Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto

Ikan adalah Masa Depan

Rabu, 15 Juli 2020 | 09:30 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

Mengajak masyarakat gemar makan ikan mungkin terdengar sepele. Bahkan, bisa jadi, ajakan itu dianggap tak akan mendatangkan manfaat.

Padahal, ajakan mengonsumsi ikan bisa menghasilkan lompatan yang dahsyat. Jika makan ikan menjadi budaya, kualitas hidup bangsa Indonesia bakal meningkat karena kebutuhan proteinnya terpenuhi.

Selain itu, budaya mengonsumsi ikan bisa mendongkrak kesejahteraan masyarakat, khususnya para nelayan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Maklum, jika konsumsi ikan melonjak, penghasilan nelayan akan meningkat. Di sentra-sentra perikanan juga bakal bermunculan industri pengolahan ikan yang menyerap banyak tenaga kerja.

Itu belum termasuk sektor ikutannya, seperti transportasi, makanan dan minuman, infrastruktur, properti, serta sektor-sektor terkait lainnya. Berkembangnya sentra-sentra perikanan pada akhirnya juga meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak.

“Jadi, gerakan gemar makan ikan bisa mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi bangsa ini. Bukan hanya menjadi solusi bagi permasalahan gizi di Indonesia, tapi juga bisa meningkatkan kesejahteraan nelayan dan mendorong perekonomian nasional,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Yugi mafhum jika Indonesia adalah salah satu negara penghasil ikan terbesar di dunia. “Sebagai negara maritim, kita dikaruniai sumber daya alam, khususnya ikan, yang melimpah. Sayangnya, konsumsi ikan di negara kita masih kurang,” ujar dia.

Konsumsi Per Kapita

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), konsumsi ikan di Indonesia per Oktober 2019 baru mencapai 93,5% dari target. “Masyarakat Indonesia hanya mengonsumsi 50,49 kg ikan per kapita dari target 54 kg,” tutur Yugi.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah kepemimpinan Edhy Prabowo sejatinya sudah mencanangkan program peningkatan konsumsi ikan di masyarakat.

Pada rentang waktu 2020-2024, KKP menargetkan peningkatan angka konsumsi ikan secara nasional dari 56,39 kg per kapita per tahun pada 2020 menjadi 62,50 kg per kapita per tahun pada 2024.

“Jadi jelas, pemerintah menargetkan peningkatan angka konsumsi ikan sebesar 6,11 kg per kapita per tahun,” ucap Yugi.

KKP, khususnya Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), pada 2019 melakukan survei penghitungan sementara pencapaian angka konsumsi ikan nasional di 34 provinsi, yang mencapai 55,95 kg per kapita per tahun.

“Dari data ini, konsumsi ikan nasional telah melebihi target 2019 sebanyak 54,49 kg per kapita per tahun,” kata Yugi, yang juga tercatat sebagai Pembina Komisi Pemangku Kepentingan dan Konsultasi Publik (KP2) KKP.

Menggandeng BUMN

Di sisi lain, Yugi Prayanto mengusulkan kepada pemerintah untuk membangun lebih banyak gudang pendingin (cold storage) di sentra-sentra perikanan, terutama di kawasan timur Indonesia (KTI).

Pembangunan cold storage di sentra-sentra perikanan bisa melibatkan badan usaha milik negara (BUMN). “Pertimbangannya, setelah membeli ikan dari para nelayan dengan harga yang wajar, tentu BUMN-BUMN masih bisa memberikan keuntungan yang layak kepada nelayan,” papar Yugi.

Dalam usulan Yugi Prayanto, pola kerja sama nelayan dengan BUMN bisa bermacam-macam. Salah satunya yaitu membangun mini market hasil laut di setiap kota, melalui pola kerja sama dengan para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

“Itu akan sangat membantu. Nelayan tertolong, BUMN juga bisa menjadi pengayom bagi pelaku UKM,” tegas dia.

Lebih dari itu, masyarakat juga bisa menikmati hasil ikan yang lebih baik. Soalnya, ikan-ikan tersebut masih segar. Harganya pun lebih terjangkau. “Kalau skema ini terwujud, saya yakin mata rantai penjualan ikan bisa disederhanakan,” tandas dia.

Yugi secara gamblang membeberkan bahwa saat ini nelayan kecil selalu terimpit. Keuntungan yang diraih mereka terlalu kecil. “Anda bisa bayangkan, untuk melaut saja, mereka sudah harus pinjam uang dari rentenir,” tutur dia.

Ketahanan Pangan

Setelah mendapatkan hasil tangkapan pun, para nelayan kecil harus membayar utang kepada tengkulak dengan suku bunga selangit. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan para pengepul ikan yang menekan harga ikan sedemikian rupa, sehinga akhirnya bukan keuntungan yang diraih para nelayan, tapi justru kesulitan. “Akibatnya, kehidupan dan kesejateraan nelayan sulit meningkat,” ujar Yugi.

Penderitaan para nelayan ternyata tidak berhenti sampai di situ. Oleh pengepul, ikan masih dijual lagi kepada bandar besar bermodal kuat dan punya cold storage besar. Mereka inilah yang mengatur harga ikan di pasar.

Alhasil, para bandar inilah yang meraup untung besar. “Sebaliknya, nelayan yang harus memeras keringat selama 18 jam per hari, mendapatkan keuntungan paling kecil,” ucap dia.

Karena alasan itu pula, Yugi Prayanto berharap pemerintah segera membuat aturan baru dan mulai memikirkan ketahanan pangan yang efeknya menguntungkan semua pihak secara win win.

“Kalau nelayan untung dan pengepul merasa tidak dirugikan, masyarakat pasti akan menikmati ikan segar dengan harga terjangkau. Masyarakat juga dapat membeli bahan makanan dari hasil laut yang kaya protein dan Omega3,” papar Yugi.

 

Fakta & Data Sektor Perikanan Indonesia:

 

* Konsumsi Ikan Nasional:

50,49 kg per kapita per tahun (Oktober 2019).

Target 2020: 56,39 kg per kapita per tahun.

Target 2024: 62,50 kg per kapita per tahun.

 

* Ekspor Hasil Perikanan:

Nilai ekspor Maret 2020: US$ 427,71 juta (naik 6,34% dibanding

Februari 2020, naik 3,92% dibanding Maret 2019).

Volume ekspor Maret 2020: 105,20 ribu ton (naik 15,37% dibanding

Februari 2020, naik 4,89% dibanding Maret 2019).

Nilai ekspor kumulatif Januari–Maret 2020: US$ 1,24 miliar (naik

9,82% dibanding Januari-Maret 2019).

Volume ekspor Januari–Maret 2020: 295,13 ribu ton (naik 10,96%

dibanding Januari-Maret 2019).

 

* Tujuan Ekspor (Januari–Maret 2020):

1. Amerika Serikat (AS): US$ 508,67 juta (40,97%).

2. Tiongkok: US$ 173,22 juta (13,95%).

3. Asean: US$ 162,29 juta (13,07%).

4. Jepang: US$ 143,82 juta (11,59%).

5. Uni Eropa: US$ 82,05 juta (6,61%).

 

* Komoditas Ekspor:

1. Udang: US$ 466,24 juta (37,56%).

2. Tuna-tongkol-cakalang (TTC): US$ 176,63 juta (14,23%).

3. Cumi-sotong-gurita: US$ 131,94 juta (10,63%).

4. Rajungan-kepiting: US$ 105,32 juta (8,48%).

5. Rumput laut: US$ 53,75 juta (4,33%).

Sumber: KKP/BPS.

 

 

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN