Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Pemberdayaan Daerah,  Anindya N Bakrie

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Pemberdayaan Daerah, Anindya N Bakrie

PENANGANAN EKONOMI DAN KESEHATAN HARUS DISELARASKAN

Jangan Ada Dikotomi

Jumat, 11 September 2020 | 07:00 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

PMI manufaktur Indonesia sempat menyentuh level terendah sejak 2011 dan terkontraksi paling dalam di antara negara-negara Asean pada April silam. Namun, pada Agustus lalu, PMI Indonesia naik secara meyakinkan ke level ekspansi. Benarkah perekonomian domestik bisa segera bangkit jika penanganan ekonomi dan kesehatan terus diselaraskan?

 Janji Presiden Jokowi untuk melakukan vaksinasi Covid-19 secara masif mulai Januari 2021 telah meniupkan asa baru bagi dunia usaha. Janji yang dilontarkan Presiden pada akhir Agustus itu juga mendapat respons positif dari para investor di pasar saham domestik.

Namun, berbagai kemungkinan dapat terjadi sebelum distribusi vaksin terealisasi. Hingga kini, grafik kasus baru Covid-19 di Indonesia belum menunjukkan tren penurunan. Bahkan, kasus baru terus bermunculan.

Sementara banyak negara sudah mengumumkan fase resesi, Indonesia masih menunggu pengumuman ekonomi kuartal III-2020 pada November mendatang.

Semua menunggu dengan harap-harap cemas. Akankah ekonomi Indonesia, seperti negara-negara lainnya, tahun ini terjerumus ke dalam jurang resesi setelah pada kuartal II terkontraksi 5,32% dan pada kuartal I hanya tumbuh 2,97%?

Syukurlah, kabar baik akhirnya muncul. Mesin-mesin produksi yang nyaris terhenti selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan, pelan-pelan bergerak lagi. Hal itu tercermin pada Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang mencapai 50,8 pada Agustus, atau level tertinggi sejak Maret 2020. Aktivitas manufaktur dinyatakan sedang ekspansif apabila melampaui level 50.

Penguatan sektor manufaktur di Indonesia terjadi akibat adanya pertumbuhan penjualan sebagai dampak pembukaan kembali ekonomi atau pelonggaran PSBB secara bertahap. Banyak perusahaan telah menyesuaikan diri dengan kondisi kenormalan baru (new normal).

PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus mengungguli negara-negara Asean lainnya yang masih berada di level kontraksi (di bawah 50), yaitu Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Bahkan PMI Manufatur Singapura yang pada Juli mencapai 50,2, pada Agustus anjlok ke level 43,0.

Bandingkan dengan posisi April, saat PMI Indonesia berada di level 27,5, jauh lebih rendah dibanding Korea Selatan (41,6), Malaysia (31,3), Vietnam (32,7), dan Filipina (31,6).

Tetapi, lagi-lagi, membaiknya PMI Indonesia bukan jaminan bahwa ekonomi sudah benar-benar bangkit secara permanen. Hal buruk bisa saja terjadi, terutama jika muncul gelombang kedua (second wave) pandemi Covid.

Itu sebabnya, pemulihan ekonomi melalui pelonggaran PSBB harus berjalan simultan dengan upaya meredam penyebaran wabah corona. Tak boleh ada dikotomi di antara keduanya.

“Artinya, pembukaan sektor-sektor ekonomi harus tetap diikuti protokol kesehatan yang ketat. Itu yang diharapkan dunia usaha,” kata Chief Executive Officer (CEO) dan President Director PT Bakrie & Brothers Tbk, Anindya N Bakrie kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Anindya mengapresiasi keputusan pemerintah melonggarkan PSBB seraya tetap memberlakukan protokol kesehatan. Tujuannya tiada lain agar penyebaran Covid bisa dicegah, namun ekonomi dapat kembali bergulir, angka pengangguran dan kemiskinan tidak membengkak, dunia usaha tidak kolaps, dan daya beli masyarakat meningkat.

Dampak Covid-19 terhadap perekonomian sungguh dahsyat. Pendapatan mayoritas emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama semester I-2020 menyusut akibat PSBB. Alhasil, para emiten pun ramai-ramai melakukan efisiensi. Pemangkasan berbagai biaya terpaksa dilakukan.

Ujian Para CEO

Di balik dampak negatif yang ditimbulkannya, ternyata banyak hikmah yang bisa dipetik dari pandemi Covid-19. Krisis akibat pandemi corona menjadi ujian bagi para pemimpin perusahaan untuk menjaga sisi keuangan perusahaan dan sisi kemanusiaan dari para karyawan.

Hikmah itu pula yang sedang diambil dan dipahami Anindya Bakrie. “Pada masa-masa sulit pasti ada proses pembelajaran yang bisa diambil untuk bergerak maju,” tutur alumnus Stanford University Graduate School of Business ini.

Bagi Anindya, kemampuan perusahaan dan semua perangkatnya untuk beradaptasi merupakan hal utama, di samping kemampuan berinovasi, dalam menghadapi pandemi. Untuk bisa melakukan hal itu, manajemen memerlukan tim kerja yang kuat.  “Manajemen perlu memastikan punya orang-orang yang tepat di setiap posisi dan pekerjaan,” ujar dia.

Bakrie & Brothers telah melakukan stress test untuk menganalisa secara menyeluruh dan melakukan simulasi terhadap kinerja unit-unit usaha yang terdampak pandemi. Hasil stress test turut membantu emiten yang melantai di BEI dengan sandi saham BNBR itu untuk menyiapkan langkah-langkah bisnis secara lebih baik.

“Misalnya kami menetapkan fokus kepada industrialisasi sebagai arah perusahaan ke depan,” tandas Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Pemberdayaan Daerah tersebut.

Bakrie & Brothers telah memutuskan untuk kembali memperkuat industri-industri yang sejak awal digeluti perusahaan tersebut, melalui penerapan dan penguasaan teknologi terkini serta penambahan investasi terhadap sumber daya yang memadai.

Bakrie & Brothers secara umum memiliki lima divisi bisnis, yakni PT Bakrie Metal Industries yang mengelola manufaktur pipa, PT Bakrie Autoparts yang bergerak di bidang komponen otomotif, dan PT Bakrie Building Industries yang fokus sebagai produsen bahan bangunan. Itu belum termasuk divisi investasi, di mana perseroan memiliki saham pada sejumlah perusahaan Grup Bakrie, serta divisi infrastruktur lewat PT Bakri Indo Infrastructure.

Divisi bisnis infrastruktur Bakrie & Brothers menangani sejumlah proyek strategis, seperti Pembangkit Listik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jatu A yang digarap bersama YTL Jawa Energy BV, jalan tol Cimanggis-Cibutung yang dikerjasamakan dengan PT Waskita Toll Road, serta proyek jalur pipa gas Kalija fase 1 dan fase 2.

Masukan bagi Pemerintah

Sebagai pengurus Kadin Indonesia, Anindya Bakrie juga aktif memberikan masukan kepada pemerintah. Dalam pandangan Anindya, koordinasi di antara fungsi dan pejabat pemerintah perlu ditingkatkan, baik antara pemerintah pusat dan daerah, antarkementerian dan lembaga (K/L), maupun koordinasi yang terkait dengan tim gugus tugas penanganan Covid.

Saat ini program-program stimulus cenderung hanya fokus ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sedangkan perusahaan-perusahaan besar (korporasi) relatif kurang mendapatkan perhatian.

“Dapat dibayangkan jika stimulus tidak merata dan tidak dapat menyentuh semua pelaku usaha, maka akan banyak usaha yang kolaps dan dampaknya akan meluas. Karyawan akan dirumahkan dan ribuan UMKM yang menggantungkan usahanya kepada korporasi juga akan mengalami hal yang sama,” papar dia.

Anindya mengungkapkan, industri di dalam negeri saat ini cenderung menunda investasi dan mengurangi produksi. Perlu ada stimulan yang bersifat lebih permanen untuk membantu industri nasional, terutama dalam meningkatkan daya saingnya. “Ini satu-satunya jalan agar industri kita bisa terus eksis dan tetap kompetitif,” tegas dia.

Dia mengakui, relaksasi pajak berdampak positif. Namun, efektivitas stimulus fiskal dan nonfiskal akan lebih terasa jika dilakukan secara konsisten dan beriringan dengan penanggulangan pandemi. Pemerintah juga harus menyiapkan masa new normal dengan baik.

“Saya kira, setelah pandemi berakhir, keadaan tidak akan kembali seperti sebelumnya. Maka new normal merupakan kenyataan yang harus dipahami secara serius, sebab itulah dunia baru kita bersama. Semua tatanan masyarakat dunia akan disesuaikan dengan berbagai protokol penanganan Covid-19,” ucap Anindya.***

Baca juga: Harus Siap Berdampingan dengan Covid

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN