Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Andree Susanto, Co-founder dan  CEO Waresix. (foto ist)

Andree Susanto, Co-founder dan CEO Waresix. (foto ist)

ANDREE SUSANTO, CO-FOUNDER DAN CEO WARESIX

Kepercayaan Ada Batasnya

Senin, 1 Maret 2021 | 08:00 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

Tak diragukan lagi, kepercayaan adalah modal yang amat berharga bagi seorang chief executive officer (CEO), baik kepercayaan dari konsumen, investor, pemegan saham, regulator, maupun kepercayaan dari bawahan.

Kepercayaan harus bersifat timbal balik. Selain membutuhkan kepercayaan dari orang-orang sekelilingnya, seorang CEO juga mesti mempercayai mereka.

Andree Susanto, Co-founder dan CEO Waresix, platform teknologi layanan logistik, truk pengangkut barang, dan pengelolaan gudang untuk perusahaan-perusahaan di Indonesia, sadar betul mengenai hal itu.

Bagi Andree, tanpa kepercayaan dari konsumen, investor, maupun dari rekan satu tim, mustahil ia dapat menjalankan bisnis Waresix dengan baik.

Eksekutif kelahiran Jakarta, Maret 1988, ini juga maklum bahwa selain mesti dipercaya oleh orang-orang sekelilingnya, dia juga harus mempercayai mereka. "Saya percaya trust is a very expensive gift," kata Andree Susanto kepada wartawati Investor Daily, Sanya Dinda di Jakarta, baru-baru ini.

Meski begitu, Andree menganggap kepercayaan ada batasnya. Itu sebabnya, dia selalu menyempatkan diri mengecek kembali pekerjaan orang-orang di sekelilingnya. Akan tetapi, dia memastikan, kepercayaan tetap hal terpenting dalam bisnis logistik.

Andree Susanto semula menggarap bisnis distribusi pelumas setelah lulus kuliah di University of California, Barkeley, Amerika Serikat (AS). Saat itu, dia menyadari betapa rumitnya proses distribusi barang di Indonesia. Akhirnya, Andree mendirikan Waresix, platform distribusi barang dengan pemanfaatan teknologi informasi agas proses bisnis bisa lebih efisien.

Bagaimana Andree Susanto membangun Waresix dari nol hingga kini mampu menjangkau 200 kota di Indonesia, menawarkan 40 ribu truk, 375 gudang? Apa saja kiat bisnisnya? Berikut petikan lengkap wawancara dengan entrepreneur muda tersebut:

Bisa cerita perjalanan karier Anda hingga mendirikan Waresix?

Setelah lulus kuliah dari University of California, Barkeley, sebagai sarjana sains bidang teknik kimia, saya bekerja sebagai  engineer di Chevron Corporation, perusahaan minyak dan gas di AS.

Setelah itu, saya kembali ke Indonesia dan merintis bisnis distribusi pelumas. Saya menjual pelumas untuk truk dan kendaraan bermotor lain. Saat itu memang saya menawarkan ke semua trucking company, baik yang tradisional maupun business to business channel. Dari situ saya menjadi familiar dengan industri logistik dan distribusi. 

Saya juga mendapat ide awal mendirikan Waresix dari pengalaman tersebut. Saat itu, saya melihat distribusi barang di Indonesia ini sulit. Apalagi, kita mesti melakukan distribusi ke semua remote area, bukan hanya di Pulau Jawa. Kita mesti bergerak, bekerja sama dengan logistic company lain. Saya tidak mungkin memiliki semua gudang dan truk karena bisnis saya berfokus di distribusi saja.

Dari situ, saya mengenal  transportationer atau trucking company. Saya juga mulai melihat ada kesempatan di business to business logistic, di mana saya bisa melakukan distribusi yang lebih efisien. Karena itu, saat saya bertemu lagi dengan co-founder Waresix, kami mencari cara untuk membuat sistem yang lebih efisien bagi business to business logistic. Di situ muncul ide untuk mendirikan Waresix.

Setelah kuliah, mengapa Anda memilih kembali ke Indonesia?

Saat lulus kuiah pada 2010-2011, saya melihat Indonesia memiliki potensi untuk bertumbuh, terutama di dunia digital. Pada tahun itu, Tokopedia, Gojek, dan start-up lain mulai muncul. Saya melihat teknologi atau business process yang sudah cukup maju di AS dan Tiongkok bisa diterapkan di Indonesia. Saya melihat ini sebagai opportunity. 

Saat itu, adopsi smartphone masyarakat Indonesia masih rendah, tetapi populasi Indonesia cukup besar. Saya melihat setiap negara yang memiliki populasi besar, memiliki opportunity yang sangat baik untuk bertumbuh, baik untuk konsumsi domestik maupun untuk membuat barang yang diekspor.

Jadi, saya melihat ini sebagai kesempatan yang baik untuk kembali ke Indonesia dan memberikan sesuatu, menciptakan sesuatu, untuk lebih mengefisiensikan logistik dengan teknologi, juga berinovasi di beberapa industri di Indonesia. 

Tantangan terbesar yang Anda hadapi?

Tantangan selalu ada. Salah satunya adalah cara manage multiple stakeholders, baik saat saya bekerja sebagai profesional maupun saat saya menjadi pengusaha. Hanya saja, stakeholders yang saya hadapi berbeda. 

Saat bekerja dulu, saya menghadapi stakeholder seperti bos atau manajer saya. Saat menjadi entrepreneur, saya mesti menghadapi stakeholder yang lebih banyak dan beragam, dari investor, top management, hingga co-founder. Saya juga harus mengatur komunikasi dengan pegawai dan stakeholder eksternal, seperti customer, vendor, dan pihak lain.  

Penyampaian persepsi dan komunikasi itu penting. Biasanya permasalahan itu muncul karena terdapat gap antara harapan atau kemauan dan kemampuan. Maka sangat penting untuk menjadi transparan dan me-manage ekspektasi itu.

Pernahkah Anda mengalami kegagalan dan bagaimana menghadapinya?

Kalau kegagalan pasti banyak. Saya banyak melakukan trial and error sebagai entrepreneur. Tim saya juga banyak melakukan kesalahan yang fatal. Tapi, menurut saya, yang paling penting, bagaimana kita bisa belajar dari kegagalan itu agar menjadi lebih baik. Saya tidak mungkin sendirian mengatur organisasi. Saya mesti membangun budaya kerja dan cara berpikir yang sejalan dengan semua anggota tim di organisasi saya. Untuk itu diperlukan trust atau kepercayaan. 

Nilai-nilai kepercayaan seperti apa yang Anda terapkan?

Sekali saya memberi kepercayaan, lalu kepercayaan itu disalahgunakan, ini menjadi masalah bagi saya. Namun, itu menjadi pengingat bagi saya untuk selalu mengecek dan memverifikasi orang-orang di sekitar saya. Sebab, saat saya mengobrol cepat dengan mereka, terkadang saya mempercayai saja, saya memberikan semua hal begitu saja.  Padahal, kepercayaan ada batasnya. Jadi, itu yang menurut saya lesson learned.

Gaya kepemimpinan Anda?

Saya tipe pemimpin yang lebih ke result oriented. Industri teknologi logistik itu unik, tidak seperti di sektor lain yang lebih white collar dan lebih kreatif. Di sektor logistik, kita mesti melakukan kombinasi, antara bagian operasional yang disiplin dan bagian kreatif. Untuk mencampur dua tipe ini, di mana yang satu berkultur disiplin, satu lagi kreatif, yang penting saya lihat adalah hasil kerja mereka. 

Bagi saya, yang penting proses kerja mereka benar dan ada hasilnya. Proses harus benar supaya tidak repot memperbaiki hasil di akhir. Selepas itu, saya cukup fleksibel bagaimana orang-orang mengatur tim mereka.

Filosofi hidup Anda?

Saya percaya trust is a very expensive gift. Menurut saya, trust itu yang membuat investor mendukung kita, customer menggunakan jasa kita, dan early employee mau join to go on board with our vision and mission. Saya mesti menjaga kepercayaan itu.

Saat orang-orang mempercayai kita, dan sebaliknya kita mempercayai orang-orang, barulah kita bisa bergerak bersama dengan less control walaupun untuk memberikan liberty dan freedom itu sangat menantang di Indonesia. Nah, ini yang saya coba seimbangkan.

Tantangan utama di Indonesia?

Mungkin dari segi budaya juga, karena kita pada dasarnya lebih ke gotong royong. Ini kan kurang mandiri. Padahal, dalam hal-hal tertentu, penting untuk membuat keputusan-keputusan yang mandiri dan berani mengambil pekerjaan yang berat, juga melaksanakan tugas. Industri teknologi di Indonesia kan baru muncul lima tahun belakangan ini. Lebih baru dibandingkan industri lain. Kultur di dunia industri kreatif dan teknologi sangat berbeda dengan industri tradisional. Juga ada generation gap. Kita mesti kelola ini semua.

Apa yang memotivasi Anda saat bekerja?

Bagaimana kita bisa membangun sebuah platform atau produk yang bisa memberikan pengaruh ke Indonesia. Logistik Indonesia masih kurang efisien. Saya ingin membangun platform logistik yang akan menjadi mesin pertumbuhan baru Indonesia. Sebab, kalau dari sisi infrastruktur logistiknya tidak meningkat, tidak dibuat efisien, sangat susah untuk membuat perekonomian lebih merata. Kami mau penyebaran produk, yakni pasokan dan permintaannya seimbang, sehingga butuh logistik. Ini salah satu harapan saya juga.

Perkembangan Waresix sejak berdiri?

Saat pertama didirikan, karyawan Waresix hanya sekitar enam orang. Kami juga hanya berfokus bagaimana mengagregat gudang untuk distribusi. Setelah itu, kami berkembang cukup cepat di segmen trucking dan transportation. Sampai akhirnya tahun lalu kami melakukan aksi korporasi. Kami mengakuisisi Trukita, perusahaan yang bergerak di bidang kontainer dari pelabuhan ke gudang, demikian sebaliknya. Ini lebih ke first miles. Itu dilakukan untuk melengkapi penawaran kami ke pelanggan.

Kekuatan Waresix?

Perusahaan teknologi logistik memiliki banyak spektrum. Ada yang menjalankan bisnis di pengantaran last mile, yaitu mengirimkan barang ke konsumer, seperti dari e-commerce dan lain-lain. Ada juga yang bermain di bisnis pengantaran. Kalau Waresix tidak hanya trucking, sedangkan kebanyakan pemain logistik hanya trucking marketplace atau connecting antara satu poin dan yang lain.

Waresix menawarkan nilai unik, yakni memberikan pelayanan logistik terintegrasi. Kami bukan cuma menghubungkan antara pemilik barang atau pengguna jasa dan penyedia jasa, tetapi juga membantu, dalam arti memberikan efisiensi secara keseluruhan. Kami memiliki value chain, di mana kami punya gudang dan menyediakan multimoda transportasi.

Multimoda artinya pengiriman antarpulau. Kami memberikan solusi layanan logistik terintegrasi plus dukungan jasa keuangan terintegrasi yang membantu ekosistem lebih bagus dan transparan. Layanan ini di Indonesia tidak terlalu banyak, kami salah satunya.

Penetrasi Waresix di Indonesia?

Kami sudah menjangkau 200 kota lebih dan akan terus bertambah. Masih banyak yang mesti kami  cover. Kami membagi dari provinsi, sehingga menghubungkan antara satu provinsi dan provinsi lain.  Setelah itu kabupaten dan kotamadya. Di Papua belum ada. Di Sulawesi dan Kalimantan baru sebagian. Di Sumatera, Jawa, dan Bali sudah ada semua.

Kami sekarang fokus sampai ke kabupaten atau kotamadya, karena kebanyakan barang yang kami kirim berjumlah besar untuk keperluan bisnis. Kami belum melayani pengiriman ke konsumen sampai tingkat RT atau RW. Namun, saya melihat solusi yang akan kami tawarkan ke depan pasti berkembang.

Ada kendala selama pandemi Covid-19?

Ada beberapa gudang berhenti, karena karyawan kena Covid-19, sehingga volume di gudang turun, sehingga berdampak ke stabilitas trafik supply dan demand. Tetapi, kalau dari sisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sejauh ini logistik masih terus didukung, karena sektor penting. Kami masih jalan terus, kecuali ada force majeure, seperti gempa, banjir, seperti kemarin yang membuat kendaraan tak bisa lewat.  

Platform Waresix melayani sektor apa saja?

Kami melayani banyak sektor, mulai manufaktur, FMCG (fast moving consumer goods), komoditas, infrastruktur, telekomunikasi, dan ritel. Misalnya kami mengirim barang dari Jawa ke Sumatera, mungkin berupa elektronik atau FMCG. Pulangnya ambil buah, hasil bumi, atau apa pun. Di Bali juga seperti itu, mengirim barangnya barang jadi, pulangnya pakan ternak, jagung. Selama truk dan barangnya cocok, kami kerjakan.

Bagaimana Anda melihat pasar Indonesia ke depan?

Kami melihat populasi Indonesia akan membantu perkembangan bisnis Waresix. Sebab, Waresix melayani populasi mengirimkan barang. Selain itu, kami melihat hasil yang diproduksi di lokasi masing-masing, seperti barang industri, hasil bumi, dan lain-lain, yang bakal terus berkembang.

Kami juga akan terus membangun infrastruktur dan koridor di masing-masing pulau. Ke depan, kami pasti akan terus berkembang. Saat ini, perkembangan tidak bisa terlalu agresif karena ada pandemi. Namun, sekarang sudah ada kabar baik, yakni vaksinasi. Kami menatap ke depan untuk bergerak lebih cepat dan agresif.

Siapa tokoh yang menginspirasi Anda?

Banyak, tetapi yang saya lumayan kagumi adalah Jeff Bezos, pendiri Amazon. Sebab, ia sangat berorientasi ke konsumen. Menurut saya, masalah muncul dari pelanggan. Jadi, kalau bisa menyelesaikan masalah pelanggan, kita bisa menghasilkan nilai bisnis yang akan membuat kita bertahan di pasar. ****

Andree Susanto, Co-founder dan  CEO Waresix. (foto ist)
Andree Susanto, Co-founder dan CEO Waresix. (foto ist)

Joging  dan Membaca

Di sela kesibukannya, Andree Susanto selalu menyempatkan diri membaca buku. Dia juga rajin berolahraga, terutama joging. Alasannya, aktivitas yang satu ini cukup efektif menghilangkan penat usai bekerja.

Di samping itu, Andree mengaku senang berkumpul dengan rekan kerjanya, terutama dengan direksi dan pendiri Waresix lainnya. Sebab, dia ingin turut membangun hubungan personal dengan rekan satu timnya.

"Jadi, kalau saya menegur anggota tim di kantor, setelah itu ya sudah, tidak dibawa pulang dan tidak djadikan masalah," ucap Andree. (sny)


Biodata

Nama: Andree Susanto.

Jabatan: Co-founder dan CEO Waresix.

Tempat /tanggal lahir: Jakarta, Maret 1988.

Pendidikan: University of California, Barkeley (AS).

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN