Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Direktur PT Bakrie Autoparts, Dino Ahmad Ryandi.

Presiden Direktur PT Bakrie Autoparts, Dino Ahmad Ryandi.

Karena Mobil Listrik adalah Keniscayaan Masa Depan

Jumat, 23 Oktober 2020 | 14:30 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

Penggunaan kendaraan listrik secara masif tak terelakkan pada masa mendatang. Sudah sampai di mana posisi Indonesia?

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal tahun telah memorakporandakan seluruh lini kehidupan. Dari sisi ekonomi, banyak orang di seluruh dunia kehilangan pekerjaan, gulung tikar, atau terombang-ambing nasibnya akibat pandemi. Resesi pun dirasakan oleh hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

Perekonomian Indonesia pada kuartal III-2020 dipastikan masuk fase resesi, dengan perkiraan terkontraksi atau minus 2,9% hingga minus 1,1% setelah pada kuartal II terkontraksi 5,32% dan hanya tumbuh 2,97% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini diperkirakan minus 1,7% hingga minus 0,6%.

Resesi juga tampak dari penjualan kendaraan bermotor. Gabungan Industri Kendaran Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperkirakan penjualan mobil hanya akan mencapai 600 ribu unit pada 2020 atau terkontraksi sekitar 40% dibandingkan 2019 yang mencapai 1,03 juta unit.

Sepanjang Januari-Agustus 2020, penjualan wholesales hanya mencapai 323.507 unit, turun 51,3% dibandingkan periode sama tahun silam. Beberapa pabrikan kendaraan juga sempat menghentikan produksi, termasuk pabrikan kendaraan niaga (commercial vehicle), seperti Hino, Isuzu, dan Fuso. Akibatnya, kinerja perusahaan penyedia komponen kendaraan jenis ini, seperti PT Bakrie Autoparts, juga turut menurun.

Shifting ke Komponen

Presiden Direktur PT Bakrie Autoparts, Dino Ahmad Ryandi mengungkapkan, puncak penurunan produksi perusahaan terjadi pada Mei 2020. Saat itu, produksi Bakrie Autoparts hanya mencapai 5% dari kapasitas terpasang pabrik.

Kondisinya perlahan membaik. Terdorong penerapan new normal atau relaksasi Pembatasan Sosisal Berskala Besar (PSBB), produksi kini meningkat menjadi 40%. Sebanyak 80-90% produksi Bakrie Autoparts diperuntukkan bagi commercial vehicle. Untuk menutupi penurunan penjualan selama pandemi, perusahaan pun melakukan shifting produksi ke komponen aftermarket kendaraan.

Menurut Dino, meski tidak membeli kendaraan baru, konsumen di masa pandemi akan tetap membutuhkan suku cadang bagi kendaraan mereka. "Rencana ekspansi, rencana peremajaan peralatan, juga tertunda akibat pandemi. Karena produksi tidak full, income perusahaan menurun. Jadi, kami tidak bisa melakukan investasi jangka panjang sesuai rencana," tutur Dino kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (13/10).

Pandemi juga membuat Bakrie Autoparts menunda komersialisasi bus listrik, yang semula direncanakan bertepatan dengan penyelenggaraan ajang Formula E di Jakarta. Ajang tersebut mewajibkan transportasi umum digerakkan oleh listrik.

PT Bakrie Autoparts telah memulai studi terkait kendaraan listrik sejak 2011. Perusahaan itu memandang penggunaan kendaraan listrik tidak akan terelakkan pada masa mendatang. Apabila tetap bertahan sebagai penyedia komponen kendaraan mesin pembakaran dalam (internal combustion engine/ICE) yang berbahan bakar minyak dan gas, perusahaan bisa kehilangan omzet sampai 50%.

"Suatu saat nanti saat mereka (kendaraan ICE) akan digantikan oleh kendaraan listrik. Maka omzet kami pasti berkurang, mungkin setengahnya. Karena setengah dari komponen itu untuk power transmission, untuk engine, transmisi. Tapi komponen itu tidak dibutuhkan lagi saat orang-orang beralih menggunakan kendaraan listrik," kata Dino.

Pengembangan kendaraan listrik juga sesuai dengan arah pembangunan global yang berusaha mengurangi emisi karbon. Hal ini dilakukan supaya temperatur bumi tidak meningkat lebih dari 2 derajat celcius. Dengan demikian, mobil listrik adalah keniscayaan masa depan.

Segmen Bus Umum

Setelah memutuskan untuk terjun menjadi pemain pada bisnis kendaraan listrik, PT Bakrie Autoparts kemudian membidik segmen bus umum. Volume kendaraaan umum memang hanya mencapai 2% dari total kendaraan bermotor di Indonesia yang sebanyak 100 juta. Tetapi kendaraan ini merupakan salah satu penyumbang polusi utama di kota-kota besar di Tanah Air.

Karena itu, dalam Persetujuan Paris (Paris Agreement), sampai 2025 mendatang Indonesia berkomitmen menggerakkan 23% kendaraan umum dengan tenaga listrik. Saat ini, kendaraan umum yang telah menggunakan energi listrik baru mencapai 8%. Dengan komitmen tersebut, pasar kendaraan umum berupa bus listrik masih menjanjikan bagi PT Bakrie Autoparts.

"Jadi, sekitar tahun 2017, kami mulai mencari mitra untuk pengadaan bus listrik. Kami melihat mitra yang paling cocok adalah BYD, karena banyak hal, terutama karena mereka satu-satunya produsen kendaraan listrik di dunia yang membuat komponen utamanya sendiri. Juga simply karena sampai sekarang mereka adalah perusahaan kendaraan listrik terbesar di dunia," papar Dino.

Dino Ryandi menjelaskan, kendaraan listrik BYD sudah digunakan masyarakat di 55 negara di dunia. Apalagi BYD juga berasal dari Tiongkok, yang merupakan kiblat pengembangan kendaraan listrik dunia.

Bagi Dino, pengembangan industri kendaraan listrik Indonesia saat ini telah jauh lebih baik sejak Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) diterbitkan. Setelah Perpres tersebut dirilis, peraturan turunan dari berbagai kementerian dan lembaga (K/L) pun bermunculan. Hal ini makin memudahkan Bakrie Autoparts mengembangkan bisnis mereka.

Sampai saat ini, PT Bakrie Autoparts sudah mengimpor dua unit bus listrik dalam bentuk utuh tak terurai (completely built up/CBU) dan satu sasis bus listrik produksi BYD. Kedua bus listrik bertipe K9 dan C6 itu telah diujicoba oleh TransJakarta pada Juli-September 2020. Hasilnya, pihak TransJakarta tidak menemukan kendala teknis berarti selama uji coba.

"Bus ketiga kami impor sasisnya, karoserinya akan dibuat oleh produsen lokal. Bus model seperti ini yang rencananya kami berikan kepada pelanggan kami selanjutnya, seperti TransJakarta. Dengan begini, kami telah memenuhi ketentuan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk bus listrik yang setidaknya 35%," ucap Dino.

Dengan hasil yang meyakinkan itu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta berencana membeli bus listrik dari PT Bakrie Autoparts mulai kuartal I-2021. Rencana tersebut sebetulnya mundur dari target semula tahun ini. Namun, Dino memahami saat ini pemerintah tengah fokus menanggulangi pandemi Covid-19 sehingga anggaran pun dialokasikan ke sana.

Dino mengatakan, bus listrik sebetulnya mudah digunakan. Lazimnya ponsel, bus listrik yang dibeli konsumen telah memiliki pengisi daya (charger) yang dapat digunakan untuk mengisi daya listrik bus yang habis.

Selanjutnya, pemangku kebijakan lain, khususnya PT PLN (Persero), mesti memastikan pasokan listrik yang dibutuhkan benar-benar mencukupi. "Untungnya, PLN juga memberikan komitmen dari awal bahwa mereka akan selalu akan membantu usaha ini," ujar Dino. ***

Lihat juga: Semua Punya Peran yang Sama Besar

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN