnya. Negara itu memberikan peluang kepada pelaku usaha yang tidak terlalu besar atau IKM (industri kecil dan menengah) hingga mereka tumbuh dan memiliki basis yang lebih kuat.

Indonesia bisa meniru Taiwan, di mana para pemain baru, termasuk UMKM, diberi kesempatan lebih luas untuk melakukan ekspor, bukan hanya pemain lama yang sudah besar. “Kasihlah kesempatan kepada para pemain baru yang belum besar. Nah, kalau itu bisa dilakukan, kinerja ekspor nasional akan lebih cepat pulih,” ujar dia.

Para eksportir baru yang skala bisnisnya masih kecil perlu mendapat fasiltas untuk membantu mereka berkembang. "Sudah saatnya terjadi regenerasi ekspotir, sehingga akan muncul ide-ide yang lebih kreatif, lebih cepat, lebih agresif dari kaum muda untuk pengembangan ekspor," tutur dia.

Itu sebabnya, para newcomers harus dipersiapkan secara baik untuk berkompetisi di pasar ekspor. "Nggak cukup dikasih pelatihan dan sekolah ekspor. Mereka juga mesti diberi insentif pendanaan ekspor dan fasilitas-fasilitas ekspor lainnya,” ucap dia.

Handito mengungkapkan, eksportir besar dan kecil menghadapi masalah yang berbeda saat ini. Eksportir besar menghadapi harga komoditas yang sedang turun, sedangkan eksportir kecil menghadapi masalah infrastruktur ekspor, khususnya yang terkait dengan transportasi, logistik, pembayaran. “Ini yang harus dibenahi,” ujar dia.

Rupanya, pria berkacamata ini pernah membantu eksportir kecil yang mengalami kesulitan mengirim uang hasil ekspornya senilai ratusan juta rupiah ke Indonesia. Mungkin bagi eksportir besar tidak ada masalah mengirim uangnya melalui bank, tetapi tidak demikian bagi eksportir kecil. “Bagi eksportir kecil nggak segampang itu, ada batasan-batasannya dan harus memenuhi aturan-aturan tertentu,” tutur Handito.

Eksportir juga masih terbentur masalah infrastruktur pengiriman barang. Penerbangan kargo di Indonesia telah berkurang banyak. Alhasil, para eksportir kesulitan mengirim barangnya ke buyer di luar negeri.

Menurut Handito, pemerintah perlu menata dan memperbesar kapasitas pelabuhan, terutama di luar Jawa, untuk mendukung kegiatan ekspor.

“Dengan begitu, dari sana akan mengalir berbagai produk ekspor pertanian, perkebunan, dan perikanan. Kenapa kalau ekspor harus lewat Surabaya atau Jakarta, kenapa nggak langsung dari Biak, misalnya? Itu yang harus dikembangkan. Jadi, harus dibenahi, baik transportasi maupun pergudangannya,” papar dia. ***

Lihat juga: Tetap Eksis Karena Mampu Beradaptasi

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN