Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur  Utama Pertamina, Nicke Widyawati.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati.

Di Balik Kesulitan Selalu Ada Kemudahan

Selasa, 3 November 2020 | 09:30 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

Selalu ada kemudahan dalam setiap kesulitan. Selalu ada peluang dalam setiap tantangan. Energi positif ini terus ditebar Nicke Widyawati, terutama selama pandemi. Seberapa kompleks tantangan yang dihadapi Pertamina?

Tahun 2020, bukanlah tahun yang mudah bagi industri migas dunia, tak terkecuali PT Pertamina (Persero). Bahkan, BUMN ini mengalami tiga hal guncangan (triple shock) akibat pandemi Covid-19, yakni penurunan penjualan hingga 25% secara nasional, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta fluktuasi harga minyak dunia yang memengaruhi arus kas operasi dan arus kas perseroan.

Namun, Nicke Widyawati, sang nakhoda Pertamina, selalu memegang teguh prinsip bahwa di balik segala kesulitan selalu ada kemudahan, ada sisi terang (bright side), selalu ada opportunity untuk menjadi lebih baik. Berpegang pada prinsip tersebut, Nicke konsisten menyebarkan energi positif kepada seluruh tim untuk selalu melihat sisi positif dari segala peristiwa dan memberikan semangat dalam menghadapi segala tantangan.

Tekad Nicke Widyawati adalah ingin menjadikan Pertamina berkontribusi dan menjadi bagian penting di level internasional. Perempuan berhijab itu juga ingin negeri ini mencapai kemandirian dan kedaulatan energi.

Hal tersebut, menurut Nicke, tidak mudah dicapai jika Pertamina memiliki struktur organisasi yang 'gemuk'. Padahal, ke depan eranya sudah berubah, tantangan semakin kompleks. Pertamina dituntut bergerak lebih gesit dan berlari lebih kencang.

Sebagai contoh, dalam jangka panjang Pertamina harus mencari sumber bahan baku energi yang baru, sebagai antisipasi jika energi fosil sudah habis. Tetapi dalam waktu bersamaan, perusahaan pelat merah itu harus menggenjot produksi minyak dari 420 ribu barel per hari (bph) menjadi 1 juta bph. Di sisi lain, Pertamina harus menjamin pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji ke seluruh pelosok negeri. Belum lagi berbagai persoalan lainnya.

“Kalau masih menggunakan organisasi lama, kami akan sulit fokus, karena pasti akan disibukkan oleh banyak hal. Kami punya aset yang besar. Tapi dengan kondisi seperti ini, keekonomian sulit dicapai. Makanya kami lakukan efisiensi yang secara fundamental nantinya bisa membuat hulu Pertamina lebih kompetitif,” tutur Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Akhirnya, reorganisasi pun dilakukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Juga untuk meningkatkan kapasitas produksi dan cadangan dengan aset yang ada. “Di dunia migas itu biasa dilakukan. Tahapannya, restrukturisasi, kemudian profitisasi, barulah privatisasi,” ujar dia.

Nicke Widyawati memimpin restrukturisasi Pertamina sebagai holding migas dan berkontribusi aktif dalam menurunkan impor minyak mentah dan BBM, serta menyediakan energi yang lebih bersih untuk masyarakat melalui program B30. Nicke melakukannya lebih cepat dari target yang ditetapkan pemerintah. Ia pun secara konsisten meningkatkan transparansi dan senantiasa berupaya menjunjung tinggi prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG).

Saat Pandemi Covid-19 menghantam dunia bisnis, Nicke langsung mengambil langkah strategis. Di hadapan 32 ribu karyawan, dia memaparkan kebijakan strategis untuk menjaga kinerja perusahaan dari segi operasional dan finansial.

7 Hal di Era Pandemi

Nicke menekankan beberapa hal pada masa pandemi ini. Pertama, Pertamina harus menjamin ketersediaan energi ke seluruh pelosok negeri di tengah pandemi. Untuk menjamin ketersediaan BBM, elpiji, dan gas bumi bagi masyarakat dan industri. Untuk itu, Pertamina tetap mengoperasikan seluruh aktivitas produksinya dari hulu hingga hilir, serta seluruh mitra bisnis pada ekosistem proses bisnis Pertamina.

Nicke pun berupaya tidak menghentikan operasi agar tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK), walaupun perusahaan migas global lainnya maupun industri lain melakukan PHK besar-besaran. Hal ini demi menjaga keberlangsungan hidup 1,2 juta tenaga kerja langsung, serta dampak pengganda (multiplier effect) bagi sekitar 20 juta tenaga kerja secara tidak langsung.

Hal kedua yang ditekankan Nicke Widyawati yaitu Pertamina tetap menjalankan proyek-proyek strategis yang menyerap ribuan tenaga kerja dan menggerakkan industri nasional. Semua dijalankan dengan tetap mematuhi protokol Covid-19 dengan prioritas kesehatan pekerja.

Ketiga, konsisten menjalankan dan memastikan program mandatori pemerintah, seperti B30, penyaluran BBM dan elpiji bersubsidi, serta program BBM Satu Harga di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T), serta program konversi BBM ke elpiji untuk nelayan dan petani.

Keempat, secara korporasi memimpin Pertamina Group dalam melakukan berbagai upaya untuk membantu pemerintah dalam menangani dampak Covid-19. Pertamina melakukan alih fungsi beberapa aset perusahaan, seperti hotel, perusahaan, dan wisma, disulap menjadi safe house untuk isolasi mandiri pasien Covid-19. Bahkan, lapangan sepak bola di lingkungan aset Pertamina dialihfungsikan menjadi rumah sakit darurat khusus Covid-19.

Langkah kelima yang ditempuh Nicke Widyawati adalah mendorong Pertamina untuk memberikan dukungan penuh kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Keenam, melakukan efisiensi biaya operasional (operating expenses/opex) untuk semua Pertamina Group sebesar 30% dan belanja modal (capital expenditure/capex) hampir 25%, dengan tetap meningkatkan produktivitas.

Ketujuh, di tengah pandemi, Nicke Widyawati meminta segenap jajaran Pertamina bersikap terbuka untuk bersinergi dengan pihak lain dalam mengembangkan berbagai program strategis Pertamina, misalnya bersinergi dengan PT Kimia Farma Tbk untuk mengembangkan produk petrokimia bahan baku obat-obatan. Dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PT Pupuk Kujang, Pertamina juga sepakat membangun pabrik katalis nasional pertama di Indonesia.

Belajar dari PLN

Sebelum akhirnya memimpin Pertamina, Nicke Widyawati sempat bekerja di beberapa perusahaan. Walaupun di perusahaan berbeda, sebenarnya Nicke bekerja di perusahaan yang masih dalam satu value chain. Itu memberikannya kesempatan untuk banyak belajar. Apalagi ia punya prinsip bahwa di mana pun ditempatkan, ia harus terus menimba ilmu.

"Di Rekind, saya belajar tentang project lapangan. Lalu pindah ke bagian manajemen corporate, lalu pindah ke bagian strategic, human resources. Jadi, helicopter view-nya dapat. Kalau masuk satu view, kita akan melihatnya dari sisi yang berbeda, lebih komplit,” papar dia.

Sempat menjabat sebagai direksi di PT Perusahaan Listrik Negara/PLN (Persero), Nicke mengaku mendapat banyak pelajaran di sana. Banyak hal yang bisa diaplikasikan di Pertamina, salah satunya adalah konsep membangun infrastruktur yang andal.

“Prinsip PLN itu listrik tidak boleh mati, jadi ada back system yang baik sampai ke unit terkecil, yakni rumah tangga. Saya maunya Pertamina juga punya sistem ini. Dalam mendistribusikan BBM, kami masih banyak menggantungkan pengiriman melalui kapal laut dan mobil tanki. Risikonya, ketika ada jembatan putus atau terjadi ombak besar, pasti terjadi kelangkaan," ucap Nicke.

Karena itu, demi keandalan pasokan BBM, Nicke akan menambah pengiriman melalui jalur khusus, yakni melalui pipa. "Setidaknya akan dibangun 14 ruas besar yang bakal menjamin kemudahan distribusi BBM, selain sektor hulu yang akan kita benahi,” kata dia.***

Baca juga: Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN