Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ivan Arie Sustiawan,  CEO & CO-Founder  TaniHub Group.

Ivan Arie Sustiawan, CEO & CO-Founder TaniHub Group.

IVAN ARIE SUSTIAWAN, CEO & CO-FOUNDER TANIHUB GROUP

Jadilah 'Risk Taker'

Eva Fitriani, Senin, 23 Maret 2020 | 12:15 WIB

Banyak hal yang harus dimiliki seorang entrepreneur sejati, salah satunya karakter sebagai seorang risk taker (pengambil risiko).

Karakter risk taker dibutuhkan terutama saat seorang entrepreneur dihadapkan pada dua pilihan, yaitu ingin maju dan berkembang pesat, atau tetap jalan di tempat karena terus berada di zona nyaman (comfort zone).

Lalu, batasan risiko seperti apa yang bisa diambil oleh seorang entrepreneur agar ia bisa terus survive dan mampu memenangi persaingan?

"Tidak semua risiko bisa ditabrak. Cost dan benefit-nya tetap harus dipertimbangkan," kata Chief Executive Officer (CEO) & CO-Founder TaniHub Group, Ivan Arie Sustiawan.

Ivan adalah tipe risk taker. Maka sebagai risk taker, ia tahu betul saat menerima tawaran untuk membawa TaniHub Group memasuki persaingan di pasar digital.

Terlebih, sebagai perusahaan rintisan (start-up) di bidang pertanian, TaniHub menjadi hal yang sangat menantang. Ia dituntut mengasah kemampuannya sebagai entrepreneur sekaligus sebagai pemimpin perusahaan.

Pria yang mengawali karier di sebuah kantor akuntan publik ini sempat malang melintang  di berbagai perusahaan selama lebih dari 15 tahun sebelum akhirnya menambatkan hatinya di TaniHub.

Idenya menggabungkan semangat kreativitas anak muda dan tenaga berpengalaman, berhasil mengantarkan TaniHub mencapai pertumbuhan lebih dari 200% pada 2019.

TaniHub telah bermitra dengan lebih dari 30.000 petani dan membantu meningkatkan produksi petani sebesar 30% serta menaikkan pendapatan petani hingga 50%.

TaniHub Group memiliki tiga unit usaha, yaitu TaniHub sebagai platform e-commerce hasil tani, TaniFund untuk pendanaan mitra petani, dan TaniSupply yang fokus kepada pengelolaan rantai pasok.

Penyaluran dana masyarakat kepada petani melalui TaniFund mencapai US$ 6,2 juta atau setara Rp 86,8 miliar untuk 140 proyek budidaya tanaman dan pembiayaan transaksi penjualan.

Pencapaian itu pun tak lantas membuatnya jemawa. Keinginan untuk menjadikan pertanian bagi semua orang atau agriculture for everyone menjadi target utamanya. Misi yang juga menjadi ambisinya secara pribadi, profesional, dan entrepreneur.

Berikut penuturan lengkap Ivan Arie Sustiawan kepada jurnalis Investor Daily Eva Fitriani di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bisa diceritakan bagaimana perjalanan karier Anda dan bagaimana success story-nya?

Saya lulus dari Universitas Trisakti tahun 2000, Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi. Saya mencoba mencari pekerjaan yang memang sesuai background pendidikan saya. Saya bekerja di perusahaan kantor akuntan publik sebagai financial analyst selama hampir dua tahun.

Kemudian saya mendapat kesempatan menjadi manajer pada usia yang sangat muda saat itu. Jadi, berbekal dua tahun pengalaman kerja, saya pindah ke sebuah perusahaan asuransi di bawah naungan National Australia Bank (NAB), dulu disebut MLC Life.

Di perusahaan tersebut, saya memegang peranan sebagai audit and risk management. Selesai dari sana, kemudian diajak bergabung di salah satu perusahaan ekspedisi dan logistik dari Belanda, yaitu TNT Express & Logistics.

Saya bekerja selama dua tahun juga di sana, hingga akhirnya bergabung dengan perusahaan ritel terbesar saat itu, Carrefour Indonesia. Di Carrefour, banyak hal yang saya pelajari, mulai dari human resources, operations, internal control, risk management, hingga internal audit, selama enam tahun.

Kemudian saya lompat lagi ke salah satu perusahaan ritel yang dibangun Trakindo Group di bidang retail supermarket dan F&B business. Saya pun mengabdi di sana selama dua tahun, di bagian operation, financial, dan audit.

Setelah itu, baru saya mulai berkarier di dunia digital industry, bergabung dengan perusahaan online commerce, yaitu HappyFresh sebagai Group Financial Controller.

Kemudian saya pindah lagi ke salah satu e-logistics (company) saat itu, sebelum akhirnya bertemu teman-teman di TaniHub, anak-anak muda yang bisa dibilang relatif muda usianya dan mereka ngajakin untuk ngebangun suatu start-up di bidang pertanian.

Jadi, mereka meminta kesediaan saya untuk menjadi mentor dan memimpin TaniHub. Saya terima tantangan itu. Kenapa? Karena saya sangat terinspirasi oleh mimpinya.

Mimpi mereka dengan mimpi saya hampir sama, yaitu ingin membangun pertanian bagi seluruh masyarakat Indonesia atau kita istilahkan dengan semboyan Agriculture for Everyone.

Itu yang mendorong saya untuk meninggalkan semua kenyamanan yang sudah saya dapat, untuk bergabung dengan mereka. Dimulai dari nol, dengan segala keterbatasan dana, keterbatasan tim, keterbatasan jaringan atau network. Hingga akhirnya, sudah banyak yang kami raih dan hasilkan sampai hari ini.

Kiat Anda dalam meniti karier dan mengelola perusahaan?

Yang paling menantang dalam membangun karier adalah bagaimana saya belajar banyak hal. Saya tidak pernah mau menutup setiap ilmu baru dalam hidup saya. Jadi, saya merasa segala ilmu yang saya dapat selama di dunia kerja sangat berguna, tanpa mesti pilih-pilih.

Sebagai risk taker, sampai batas mana risiko yang Anda ambil?

Memang jiwa saya adalah jiwa petualang. Jadi, walau penuh kehati-hatian, tetap saya juga sebagai risk-taker dalam mengambil keputusan. Tentu saja risk-taker yang betul-betul mempertimbangkan juga cost dan benefit-nya. Jadilah risk taker, tapi tidak semua risiko bisa diambil atau ditabrak.

Ini yang menurut saya penting bagi seorang entrepreneur dalam mengembangkan suatu bisnis. Tanpa itu semua, kita akan sulit memenangi persaingan di dunia bisnis ini.

Dengan pengalaman yang saya miliki, saya merasa itu sangat bermanfaat saat saya membangun ini (TaniHub) bersama teman-teman dengan segala sumber daya yang tersedia.

Alasan idealis memilih profesi sekarang?

Ya, tentu saja alasan idealisnya adalah kami punya visi yang sama, yaitu Agriculture for Everyone. Kami merasa tidak banyak orang yang mau terjun di dunia ini dengan terobosan baru di bidang teknologi. Ini yang membuat kami tergerak. Kami percaya, setiap usaha yang dampaknya sangat besar bagi masyarakat akan memberikan kepuasan batin tersendiri.

Kebetulan kami fokus di bidang pertanian. Kami bangun dengan tiga pilar, yaitu social impact, technology, dan agriculture. Nah, tiga pilar inilah yang menjadi salah satu acuan kami dalam menjalankan visi dan misi untuk kemajuan pertanian Indonesia.

Dari mana Anda memperoleh inspirasi ini?

Inspirasinya dari anak-anak muda ini yang sudah memulai TaniHub. Saya bukan yang pertama membangun TaniHub. Saya melihat betapa anak-anak muda ini tidak mementingkan kepentingannya sendiri, melainkan kepentingan bangsa. Itu membuat saya ikut tergerak.

To be honest, dengan usia saya yang saat itu cukup jauh rentangnya di atas mereka, saya merasa bahwa saya menemukan suatu teman untuk bersama-sama mewujudkan mimpi yang sama.

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?

Pertama kali saat kami membangun TaniHub, saya sudah bilang kepada mereka yang muda-muda, para co-founders itu, bahwa supaya bisa sustain dan menang di kompetisi, kami harus menggabungkan potensi orang-orang berpengalaman, orang-orang yang muda, dan energik. Kenapa? Karena kalau hanya mengandalkan anak-anak milenial tanpa dilengkapi orang-orang berpengalaman, saya khawatir nanti tidak akan mendapatkan hasil yang optimal.

Itu yang kami lakukan (di perusahaan). Jadi, di antara start-up lain, kami mencoba membaurkan orang-orang berpengalaman yang mungkin usianya sudah tidak muda, dengan anak-anak muda yang penuh dengan ide, penuh kecepatan, sehingga mereka bisa bersinergi.

Nah, model yang saya jalankan adalah bagaimana menciptakan suatu kondisi yang suportif dan kolaboratif, di mana segala keputusan itu tidak harus datang dengan model top-down, tapi lebih mengedepankan bottom-up.

Jadi, kami juga memberikan delegasi kepada beberapa tim untuk mengambil keputusan sesuai kapasitas mereka. Dengan begitu, mereka mendapatkan kepercayaan cukup tinggi untuk memberikan atau mengambil keputusan dan tindakan yang berdampak baik bagi perusahaan.

Gaya inilah yang kemudian membuat teman-teman semakin semangat. Kenapa? Karena segala keputusan itu tidak harus selalu menunggu dari CEO-nya. Mereka juga bisa melakukan itu sepanjang sudah diukur tingkat risiko dan benefit-nya. Itulah yang membuat kami hingga hari ini bisa berkembang sangat pesat. Itu karena kita mencoba meng-unlock potensi para karyawan atau tim, sehingga mereka bisa memberikan yang terbaik bagi perusahaan dan para stakeholders.

Strategi khusus Anda dalam memajukan perusahaan?

Strategi khususnya adalah lebih ke arah bagaimana kami bisa konsisten dalam mengejar visi dan misi, serta bagaimana menerapkan suatu perencanaan yang betul-betul sudah memperhatikan beberapa aspek. Juga bagaimana perencanaan itu bisa dieksekusi dengan sangat baik oleh orang-orang pilihan yang sudah kami rekrut dan kami develop.

Ada contoh keberhasilan gebrakan yang Anda buat?

Pertama, yang saya bilang tadi, kami mencoba membaurkan talent-talent muda dengan talent-talent yang berpengalaman.

Kedua, kami menciptakan suatu semangat bahwa yang kami kejar adalah mimpi yang sangat tinggi. Banyak orang yang mungkin saat itu menganggap remeh atau underestimate kepada kami tapi kita tidak pernah berhenti untuk berjuang.

Itu yang saya bilang ke teman-teman bahwa mungkin hari ini kami bukan siapa-siapa. Tapi ingat bahwa kami melakukan semua ini bukan untuk membuktikan kami ini siapa, tapi untuk membuktikan bahwa kami bisa memberikan yang terbaik kepada petani Indonesia.

Apa filosofi atau nilai-nilai hidup yang Anda pegang?

Filosofi hidup paling utama yang saya pegang adalah bagaimana bisa memberikan kepercayaan kepada seseorang dengan setulus hati, dengan niat yang baik, dengan harapan bahwa kepercayaan itu bisa memberikan suatu hasil yang sangat positif bagi kebaikan orang banyak.

Itu yang saya lakukan dengan membangun TaniHub. Dasar pertama kami adalah kepercayaan (trust). Tanpa trust, kita tidak akan bisa membangun ini bersama-sama. Tanpa trust, para co-founders yang berjumlah enam orang ini tidak akan mungkin bisa bahu-membahu bekerja sama untuk memajukan TaniHub Group.

Kepercayaan itu sangat penting. Dengan modal itu, segala sesuatu bisa kami dapatkan dengan cepat, dengan baik, karena kerja sama tim sangat solid.

Obsesi Anda yang belum dicapai?

Obsesinya masih (terkait visi TaniHub Group), yaitu Agriculture for Everyone, masih menjadi mimpi kami. Itu belum berhenti. Itu yang menjadi my personal and also professional ambition, and also as an entrepreneur.

Saya sangat berharap sekali bahwa suatu hari, petani kita, sebagai anggota masyarakat kita, betul-betul mendapatkan posisi yang layak di dalam kehidupan berbangsa ini. Dengan demikian, kita juga tidak perlu khawatir anak cucu kita nanti kelaparan atau kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Bisa jadi ini tidak akan selesai pada zaman saya, bisa jadi tidak akan selesai di zaman anak-anak muda yang sekarang bergabung dengan saya.

Tapi yang pasti, kami sedang menanamkan suatu warisan bagi mereka, optimisme bagi mereka bahwa apa yang kami perjuangkan itu bukan suatu hal yang tidak mungkin.

Seberapa penting peran keluarga dalam mendukung karier Anda?

Supporting system yang paling utama dalam hidup saya adalah keluarga. Tanpa mereka, saya tidak bisa bekerja dengan baik, mengejar mimpi-mimpi dan ambisi yang saya punya. Itu penting. Jadi, dukungan dari anak-anak dan istri saya itu membuat saya begitu semangat dalam membangun TaniHub.

Anak-anak saya sering mengatakan, “Pa, yang kami banggakan adalah bukan apa yang papa jabat sekarang. Yang kami banggakan adalah apa yang papa lakukan dan bagaimana yang papa lakukan itu memberi manfaat kepada orang banyak.”

Hal ini yang membuat semangat saya tidak pernah padam untuk berjuang melalui TaniHub Group, untuk kepentingan masyarakat Indonesia, dan itu dimulai dari support system yang saya dapat dari keluarga.

Support system kedua adalah yang saya terima dari teman-teman di lingkungan TaniHub Group. Jadi, keluarga dan teman-teman atau kolega di TaniHub Group merupakan support system utama bagi saya dalam membangun TaniHub Group.***

 

Biodata

Nama: Ivan Arie Sustiawan

Tanggal lahir: 3 Juli 1977.

Status: menikah, dua anak.

Pendidikan:

Sarjana Akuntansi, Universitas Trisakti (1995 –2000).

 

Karier:

* Januari 2017 – sekarang: CEO & Co-Founder PT Tani Fund Madani Indonesia.

* Agustus 2016 – sekarang: CEO & Co-Founder PT Tani Hub Indonesia.

* April 2016 – Oktober 2016: VP Finance Etobee.

* Januari 2016 – April 2016: Group Finance Controller Happy Fresh.

* 2013 – 2015: Enterprise Risk Management & Internal Audit Senior Manager Tiara Marga Trakindo (TMT) Group.

* 2012 – 2013: Training & People Development General Manager Carrefour Indonesia.

* 2006 – 2012: Internal Control Development Manager Carrefour Indonesia.

* 2004 – 2006: Internal Control Manager TNT Indonesia.

* 2002 – 2004: Compliance & Risk Manager MLC Indonesia.

* 2000 – 2002: Financial Analyst RSM Indonesia.

 

Baca juga: https://investor.id/figure/fitness-untuk-redakan-stres

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN