Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Carmelita Hartoto. ( Foto: Istimewa )

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Carmelita Hartoto. ( Foto: Istimewa )

Harus Segera Bangkit demi Bantu Pemulihan Ekonomi

Jumat, 31 Juli 2020 | 15:00 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

Jasa tansportasi, bersama sektor pariwisata dan perhotelan, merupakan sektor industri yang paling terpukul dampak Covid-19. Kondisi itu diperparah oleh beragam permasalahan lain, seperti perang dagang AS-Tiongkok, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan anjloknya harga minyak dunia.

Untuk bisa survive dan tetap bisa melayani masyarakat pada masa kenormalan baru (new normal), pelaku usaha jasa transportasi masih membutuhkan stimulus atau insentif.

“Jika iklim bisnis ini tidak segera diperbaiki dan tidak ada dukungan terhadap sektor swasta nasional, akan banyak pelaku usaha transportasi yang gulung tikar,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perhubungan, Carmelita Hartoto kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Carmelita, seluruh aspek sektor transportasi telah terdampak pandemi Covid-19, mulai dari anjloknya volume muatan, sampai terganggunya cashflow perusahaan.

Di luar itu, perusahaan transportasi masih terhambat persoalan teknis dan operasional, seperti rumitnya pengurusan izin serta bertambahnya prosedur di pelabuhan dan bandara selama masa pandemi. Semua itu menyebabkan biaya operasional perusahaan membengkak.

"Hal-hal ini saling terkait. Turunnya muatan penumpang, baik darat, udara, maupun laut yang bisa mencapai 100% akan berdampak pada turunnya omzet. Sejalan dengan itu, piutang perusahaan juga kian tinggi akibat banyaknya pengguna jasa yang mengalami kesulitan bisnis," papar Carmelita.

Carmelita menjelaskan, Covid-19 yang penyebarannya sangat cepat dan masif membuat semua pihak, baik swasta maupun pemerintah, kaget dan tergagap-gagap.

Pemerintah sendiri telah meresponsnya antara lain dengan mengeluarkan stimulus untuk dunia usaha. “Namun, belum semua usulan swasta dipenuhi,” tutur Carmelita Hartoto.

Baru Sebagian

Kadin Indonesia, kata Carmelita, sudah mengusulkan sejumlah stimulus yang dibutuhkan pelaku usaha transportasi, baik darat, laut, maupun udara. Secara garis besar, Kadin mengusulkan pemberian stimulus di sisi fiskal dan moneter untuk permodalan usaha, hingga diskon-diskon biaya teknis di pelabuhan dan bandara.

Sebagian usulan itu sudah disampaikan dan direspons dengan terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 44/PMK03/2020 tentang Insentif Pajak untuk Wajib Pajak Terdampak Pandemi Covid- 2019. “Namun, sebagian lagi masih kami dinantikan,” ucap Carmelita.

Untuk transportasi darat, Kadin mengusulkan relaksasi pembayaran kewajiban pinjaman kepemilikan kendaraan kepada kreditur dalam bentuk penundaan pembayaran kewajiban pokok utang atau bunga selama enam bulan terhitung sejak April 2020. Kadin juga mengusulkan pembebasan segala penalti akibat tertundannya pembayaran kredit.

Sementara itu, untuk moda transportasi udara, Kadin Indonesia mengusulkan penundaan pembayaran terkait biaya bandara, biaya navigasi, dan biaya avtur selama enam bulan sejak April 2020. Juga penghapusan biaya parkir pesawat.

Adapun di transportasi laut, Kadin mengusulkan penundaan pembayaran angsuran pinjaman, penjadwalan ulang (rescheduling) pembayaran pinjaman bank, serta diskon suku bunga pinjaman.

“Kadin juga merekomendasikan pemberian modal kerja untuk membiayai account receivable (A/R) dan operasional perusahaan, serta kemudahan persyaratan proses relaksasi pinjaman," papar Carmelita, yang juga Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners Association (INSA).

Carmelita Hartoto menegaskan, stimulus dan insentif-insentif tersebut sangat diperlukan untuk membantu pemulihan ekonomi nasional pada masa new normal atau kenormalan baru. Soalnya, pada era new normal, seluruh kegiatan ekonomi tidak serta-merta kembali seperti semula dan produktivitas bisa langsung digenjot.

"Perlu kami tekankan pula bahwa new normal bukan berarti tanpa dukungan dari pemerintah. Stimulus dan insentif yang saya paparkan tetap diperlukan untuk pemulihan ekonomi di masa new normal tersebut," tandas dia.

Carmelita menggaris bawahi, Kadin Indonesia Bidang Perhubungan secara berkala menggelar rapat dengan para pelaku usaha untuk mengetahui perkembangan terkini, khususnya tentang persoalan dan dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor transportasi nasional.

"Temuan-temuan di lapangan kami sampaikan kepada pemerintah melalui surat. Di sisi lain, kami juga cukup intens berkomunikasi dengan pemerintah melalui berbagai rapat yang digelar. Kami siap berkoordinasi dengan pemerintah dan semua pihak," ujar Carmelita Hartoto.***

 

Baca juga: Menunggu Stimulus untuk Bertahan

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN